Extra Part

13.8K 593 33
                                        

Bonus!

_______

"Leta!" teriak Dipa saat ia segera berlari ke dalam rumah. Ia mendapati istrinya meringis sambil mengusap perut bagian bawah yang terasa keram.

"Buruan bawain ke mobil kopernya, Dipa!" kesal mama sampai memukul bahu putranya. Dipa menyeret koper, ia tak akan sempat ganti baju karena Leta kembali meringis menahan sakit sambil terpejam.

Mama menuntun Leta berjalan. Tak lama Leta berhenti melangkah karena rasanya sakit sekali perutnya. Dipa berlari lagi, ia merangkul Leta berjalan sangat pelan karena merasa pinggang Leta mau copot. Sesakit itu memang.

Zena dan Oma duduk di barisan kedua mobil SUV besar itu, Leta di depan terus meringis.

Tangan Dipa mengusap perut Leta yang terasa keras. "Dikit lagi sampe rumah sakit, sabar, sayang," bisik Dipa.

Baru saja tiba di depan lobi rumah sakit, sudah ada papa dan Zano yang langsung ke sana dengan sopir. Mereka meminta perawat menyiapkan kursi roda. Segera Leta duduk tapi tak nyaman karena sakit pada bagian bawah.

Dipa akhirnya meminta ranjang saja tapi tak siap saat itu karena dipakai pasien lain. Leta memilih berjalan menuju lift, ia lebih nyaman berdiri.

Semua tegang apalagi saat Leta meremas lengan kemeja Dipa sambil bersandar menahan sakit.

"Mmmggghhh!" erang Leta tertahan.

Mama mengusap pinggang Leta yang mengeluh panas. Sesampainya di lantai yang dituju. Mereka berjalan ke ruang pemeriksaan. Satu bidan dan dua perawat langsung bergerak cepat. Leta merebahkan diri di atas ranjang. Celana dalamnya sudah banyak darah. Pemeriksaan dalam akhirnya di lakukan.

Sudah pembukaan lima ternyata. Leta ganti baju dibantu perawat. Pasang alat rekam nadi juga lainnya.

"Boleh berdiri kan, Suster?" lirih Leta yang menungging bersandar pada tepi ranjang.

"Boleh, Bu. Sebentar saya panggil dokter Nita, ya. Beliau sudah tau anda ke sini." Perawat keluar kamar bersalin. Dipa mengusap pinggang Leta yang masih pada posisi yang sama.

Dipa baru pertama menemani wanita melahirkan normal, saat bersama Celin secar dan ia tak di dalam. Namun jika sekarang, ia mau menemani Leta bagaimanapun kondisinya.

"Aaarrgghhh!" teriak Leta panjang. Ia meremas sprei juga lalu menangis. Dipa menegakkan tubuh Leta, ia bawa ke dalam pelukannya.

"Operasi aja, ya, Leta," bisik Dipa.

"Nggak mau, Mas, normal aja," jawab Leta sambil mengatur napas. Ia bersandar pada dada Dipa yang mengusap pinggang Leta.

Kontraksi datang lagi, sudah satu jam dan semakin menjadi-jadi. Leta meremas tangan Dipa saat ia diminta merebahkan diri. Mama ikut menemani dengan panik.

Air mata Leta tumpah saat dokter berkata detak jantung bayi melemah padahal pembukaan sudah delapan. Mama dan Dipa memberi semangat, Leta juga harus mengatur emosinya supaya bayi di dalam perut tidak stres.

Setelah cukup tenang saat sudah minum susu coklat hangat pemberikan suster, lalu Leta tidak merasakan kontraksi lagi, sambil terpejam ia berdoa lantas mengusap perutnya.

Anak Ibu, ayo kita bertahan sama-sama. Banyak yang mau ketemu, Nak. Papa ada sama kita, yang kuat ya, Nak, yang kuat.

Leta berucap dalam hati. Selang lima menit, ia kembali kontraksi. Leta mengikuti arahan suster untuk atur napas, lalu dokter dan bidannya juga menyemangati.

Satu jam kemudian, Leta mengejan saat pembukaan lengkap. Ia terengah-ngeah karena rasanya tulang tubuhnya patah semua.

"Masss!" jerit Leta saat ia mendorong lebih kuat. Leta mendongak, menyandarkan kepala pada bantal dengan napas memburu. "Gimanah ... anak kitah ... Mashhh," lirih Leta yang sangat lelah.

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang