Mama kenapa pergi?

8.7K 624 16
                                        

Met baca 🌿

____________

Dipa kembali ke rumah, ia melihat ke kamar anak-anaknya yang sudah tidur pulas. Tak lupa ia cium kening Zano dan Zena setelahnya kembali ke lantai bawah tempat kamarnya berada.

Ia masuk ke dalam kamar sekedar menaruh jaket juga mencuci wajah. Tetesan sisa air di wajahnya membasahi kaos yang dikenakan. Dipa menatap lekat ke dalam pantulan dirinya di cermin kamar mandi.

"Lo bisa urus anak-anak sampai mereka besar, Dip. Perkara cinta urusan belakangan. Lo tau sakitnya ditinggal pergi disaat lo butuh dia. Lo bisa, Dipa, lo bisa." Dipa bicara dengan dirinya sendiri untuk kesekian kalinya. Ia meraih handuk kecil, mengeringkan wajahnya sembari berjalan keluar kamar untuk memeriksa isi kulkas, ia mau esok hari sarapan untuk anak-anak sudah ada.

Dipa begitu pintar mengatur waktu, walau terlihat jobless, alias pengangguran, rekeningnya selalu penuh? Dari mana asalnya? Nanti kita akan ketahui bersama.

Televisi ia nyalakan, duduk santai dengan kaki terangkat di sofa, ditemani camilan popcorn dan es kopi yang ia buat sendiri, sudah membuatnya sangat tenang juga bahagia. Acara TV show detektif dan dunia medis sudah menjadi kesukaannya sejak kecil.

Dipa mengunyah popcorn, tapi sesekali melirik ke ponsel miliknya yang sepi chat apalagi telepon. Ia meraih lantas membuka sosial media yang baginya hanya sebatas hiburan, ia sendiri punya sosmed tapi isinya foto motor, foto ia dan kedua anaknya saat mereka masih kecil. Selanjutnya tak ada, bahkan tahun terakhir ia upload pun saat Zano berusia empat tahun.

"Hahhh!" Ia meletakkan ponsel di atas sofa karena merasa bosan mendadak. Ia lantas memilih duduk di kursi kayu yang ada di halaman samping untuk menenangkan diri.

Sebatang rokok ia bakar, dihisap kuat-kuat juga menghembuskan asap tebal ke udara. Lagi-lagi hatinya kalut, gundah dan terpikir ibu kandung kedua anaknya.

Dipa patah hati setelah wanita itu pergi, hancur hingga membuatnya hampir gila. Butuh setahun ia bangkit untuk menerima takdir hidupnya yang tak sesuai harapan.

"Dip!" suara Bryan terdengar dari samping pagar. Dipa mendekat, melihat Bryan membawa tas belanja.

"Masuk lewat pintu belakang, depan udah gue gembok," tukas Dipa yang dijawab anggukan Bryan.

Keduanya kini duduk di kursi masih di taman samping. Bryan membawa batagor dan wedang jahe.

"Gue nggak bisa tidur, stres banget." Bryan membakar sebatang rokok juga.

"Kenapa? Adek lo bawa pacarnya lagi ke rumah dan jadinya lo ditanyain kapan lo bawa pacar ke rumah, gitu?" Dipa mencomot batagor dari atas piring, ia kunyah dengan hati senang karena batagor salah satu kesukaannya.

"Mending kalau itu. Nyokap bokap minta gue pindah kerja, nerusin jejak bokap karena udah mau pensiun tahun depan. Gue juga harus nikah secepatnya, cewek pilihan nyokap udah ada. Dip, hidup gue dikontrol mereka banget sampe urusan kayak gini. Apa gue nggak ada kesempatan buat pilih sendiri?"

Dipa mengerti, pasti berat bagi Bryan yang berusia 25 tahun harus mengiyakan permintaan orang tua yang kaku dan kolot.

Mereka bukan teman sejak kecil, Bryan dan Dipa kenal karena sama-sama nongkrong di bengkel Juan. Sedangkan Dipa dan Juan teman sejak SMP, sudah tau luar dalam.

"Speak up, lah. Lo punya hak bicara walau di keluarga sendiri." Dengan santai Dipa menikmati batagor lagi.

Bryan menoleh ke Dipa yang menatap bingung. "Apa?" tukas Dipa.

"Gue ... sebenarnya," jeda Bryan yang bingung sendiri mau bicara.

"Apaan, jangan muter-muter kalau ngomong." Dipa jadi penasaran.

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang