Di tolak

5.7K 535 28
                                        

Markijut
__________

Keduanya saling menatap, saat Dipa berlutut dengan kedua kakinya di depan Leta yang duduk di bangku masih di tempat yang sama.

Leta hanya bisa tertawa geli, ia tak menganggap serius permintaan Dipa.

"No we can't," tolaknya. "Aku nggak mau nikah, Mas. Kamu ajak aku menikah, semendadak ini, kayak ... slapping your finger and ... aku setuju? No ... nggak, Mas."

Dipa diam, tak percaya Leta menolaknya. Apakah karena begitu mendadak? Atau Leta ragu? Atau bisa juga Leta masih belum yakin dan mau mengenal lebih jauh Dipa.

Tampaknya seperti itu, hingga malam pun berakhir dengan Dipa yang membodohi dirinya karena tidak membuat momen melamar seseorang dengan penuh kenangan.

***

"Anak bloon!" pekik mama sambil melempar Dipa dengan centong sayur. Dipa menghindar dengan memiringkan badannya ke kiri sambil menikmati sarapan. Ia mampir ke rumah orang tuanya yang sudah kembali dari Balikpapan untuk sarapan setelah mengantar anak-anak sekolah.

"Kamu tuh! Papa! Anaknya bener-bener, ya! Haduhhh Mama malu sama LetaaaA!" teriaknya heboh seraya mematikan kompor karena sedang mengaduk bubur kacang hijau yang sudah matang.

Mama melepas celemek, melempar ke arah Dipa lagi yang kali ini mendarat sempurna ke atas kepala anaknya.

"Mam!" jerit Dipa lantas meletakkan celemek di atas meja makan.

"Beneran Mama panggil Kakakmu pulang ya!" omel mama seraya berjalan mondar mandir.

"Makanya, Dip, jadi anak itu jangan barbar, dipikirin dulu A sampai Z, langkah demi langkah. Apalagi ini mau minta Leta nikah sama kamu." Papa menambahkan, ia meletakkan ponsel yang sedari tadi dipegangnya.

"Dipa, Leta itu beda, kamu sendiri yang kasih tau ke kami. Terus kamu kenapa nekat begini? Apa nggak tahan menduda? Nggak tahan mau bikin anak lagi?" cecar papa.

Dipa mengusap bibirnya dengan tisu sebelum berkata. "Salah satunya, Pa. Capek lho, Dipa main sendirian," cengirnya. Mama melotot, ia berjalan mendekat, menjewer telinga Dipa hingga anaknya itu mengaduh.

"Otak mesummm!" teriak mama di telinga Dipa lantas melepaskan jeweran. Mama kini kembali ke depan kompor, menghidangkan bubur kacang hijau dan dua lembar roti tawar untuk suaminya.

"Pa, diruqyah kali ya anak kita ini! Heran banget Mama!" Masih aja ngomel-ngomel, Dipa hanya cengar cengir, memang sudah kongsel kewarasannya karena lama menduda.

"Kamu cari tau keluarganya dulu, apa udah?" Tatapan papa serius ke arah Dipa yang duduk berseberangan dengannya.

"Udah. Bukan dari keluarga kaya raya, apalagi sederhana. Cenderung miskin. Ayahnya suka pukuli Leta, minta uang terus, bahkan pernah minta Leta jual diri demi uang yang pasti buat Ayahnya." Dipa meneguk air putih lalu siap lanjut bicara. Mama dan papa kini siap mendengarkan cerita tentang Leta dari anaknya sendiri.

"Leta itu unik, Pa, Ma. Dipa nggak tau kapan perasaan ini ada dan tau-tau ... Dipa sayang sama dia. Leta juga panggil Dipa bukan 'Pak' lagi, tapi ... Mas ... Mas Dipa." Senyum lebar Dipa terbit, ia malu sendiri.

Mama dan papa saling menatap lalu cekikikan.

"Nggak pantes kamu dipanggil 'Mas', nggak ada wibawanya. Anak error gini dipanggil Mas Dipa, nggak cocok. Jelek!" celetuk mama. Dipa misuh-misuh, ia memperhatikan kedua orang tuanya dengan serius.

Mama menarik napas panjang, "temui Ayahnya, gimana juga Leta masih ada orang tua," sambung mama.

"Ayahnya matre, Ma, pasti nanti minta uang banyak," lanjut Dipa lagi. Uang sebenarnya tak masalah, asal Leta bisa bebas dari ayahnya itu tapi rasanya tak akan bisa, justru bisa saja ayahnya Leta memanfaatkan anaknya yang menikah dengan orang kaya raya sepertinya.

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang