Kembali ke sekolah tanpa tahu si pelaku atas kejadian yang menimpanya kemarin membuat Taehun dirundung rasa khawatir. Bukan hanya khawatir atas keselamatan dirinya saja tapi juga teman-temannya.
Sebenarnya kelima teman-temannya melarang Taehun untuk pergi sekolah dan menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dulu. Tapi Taehun tetaplah Taehun, jika ia merasa sudah lebih baik maka kemmanapun ia akan tetap pergi.
"Hun."
Kim Doyoung, dia duduk di samping Taehun lalu menggeser kunci yang sudah terlebih dulu ia letakan di atas meja.
Taehun yang sadar dari lamunannya lantas menatap Doyoung sebelum akhirnya beralih pada kunci yang saat ini sudah ada di hadapannya.
"Kunci apa?" Taehun mengambilnya.
"Gudang. Gue tahu kalian mau cari lebih lanjut hal itu di gudang."
"Gudang dikunci? Bukannya nggak? Terus dari mana lo bisa dapetin ini?"
"Sebelumnya emang nggak. Tapi gak tahu kenapa sebelum sekolah kita dilakuin penyelidikan, gudang di kunci. Gue dapet kunci itu dari Haruto, dia yang ngasih ke gue," jelas Doyoung.
"Makasih, Doy."
Doyoung mengangguk sebelum akhirnya pergi karena sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai.
"Apapun demi keadilan, Hun."
Sepanjang pelajaran Taehun sama sekali tidak fokus. Pikirannya terus tertuju pada kunci, Haruto dan Doyoung. Bagaimana busa mereka mengetahui apa yang ia butuhkan.
Hyunsoo yang sadar akan tingkah Taehun, bertanya menggunakan bahasa isyarat, namun Taehun menjawabnya dengan gelengan. Hal itu tidak mereka lakukan hanya sekali, tapi berkali kali. Hingga waktu isirahat tiba Hyunsoo yang sudah dihantui rasa penasaran segera menarik kursinya mendekat ke Taehun.
"Kalau ditanya itu jawab, bukannya geleng-geleng kaya anak kecil yang gak mau makan," ucap Hyunsoo geram.
"Kalau gue jawab waktu itu juga udah pasti kita berdua sekarang ada di pojokan sambil pegang telinga terus kaki diangkat satu. Kaya gak tahu guru sejarah aja, lo!"
"Kenapa sih? Baru balik dari rumah sakit udah ada aja hal yang kalian ributin," ucap Kyungjun.
"Nih bocah, gue tanya tapi gak mau ngejawab malah geleng-geleng."
"Ya lo nanya pas pelajaran."
"Yaudah sekarang aja jawabnya."
Taehun menghela nafasnya. Melawan Hyunsoo membuat tekanan darahnya naik. Akhirnya ia mengambil kunci pemberian Doyoung yang ia simpan di laci meja lalu meletakannya di atas meja
"Kunci apaan?" tanya Kyungjun.
"Kunci kesuksesan," jawab Hyunsoo asal.
"Gue bukan nanya lo Bambang!"
"Kata Doyoung sih kunci gudang, dia juga dapetin ini dari Haruto," jelas Taehun.
"Haruto? Doyoung? Kok mereka bisa tahu kita butuhin ini? Haruto juga gimana dia bisa dapetin kunci gudang?" tanya Kyungjun bertubi-tubi.
"Ya mana gue tahu, tanya aja sama orangnya!"
"Ya, lo kan yang dikasih kuncinya sama Doyoung, harusnya lo tahu. Jangan-jangan lo gak nanya lagi?" tanya Hyunsoo.
Sesuai dugaan Hyunsoo, Taehun menjawabnya dengan gelengan.
"Kayanya lo abis dari rumah sakit pikirannya rada lemot deh."
"Anjirr lo, Co!"
"Elahh, gitu aja mau dibikin ribut. Doyoung sekelas sama kita, tanya aja nanti. Udahlah, gue mau ke kantin." Setelah mengatakan itu Kyungjun bangkit dan meninggalkan kedua temannya.
Akhirnya Taehun dan Hyunsoo juga ikut menyusul Kyungjun. Waktu istirahat tidak begitu lama, jadi mereka harus segera mengisi perut sebelum bel masuk kembali berbunyi.
🕸🕸🕸
"Udah lo kasih kuncinya?"
Doyoung mengangguk. "Udah lah. Lo sebenernya dapet kunci itu dari mana sih?"
"Rahasiaaaa," jawab Haruto.
"Tinggal jawab aja apa susahnya sih?"
"Lo lupa kalau gue punya orang dalem di sini?"
"Siapa? Jangan bilang Youngjae."
Haruto menjentikan jarinya seketika. "Itu lo tahu."
Menurut Doyoung tidak ada hal yang lebih lucu dari ini. "Lo ngejadiin dia orang dalem? Yang bener aja? Modelan dia bisa apa sih, To?"
Haruto menggaruk tengkuknya tak gatal. "Iya sih, tapi sebenernya kan dia tahu pelakunya."
"Tahu tapi gak mau ngasih tahu ya sama aja percuma."
"Ya siapa yang mau ngasih tahu kalau taruhannya keluarga?"
"Ngasih tahu apa?"
Keduanya terperanjat ketika Sungjun datang tanpa aba-aba.
"Anjirrr lo Jun, bikin kita kaget aja," ucap Haruto.
"Tahu lo, gak sopan sama yang lebih tua."Doyoung ikut menimpali.
Sungjun memutar bola matanya malas. "Nggak lo, nggak abang-abang gue sama aja. Tiap ngomong yang dibawa umur. Gue tahu kalian udah tua-"
"Durhaka lo ngatain kita tua."
Ucapan Sungjun terpotong oleh Kyungjun yang datang dan langsung menyelannya.
"Lah, ngapain lo pada ke sini? Kaya gak ada tempat duduk lain aja," kata Doyoung pada Kyungjun dan empat orang lainnya yang baru datang.
"Suka-suka kita. Meja sama kursinya bukan punya bapak lo, jadi bebas-bebas aja." Bukan Hyunsoo jika menjawab tanpa membawa sedikit keributan.
"Kenapa lo bawa-bawa bapak gue?"
Hyunsoo menggeleng. "Siapa juga yang bawa-bawa bapak lo? Berat anjirr."
Mendengar jawaban Hyunsoo membuatnya diam-diam menatap kesal, hingga ide membuat Hyunsoo kesal terlintas di otaknya.
"Emang lo pernah bawa bapak gue, Co?"
"Ya kagak lah!"
"Kok tahu kalau dia berat."
Gantian, kini Hyunsoo yang menatap Doyoung sedikit kesal. Sedang Doyoung, dia tersenyum bangga.
"Gue akui lo hebat Kak, bisa bikin Bang Unco diem kesel kaya gitu." Sungjun tepuk tangan seakan benar-bebar mengapresiasi apa yang dilakukan Doyoung.
"Udah deh udah, mending makan. Abis ini ada yang mau kita tanyain sama lo berdua," ucap Taehun pada Doyoung dan Haruto.
G
ara-gara dibikin draft dulu bab ini agak susah buat di up :(
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasiTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
