EMPAT PULUH LIMA

39 6 8
                                        

Mata mereka kini tertuju pada selembar kertas yang isinya berbeda dari sembilan kertas lainnya.

Di sana tertulis nama mereka bersama beberapa tempat di sekolah.

Tok tok tok.

"Biar gue aja," ucap Taehun lalu bangkit untuk membukakan pintu.

Taehun tersenyum hangat kala melihat Jina berada di hadapannya. "Masuk, Kak."

Jina membalas senyuman Taehun lalu melangkahkan kakinya masuk. Jina sempat heran dengan raut orang-orang yang berada di ruangan itu, mereka terlihat kebingungan.

"Kak Jina udah selesai tugas?" Pertanyaan itu datang dari Hwi.

"Iya, sebelum pulang Kakak nyempetin jenguk kamu dulu," ucap Jina seraya menaruh beberapa jenis buah yang ia bawa. "Gimana keadaan kamu?"

"Udah lebih baik, Kak. Makasih ya, Kak."

Jina mengangguk sebagai jawaban lalu matanya beralih melihat yang lainnya. "Kalian lagi ngapain kayanya serius banget?"

"Kita lagi nyoba nyari tahu maksud dari tulisan di kertas ini, Kak," jawab Sungjun, ia juga mengerahkan kertas yang sejak tadi memunculkan banyak dugaan di benak mereka.

Setelah melihat tulisan di kertas itu, Jina menutup mulutnya seketika. Hal itu membuat Sungjun dan yang lainnya dibuat semakin penasaran.

"Kalian dapetin ini dari mana?" tanya Jina.

"Junhyeok lupa, Kak. Tapi apa Kak Jina tahu maksud dari tempat-tempat itu?"

Jina ikut duduk di antara mereka. "Tempat-tempat ini ... Tempat berakhirnya hidup kalian dulu."

Deg!

Mereka sangat terkejut mendengar ucapan Jina.

"Jadi kita semua bukan korban dari kebakaran tahun itu?" tanya Kyungjun.

Jina mengangguk. "Taehun sungjun, kebakaran waktu itu, Kyungjun perpustakaan, Hyunsoo gudang, Junhyeok tangga dan Hwi belakang sekolah." Jina mengucapkan itu dengan bibir yang bergetar.

Semuanya terlalu mengejutkan, mereka sampai tidak bisa berkata-kata.

"Kami udah tahu pelakunya, Kak," ujar Junhyeok.

"Siapa?"

"Ayah Jia, Seo Daeyoon."

Jina menatap Junhyeok tak percaya. "Kalian gak bisa asal tuduh kaya gini. Kalian ada bukti?"

Semuanya menggeleng. Memang, mereka belum mempunyai bukti apapun, tapi pengakuan dari dua orang sekaligus sudah cukup untuk menaruh sedikit rasa percaya.

"Kami emang gak ada bukti, tapi pengakuan dari Jia sama Lee Youngjae udah cukup buat kami percaya. Lee Youngjae mungkin bisa aja bohong, tapi kalau Jia, rasanya dia gak mungkin bohong," jawab Taehun.

"Jia bilang, dia denger sendiri percakapan ayahnya," imbuh Sungjun.

Jina terdiam mendengar jawaban dari Taehun juga Sungjun, ia merasa deja vu. "Ternyata, ucapan kalian waktu itu bener Hun, Jun ..." lirih Jina.

"Yang udah bunuh mereka itu Daeyoon."

"Cukup Choi Taehun! Jangan asal tuduh!"

"Kami gak asal tuduh! Kami liat sendiri gimana Daeyoon dorong Junhyeok dari tangga."

"Kalian gak ada bukti, gimana kami mau percaya?"

"Minsoo, Jina, Hyuna, tolong percaya sama kami berdua."

"Daeyoon itu baik, dia gak mungkin bunuh mereka! Selama ini yang benci kalian itu cuma Youngjae, mungkin kalau kalian berdua sebutin nama dia kami akan percaya. Tapi ini Daeyoon, Seo Daeyoon!"

"Dia udah bantu kalian dan panti asuhan yang kalian tempati, tapi balasan kalian malah fitnah dia?! Kami kecewa sama kalian berdua."

Tanpa sadar air mata Jina menetes, tangannya meremas rambutnya sendiri. Jina sangat menyesal tidak percaya dengan ucapan Taehun juga Sungjun saat itu.

"Kak ..."

Jina menatap Taehun yang memanggilnya. Mata itu, Jina benar-benar merasa deja vu.

"Dulu Taehun dan Sungjun juga bilang hal yang sama, kalau pelakunya Seo Daeyoon. Tapi satu pun gak ada yang percaya karena saat itu Daeyoon cukup dikenal karena kebaikannya dan kami malah menuduh Youngjae karena dialah yang membenci kalian di masa itu," jelas Jina.

"Masih banyak hal yang kalian gak tahu tentang kalian di masa lalu. Salah satunya, dulu kalian di besarin di panti asuhan. Itu sebabnya gak ada yang maksa lanjutin kasus kalian," lanjutnya.

Taehun tersenyum hambar setelah mendengar pertanyaan Jina. Ia ingat, berita waktu itu, panti asuhan Kasih Ibu. "Ternyata itu sebabnya aku di masa lalu nulis kalimat kaya gitu."

"Kalimat kaya gimana?"

"Jika ada kesempatan untuk hidup kembali, kita harus lahir di keluarga yang derajatnya tinggi." Bukan Taehun, melainkan Hyunsoo. "Itu emang terkabul. Derajat yang tinggi, tapi kebahagiaan yang rendah."

Hening, tidak ada yang bersuara setelahnya. Bahkan Jina, ia terlarut dalam pikirannya.

"Kalian sadar gak sih? Kalau tempat-tempat ini adalah tempat yang kita takuti selama ini," ucap Kyungjun di tengah keheningan itu.

"Maksud lo, Kak?" tanya Hwi, laki-laki itu sejak awal selalu mendengarkan apa yang orang-orang di sekitarnya ucapkan.

"Kalian tahu sendiri kalau gue takut ke perpustakaan sendirian, Hyunsoo juga pas kita ke gudang waktu itu takut kan, Soo?"

Hyunsoo yang ditanya tersenyum malu. "Ya ... Siapa yang gak takut sama ruangan yang udah sumpek, berantakan, berdebu, gelap lagi."

"Ada benernya sih apa kata lo, Kak. Gue juga ngerasa takut ke belakang sekolah, padahal di sana gak sepi-sepi banget ya," ucap Hwi.

"Tapi kayanya gue sama Bang Tae gak takut tuh."

"Jun, tempat kita asrama putri kalau lo lupa."

Sungjun tersenyum tak berdosa. "Maaf, Bang. Gue lupa."

"Gue rada takut naik-turun tangga gara-gara kepeleset waktu itu sih," ujar Junhyeok.

Hyunsoo memutar bola matanya malas. Teman-temannya memang pelupa. "Yang waktu itu bukan kepeleset kali, Jun. Tapi emang udah direncanain sama si Daeyoon."











Dari awal cerita aku udah kasih spoiler tipis-tipis tentang tempat berakhirnya kehidupan mereka dulu, kaya di bab 1 Hyunsoo ketakutan pas di gudang sama Kyungjun waktu Taehun ngajak masuk ke ruangan di pojok perpustakaan. Aku yakin sih gak ada yang curiga makanya di spil aja sekalian.

Stan The New Six! Btw perfom mereka di kcon saudi arabia keren banget, apalagi pas bawain lagu le sserafim.

Big Secret (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang