Penilaian Mama

7.3K 558 8
                                        

Welcome back pecinta duda ala saya hahaha ... mari kita lanjutkan cerita Papa Dipa!

__________


Kembali menjalani rutinitas baik Dipa maupun Leta. Guru cantik juga single itu menyapa murid-murid kelasnya dengan riang. Zena sendiri tak tau hingga hari ke tiga setelah wali kelasnya pergi bersama sang papa.

"Miss Leta, bawa bekal makan apa siang ini?" bisik Zena saat ia menghampiri meja mengajar Leta di kelas Zena.

"Miss nggak bawa, tadi udah makan di rumah. Zena bawa apa?" balas Leta berbisik pelan. Semua murid sudah menuju kantin untuk makan siang di sana, ada yang bawa bekal sendiri, ada pula yang langganan catering sekolah, tapi semuanya memang harus makan di kantin.

"Zena bawa sandwich buah pakai krim keju. Oma masih di rumah, jadinya bekelnya sehat. Kalau sama Papa kan seringnya beli makanan ayam atau burger terus." Nada bicara Zena seperti terdengar gerendeng kurang suka dengan bekal yang selalu dibawakan papanya.

"Papa Zena nggak sempat siapin, wajar ya, maklumi." Leta mencubit pelan pipi Zena.

"Miss Leta!" teriak beberapa anak murid perempuan lainnya, teman Zena juga. "Miss makan, yuk!" seru mereka lagi. Keempat anak perempuan itu menarik tangan Leta, mau tak mau Leta ikuti kemaunan anak muridnya. Mereka berjalan ke kantin termasuk Zena, Leta kaget karena ia dibelikan makanan oleh salah satu anak muridnya.

"Kamu ulang tahun jadinya traktir, Miss?" tegur Leta setelah mendapatkan seporsi nasi goreng ayam dan segelas es jeruk.

"Nggak. Mau makan aja bareng Miss Leta, masa Miss Leta makannya sendirian terus di ruang guru."

Leta tersenyum. "Uang jajan kamu banyak ya? Ditabung dong, Nak," tukas Leta seraya merapikan kunciran rambut anak muridnya itu.

"Nanti aja nabungnya. Kata Mama harus inget Miss Leta kalau makan siang. Nah, Miss Leta nggak kelihatan baw atas bekal, yaudah aku jajanin. Ayo kita makan, Miss!" Murid itu tampak senang, meja di sudut kantin terisi Leta dan lima murid perempuannya termasuk Zena. Sambil makan, tak lupa Leta bersenda gurau inginn tau muridnya itu kalau di rumah kegiatannya apa saja. Setidaknya, Leta tidak akan membiarkan anak muridnya merasa kesepian atau bahkan terindimidasi dengan orang tua sendiri.

"Miss, umurnya berapa?" Zena bertanya dengan mulut penuh makanan.

"Makanannya telan dulu baru ngomong, Zena, ini juga belepotan, haduhhh ... anak murid siapa coba," sindir Leta sambil membersihkan sudut bibir Zena dengan tisu.

"Miss Leta," jawab anak murid lainnya diakhiri tawa renyah. Leta terkikik geli, iya juga, ya.

"Kenapa tanya umur, Miss? Jauh lebih banyak dari kamu dan kalian semua," jawab Leta sambil lanjut makan siang. Di dalam hati ia senang, karena jujur saja, ia belum makan sejak pagi. Uangnya habis dan gajian masih dua hari lagi. Ia bahkan berangkat mengajar berjalan kaki dari rumah ke sekolah yang berjarak tiga kilometer lebih. Sepatu cadangan selalu ia bawa di tasnya, setelah tiba di sekolah baru ganti dengan sepatu khusus mengajar, ia suka memakai flat shoes atau sepatu hak lima senti.

"Papaku umurnya dua Sembilan, tapi belum nikah lagi setelah Mama pergi. Miss Leta nggak mau nikah?" Sontak saja Leta keselek, ia meneguk es jeruk dengan cepat. Setelah mengatur napasnya ia menatap Zena yang tampak polos-polos saja menunggu jawaban darinya.

"Kok gitu tanyanya? Miss mau nikah, mau punya keluarga kecil bahagia, tapi nanti, nggak sekarang. Papa kamu kenapa nggak nikah-nikah lagi?" Leta bisa aja mancingnya, padahal ia sudah tau jawabannya apa. Ingat saat di puncak, Dipa bilang tak mau jatuh cinta lagi, apalagi menikah.

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang