"LO KENAPA TIBA-TIBA GINI SIH, HWI?!"
Hwi menatap satu persatu dari mereka, terutama Hyunsoo yang baru saja berteriak padanya.
Tak lama gelak tawa memenuhi ruangan itu, dan pelakunya adalah Hwi dan Taehun.
Kyungjun, Hyunsoo, Junhyeok dan Sungjun menatap keduanya aneh.
"Anjir, lo pada percaya?" tanya Hwi yang masih belum bisa menghentikan gelak tawanya.
"Gue acungin jempol buat sandiwara lo, Hwi," kara Taehun bangga.
"Lah, cuma sandiwara?" tanya Sungjun, dirinya masih belum mengerti.
"Becandanya gak asik anjim," umpat Kyungjun.
"Ngapain sandiwara kaya gitu sih, kalian berdua?"
Hwi jongkok dan mengambil sesuatu yang baru saja ia injak.
"Udah gak berfungsi," ujarnya seraya memperlihatkan sesuatu yang ia angkat menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.
"Kamera?" tanya Junhyeok.
Hwi mengangguk. "Ini alasan gue bentak bang Tae dan nyoba ngehalangin Junhyeok buat cerita, ada yang lagi ngawasin kita. Maaf ya Bang, gue ngebentak lo kaya gak ada beban, padahal dalem hati takut durhaka."
"Santai, Hwi. Lagi pula yang lo omongin tadi bener kok," jawab Taehun.
"Enak aja, kata siapa salah lo?" sahut Hyunsoo. "Sini yang ngomong, biar gue sumpel mulutnya pake duit!"
"Bang, beneran tadi gue cuma spontan aja ngomong gitu, gue-"
"Gue tau, Hwi," sela Taehun cepat.
"Udah deh, jangan ngebahas itu. Sekarang beresin pecahan vas bunga dulu, Hwi lo yang jatuhin jadi lo juga yang beresin," Kata Kyungjun.
"Ogah."
"Nurut aja, ini juga ide lo," ucap Taehun.
Hwi menghela nafasnya dan berakhir menuruti apa yang teman-temannya katakan.
"Lo masih mau nyalahin diri sendiri, Hun?"
Taehun diam, mulutnya seakan tidak bisa menjawab apa yang Kyungjun tanyakan, meski hatinya berkata iya.
"Gue tau kok, lo tetep kekeuh nyalahin diri lo sendiri. Tapi apa lo sadar kalau aja diri lo di masa lalu gak punya keinginan buat hidup lagi. Gue, kita semua gak akan punya kesempatan buat bales si pelaku itu," ucap Kyungjun lagi.
"Iya, Bang. Apa yang di bilang Kak Kyungjun itu bener. Dan seharusnya kami berterima kasih sama lo yang sekarang dan lo di masa lalu. Jadi gue mohon stop nyalahin diri lo sendiri," imbuh Sungjun.
"Tulisan itu juga gak bakal ke kabul, kalau gak ada persetujuan dan do'a dari semuanya," Junhyeok ikut menimpali.
Taehun mengangguk. "Iya, gue gak akan nyalahin Taehun di masa lalu untuk hal ini."
"Oke, udah kelar kan? Sekarang nih, pertanyaan gue siapa yang udah naro kamera di ruang inap lo, Hun?" tanya Hyunsoo.
"Gue juga gak tahu," jawab Taehun.
"Sadarnya dari kapan?"
"Pas Hwi masuk, gue baru sadar."
"Kemungkinan besar yang taruh kamera itu tau dong apa aja yang kita obrolin dari tadi?" tanya Junhyeok.
"Bukan mungkin lagi kali, Hyok," jawab Hwi yang sudah selesai membersihkan kekacauan kecil yang ia buat.
"Lo juga kapan sadarnya? Kok gak ngasih tahu dari awal."
"Pas Sungjun narik gue buat duduk, di situ gue sadar dan nyoba ngehalangin Junhyeok, tapi Bang Tae nyuruh gue diem," jelas Hwi.
"Lo tahu Bang Tae sadar kalau ada kamera?" Sungjun ikut bertanya.
"Tau lah, dia ngasih kode tapi gak ada yang sadar."
"Satu lagi Hwi yang gue masih kurang paham sama tujuan lo, kenapa mesti ada sandiwara?"
"Gue sengaja bentak Bang Tae biar seolah-olah kita ini lagi gak baik-baik aja di hadapan dia. Sebelum gue injek juga tuh kamera gue banting vas nya biar dia ngira kalau kameranya mati gara-gara kelempar sama gue."
Tepukan tangan terdengar ketika Hwi selesai menjelaskan maksud dari kelakuannya tadi, dan pelakunya adalah Sungjun dan Kyungjun.
"Gak nyangka gue, lo se jenius itu," ucap Sungjun.
"Lah, baru sadar lo? Kemana aja lo selama ini? Gue kan siswa paling jenius di sekolah."
"Nyesel gue muji lo."
"Sebelum yang tadi gue juga udah main sandiwara yang lain kali, Jun."
🕸🕸🕸
Hari semakin sore, dan keempatnya memutuskan untuk pulang kecuali Junhyeok. Laki-laki itu benar-benar memutuskan untuk menginap di ruangan Taehun.
Mereka berjalan santai di lorong rumah sakit, tidak ada yang membuat mereka tidak nyaman sebelum ada seorang perawat yang terburu-buru dan menabrak Kyungjun dengan wajah kaget.
"Maaf, saya buru-buru," ucap si perawat.
"K-kyungjun?" Perawat itu membulatkan matanya ketika melihat wajah sosok yang ia tabrak. "K-kalian?"
Kyungjun menaikan satu alisnya. "Kenapa dia tahu nama gue?"
"Jun, ayo!"
Ucapan Hyunsoo menyadarkan Kyungjun. "Lain kali hati-hati," ucapnya lalu menyusul teman-temannya yang lain.
"Lo kenal sama perawat tadi, Kak?" tanya Sungjun.
Kyungjun menggeleng. "Nggak, gue aja baru liat."
"Ini dari kita berempat gak ada yang kenal dia gitu? Tatapan dia beda banget pas liat kita, dan itu bikin gue kurang nyaman," ucap Hwi.
"Nggak ada, Hwi. Gue juga ngerasa kalau tatapan kaget dia itu agak aneh dan emang bikin gue gak nyaman juga," jawab Hyunsoo.
"Udahlah jangan dipikirin, mungkin kenalan bonyok gue makanya tahu nama gue," kata Kyungjun.
"Gak yakin sih."
"Kalau dia kenal sama kita di masa lalu gimana? Dia bisa bantu kita nyari informasi dan-"
"Udah Co, udah. Ngedramatisirnya nanti aja di asrama, jangan malu-maluin lo. Ini kehidupan nyata, bukan sinetron," ucap Kyungjun.
"Tapi yang di ucapin Bang Unco itu bisa aja bener loh, Kak."
Nasib gak suka bikin draf, kalau mau up mesti ngebut dulu😭 ada typo tandain ya!
Ayo stan The New Six🏁
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasíaTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
