TIGA PULUH TUJUH

28 7 1
                                        

Taehun memandang Kyungjun dari kejauhan. Ia merasa bersalah pada laki-laki yang tiga bulan lebih tua darinya itu.

Benar apa yang Kyungjun ucapkan, jika Taehun merasa tidak berguna maka ia telah menyalahkan empat temannya yang lain. Helaan nafas terdengar, mau tidak mau Taehun mendekat meskipun hatinya merasa sedikit ragu.

Sesampainya di hadapan Kyungjun, Taehun menatap teman seasramanya itu yang terus duduk sambil menundukan kepala.

"Jun, maaf ... Gue gak ada maksud-"

Belum sempat Taehun menyelesaikan ucapannya, Kyungjun sudah menghentikannya dengan memeluknya. Kyungjun, laki-laki itu kembali menangis.

Hati Taehun benar-benar sakit mendengar isakan dari temannya itu. Perlahan Taehun meletakan tangannya di punggung Kyungjun, mengusapnya dan mencoba menyalurkan ketenangan meskipun dirinya sendiri tidak tenang.

"Hun, g-gue-semuanya salah gue," lirih Kyungjun di sela isak tangisnya.

Taehun jelas-jelas menggeleng. "Nggak, Jun. Nggak ada yang salah di sini. Mau gue, lo ataupun yang lainnya."

Kyungjun melepaskan pelukannya lalu duduk kembali. "Lo bisa bilang kaya gitu karena lo gak tahu kejadiannya, Hun."

Taehun ikut duduk di samping Kyungjun. Jujur, sejak awal ia sangat ingin tahu bagaimana bisa ini semua terjadi.

"Kalau gitu ceritain-"

"Gue ngebiarin Hwi pergi sendiri," sela Junhyeok yang baru saja datang. Ia ikut duduk di sebelah Kyungjun. "Kak, bener apa yang Bang Tae bilang. Gak ada yang salah di sini, kalaupun ada orangnya itu gue. Gue yang ngebiarin Hwi pergi sendiri, padahal dia udah minta buat  ditemenin, tapi saat itu gue gak bisa, pak Junwook nyuruh gue ke ruangannya."

Taehun mengangguk mengerti. "Ini bukan salah siapapun, mungkin ini udah takdirnya Hwi buat ngalamin ini semua." Hati Taehun sebenarnya tak terima mengatakan ini.

🕸🕸🕸

Hyunsoo menatap aneh tiga orang yang tidak ia kenal. Jina, Hyuna dan Minsoo datang ke ruangan tempat Hyunsoo istirahat bersama Sungjun dan juga Jia.

"Mereka siapa, Jun?" tanya Hyunsoo.

Sungjun menggeleng, ia juga belum mengenalnya.

"Mereka penulis berita itu, Kak," Jawab Jia.

Hyunsoo membulatkan matanya tak percaya. "Beneran, Ji?"

"Bener, kok," jawab Jina. "Nama Kakak Jina, ini Hyuna dan ini Minsoo." Jina mengenalkan dirinya juga teman-temannya.

"Kak Jina, kayanya kita pernah ketemu ya?" tanya Hyunsoo memastikan, wajah Jina terasa tak asing di matanya.

Jina teringat, ia pernah tak sengaja bertemu dengan Hyunsoo, Kyungjun, Sungjun dan juga Hwi saat bertugas. Jina mengangguk sebagai jawaban. "Kakak pernah gak sengaja nabrak Kyungjun waktu itu."

Hyunsoo ingat sekarang dan dugaannya waktu itu benar. "Kak, kalian tahu tentang kebakaran tahun 1990?" tanya Hyunsoo tanpa bertele-tele.

"Kita dulu satu angkatan. Jadi gak mungkin kita gak tahu tentang kebarakan yang newasin ratusan orang," jawab Minsoo cepat sebelum didahului oleh Jina maupun Hyuna. "Kita dulunya temen deket, Hyunsoo," lanjutnya.

"Iya-kah?" Hyunsoo menjeda ucapannya. "Terus si pelaku kebakaran sampe sekarang beneran belum ke ungkap?"

Jina terdiam, menatap kedua temannya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Lee Youngjae," jawab Minsoo dengan lantangnya. "Tapi itu masih hal yang belum pasti," lanjutnya.

Terkejut, tentu saja. Hyunsoo, Sungjun dan Jia mencoba mengondisikan keadaannya saat ini.

"Masih belum pasti?" tanya Taehun yang baru saja datang bersama Kyungjun dan juga Junhyeok.

"Kami sama sekali gak punya bukti," jawab Hyuna.

"Terus kenapa nuduh pak Youngjae?" Jia yang kelewat penasaran akhirnya bertanya.

"Dia siswa paling nakal, ditakuti dan kejam di masanya. Tunggu, pak?" Jina kembali bertanya.

Taehun mengerutkan dahinya. Ini benar-benar membuatnya pusing. Nara bilang, jika ia di masa lalu sangatlah buruk. Tapi ini?

"Dia staf keamanan di sekolah kami." Kyungjun yang sejak tadi diam akhirnya menjawab.

Kyungjun dan Junhyeok sudah tahu siapa tiga orang yang berada satu ruangan dengan mereka saat ini. Taehun, laki-laki itu sudah menjelaskannya sebelum mereka datang.

"Terus gimana sama Taehun di masa lalu? Bukannya dia murid yang nakal?" Taehun sudah tidak bisa nenahan pertanyaan itu.

Hyuna, Jina juga Minsoo cukup terkejut mendengar pertanyaan dari Taehun.

"Pertanyaan macem apa itu, Hun?" Jina sedikit mendekat, tangannya menyentuh pundak Taehun. "Taehun, si pemimpin. Dia jauh dari kata nakal. Dari mana kamu tahu kalau dia nakal?" Mata Jina berkaca-kaca. Sungguh, ia sangat tidak terima ada yang mengatakan jika Taehun di masa lalu seorang siswa yang nakal.

"Mama." Taehun spontan menjawab hal itu. "Kim Nara."

"Nara? Jin, dia-" Hyuna sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

Minsoo sadar, jika di sini banyak yang harus diluruskan dan itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan waktu mereka tinggal sebentar.

"Na, kita lurusin itu nanti. Sekarang sisa dua puluh menit, ayo pergi."

"Tapi, Soo-"

"Na, pekerjaan lo saat ini lebih penting. Di sini ada gue, gue bakal jagain mereka," ucap Jina.

Akhirnya Hyuna mengangguk menyetujui. "Yaudah, kita pamit ya. Hun, jangan pernah percaya sama apa yang Kim Nara ucapin, dia pembohong," ucap Hyuna sebelum pergi bersama Minsoo.

Keadaan pikiran Taehun sangatlah penuh, siapa yang harus ia percaya sekarang?

"Gimana keadaan Hwi? Gue gak bisa ke luar, gak tahu kenapa badan gue jadi lemes banget," ujar Hyunsoo.

"Hwi udah dipindahin ke ruang rawat. Kata dokter kondisinya udah makin membaik," jawab Junhyeok.

Hyunsoo bernafas lega. Tidak sia-sia ia lemas seperti ini. "Hun, lo bisa bantu gue ketemu Hwi?"

"Sebentar." Jina keluar, namun tak lama ia datang kembali sambil mendorong kursi roda. "Kamu masih lemes kan? Pake ini ya?"

Taehun dan Sungjum membantu Hyunsoo untuk duduk di kursi roda. Tangan Taehun bergetar saat hendak menyentuh kursi roda itu. Ingatan masa kecilnya membuatnya seperti ini.

"Kalian di sini aja dulu," ucap Taehun.

Ketiganya mengangguk kecuali Jina.

"Kakak ada tugas di rumah sakit ini, jadi Kakak tinggal ya? Kalau butuh apa-apa hubungi aja." Jina menyerahkan kartu namanya pada Kyungjun.












Gak ada yang bisa kita percaya selain diri kita sendiri.

Stan The New Six guys!

Big Secret (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang