✦
Kediaman Ree yang biasanya terdengar suara kicauan burung di sekitar taman, kini bertambah suara kebisingan menjadi kericuhan besar. Tidak hanya itu, kediaman yang tidak pernah sekalipun dimasuki sembarang orang, kali ini para reporter dan orang yang tidak berkepentingan berhasil memasuki wilayah Ree.
Sekeras peringatan yang diberikan tidak membuat mereka goyah, seolah mereka tidak menganggap keberadaan Karo. Hingga ia teringat sesuatu sebelum menghadapi lautan manusia di hadapannya.
Kedua kakak adik Ree mendapat kabar, bahwa salah satu dari keluarganya mengizinkan orang-orang reporter tanya jawab pada publik di tempat. Kebetulan sekali para tamu undangan pesta kemarin bertanya-tanya kemunculan Arthur disana. Tentunya ini mendatangkan banji keuntungan bagi para penyiar berita.
Suasana kediaman yang sudah lama tertutup, dijaga bertahun-tahun baik hingga tidak seorangpun yang masuk, menjadi tanggung jawab Karo sebagai kepala keluarga sementara. Karo sebagai anak tertua yang ada di dalam rumah, memerintahkan semua orang untuk segera pergi dari wilayah Ree.
Namun, sayang sekali perintah itu bertolak belakang dengan ibunya yang membiarkan masuk. Tenggorokannya terasa sakit. Ia merasa hari ini terlalu banyak berbicara dan berteriak. Ketika seluruh anggota keluarga berkumpul, Karo mengerutkan alisnya. "Apa kalian semua tidak ingat perjanjian leluhur? Kalau sudah begini, kita tidak bisa menyembunyikan senjata itu!" nadanya sedikit meninggi.
"Kejadian ini tidak akan terjadi kalau saja Thura tidak tiba-tiba datang. Benar-benar tidak tau malu, sudah kabur dan tidak ingin bertanggung jawab." secara tidak langsung ayah mereka tidak ingin ikut campur atas kelalaiannya. Ia belum menyerahkan posisinya pada Karo, tentunya ini masih menjadi tugasnya.
Anak laki-lakinya menghela nafas kasar mendengar alasan pria itu. Ia belum resmi menjadi kepala keluarga selanjutnya, tetapi ia sudah harus menanggung semua. Pria itu tidak sedikitpun memberi saran atau arahan sejak awal. Ia hanya memerintahkan para pelayan untuk menahan pintu utama. Melihat dari lantai dua sudah banyak sekali orang-orang.
Semua rencana yang ia jalankan semakin berantakan. Bukan hanya itu saja yang harus ditangani. Rasa cemas yang ia alami akhir-akhir ini terjadi lagi. Tidak ada waktu baginya menangangi kondisi mental yang kacau.
Ia butuh ruang tanpa ada seseorang yang mengganggunya. Hingga ia bernafas dengan teratur dan mendinginkan kepala, ia melihat pantulan dirinya di kaca. Ia berulang kali bergumam apakah dirinya sudah benar-benar siap menghadapi ini semua?
TOK...TOK...TOK... Tuan Ree besar Ree memerintah Karo untuk keluar, "Kaulah kepala keluarga selanjutnya. Seharusnya saat hari itu juga penyerahannya." terlalu lelah berdebat lebih lama, ia turuti perintah kali ini dari pada membuat pintu utama roboh. Kamera berada dimana-mana. Memotret dari segala sisi ruangan dan Karo merasa terpojok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Choose! Fairly Together!!
FantasyDua dunia yang berkebalikan dengan dunia asli, Dunia Mati dan Dunia Hidup. Gadis bertanduk merah didorong ke dalam jurang yang akan menuju Dunia Hidup. Sempat berpikir takdirnya sudah usai, namun dugaannya tidaklah benar. Ia diselamatkan oleh manusi...
