Sungjun berjalan dengan tatapan kosong. Badannya yang tinggi terlihat sangat lemas. Bagaimana tidak, ia terus saja dihantui mimpi buruk yang kembali menimpanya dari tiga hari yang lalu. Dua hari sebelumnya tidak begitu seram, tapi malam tadi Sungjun sampai tidak berani memejamkan matanya.
Dukh.
Saking mengantuknya Sungjun sampai menabrak seorang pria setengah baya yang membawa berkas hingga berkas itu jatuh berserakan.
"Aduh, Pak maaf. Saya gak sengaja." Sungjun hendak membantu mengumpulkan berkas itu tapi di cegah terlebih dahulu oleh si pemilik.
"Jam pelajaran udah di mulai, kenapa kamu masih di luar?"
"Saya dari toilet, Pak."
Seo Daeyoon tersenyum. "Ini biar saya yang bereskan, kamu segera kembali ke kelas."
Sungjun mengangguk. "Iya Pak, sekali lagi saya ucapkan maaf. Saya permisi.
Setelah Sungjun benar-benar sudah hilang dari pandangannya barulah Daeyoon memunguti berkas miliknya.
Di kertas terakhir ia kembali teringat wajah Sungjun, seketika ia tersenyum. "Sama persis."
🕸🕸🕸
"Woy Jia udah! Sakit bangke!!" Hwi terus berteriak kesakitan karena Jia dengan teganya mencubit lengan Hwi sekuat tenaga.
"Salah sendiri cepu!"
Jia sudah teramat kesal. Hal yang seharusnya menjadi rahasia dirinya sendiri terungkap dengan mudahnya oleh Hwi.
"Iya iya maaf, udah lepasih!"
Akhirnya Jia luluh lalu melepaskan cubitan mautnya.
"Gila, sakit banget tangan gue." Hwi terus mengusap lengan atasnya karena sakit.
Junhyeok dan Sungjun menahan tawanya melihat Hwi yang mengaduh kesakitan.
"Lagian lo, Ji. Masa cerita kaya gitu ke Hwi, ya cepet atau lambat pasti bocor lah," ucap Junhyeok.
"Bener kata Junhyeok, harusnya kalau mau cerita sama gue aja," sambung Sungjun.
"Sama lo malah makin cepet kebongkarnya dari pada gue."
Junhyeok tertawa renyah. "Sungjun, lo harus sadar kalau lo paling gampang keceplosan."
"Tapi gue keceplosan, bukan sengaja," ucap Sungjun membela diri.
"Jia, lo disuruh bokap lo ke ruangannya."
Keempatnya menoleh pada Jeongwoo yang datang dengan membawa tumpukan buku.
"Mau ngapain?"
"Ya mana gue tahu," jawab Jeongwoo tak acuh.
Dengan perasaan yang masih dongkol terhadap Hwi, Jia pergi dari sana menuju ruangan sang ayah.
"Woo, jamkos kan, ya?" tanya Sungjun.
"Mata lo jamkos, ini gue bawa buku banyak dipikir buat apa?"
"Santai anjir, gak usah ngegas. Mana gue ngantuk banget lagi."
"Tinggal tidur."
"Ada tugas mana bisa gue tidur." Sungjun mengambil satu buku yang baru Jeongwoo letakan di atas meja lalu pergi ke mejanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Secret (Revisi)
FantasíaTerlahir kembali, apakah hal itu memang ada? END! NO PLAGIAT⚠️ YANG PUNYA NIATAN NGE-PLAGIAT SONO MINGGAT JAUH JAUH.
