Bukan jalan instan

5.9K 494 11
                                        

Markijut!
__________

Leta izin tidak mengajar, ia mau istirahat sejenak hanya satu hari. Zena dan Zano terlihat sumringah saat tau di rumah oma opanya ada Miss Leta terkasih. Keduanya tak henti memeluk bahkan saat Leta sedang menyiapkan bekal untuk dibawa kedua anak itu.

Sarah menyenggol bahu Dipa yang tengah memakai sepatu kerja, ia akhirnya pulang ke rumahnya begitu dini hari hanya untuk mengambil pakain kerja lalu kembali ke rumah mamanya.

"Mata lo rabun kalau perempuan kayak Leta lo sia-siain. Tolong kebegoan lo ilangin."

"Iya. Udah jelas sekarang apa yang gue lihat, Kak. Lo kapan balik ke sana?"

"Minggu depan. Suami gue juga cuti kok, santai ... yang punya kantor," gelak Sarah. Dipa hanya berdecak. "Dip, disegerakan, lah. Mau pesta besar-besaran juga boleh. Sekalian melepaskan duda ngenes yang jadi icon lo."

"Sialan ngenes." Dipa menyikut lengan Sarah. "Nanti dulu, gue mau ke Hongkong, Leta harus ketemu sama Ibunya."

Sarah menoleh, "lo yakin itu Ibunya?"

"Seratus persen." Dipa berdiri, ia pamit kerja ke Sarah. Sedangkan mama papanya sudah berangkat lebih dulu untuk urus perkara Leta. Dua pengacara dipakai untuk menangani kasus ini. Tak main-main.

"Papa duluan ya, Om Bryan berangkat bareng, mau ke bursa efek dulu," pamitnya ke Zena dan Zano.

"Oke." Keduanya masih sarapan, sudah lengkap memakai seragam juga.

"Bekal kamu, Mas. Aku masak bahan yang ada dikulkas Ibu aja. Maaf nggak ada lauk daging, jadi aku masak telor balado sama tumis sawi putih. Kotak bekal satunya isi buah sama yogurth. Kata Kak Sarah kamu suka minum yogurth, kok aku nggak tau ya?" Leta menyerahkan tas bekal milik Dipa.

"Banyak yang kamu nggak tau tentang aku. Lama-lama kamu akan tau dan semakin sayang sama aku," bisik Dipa kemudian mencium singkat pelipis Leta.

"Masss," gumam Leta karena malu dilihat anak-anak juga Sarah yang senyam senyum.

"Eh lupa, maaf-maaf."

Pret! Lupa. Bokis banget Dipa. Padahal ya ia mau menghadiahi kecupan singkat untuk bidadarinya.

Dipa segera ke garasi, mengendarai mobil menjadi pilihannya hari itu.

"Kalian udah selesai? Ayo ke mobil, sopir udah siap." Leta membawa tas bekal kedua anak itu yang terlihat sudah selesai makan dan minum susu.

"Udah, Miss," jawab mereka kompak.

"Kok Miss? Mama dong, gaesss ...," ledek Sarah. Ia beranjak, berjalan ke arah meja makan, sebelumnya ia duduk di sofa depan TV.

"Oh iya, jangan panggil Miss, Mas Zano. Kita panggil apa ya?" Zena berpikir sejenak.

"Ibu aja. Jangan Mama." Zano memakai tas ranselnya. Ia hampiri Leta yang sudah berdiri menunggu. "Bu, pamit ya. Kita sekolah dulu." Zano menyalim punggung tangan Leta.

Hati Leta hangat saat dipanggil Ibu oleh Zano. Ia usap pelan puncak kepala bocah itu lalu mengecup keningnya. Ia serahkan tas bekal Zano juga.

"Zena juga, Bu. Pamit cekolah duyuuu ...." Dasar Zena suka lebay, ia menyalim punggung tangan lantas meraih tas bekal. Leta melakukan hal yang sama. Setelah kedua bocah itu ke garasi, Leta lantas merapikan meja makan dan dapur. Padahal ada bibi, tapi Leta menolak. Biar bibi membereskan kamar dan rumah. Enteng urusan cuci piring juga merapikan dapur.

Sarah menyeret kursi meja makan, ia duduk memperhatikan Leta beberes.

"Mimpi apaaa aku juga Mama Papa, dapat calon anggota keluarga baru begini apiknya."

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang