First date

6.1K 500 9
                                        

Markijut!
_________

Leta dan Dipa memutuskan hanya mereka yang tau tentang status keduanya yang baru. Bahkan saat papa meyakinkan diri jika anaknya pacaran dengan Leta, selalu ditepis Dipa.

Iya, keduanya mau saling mengenal dan santai menjalani hubungan itu. Leta yang baru mengenal rasa suka juga pacaran, pun Dipa yang mulai menata hati, mau urusan itu jadi konsumsi pribadi mereka saja.

Leta sedang memeriksa tugas harian anak muridnya di kamar kos sederhana yang ditinggali. Ketukan pintu membuat Leta beranjak dari duduknya beralaskan bantal kecil di lantai.

"Hai," sapa Dipa diakhiri senyuman. "Makanan buat kamu." Dipa menyodorkan plastik berisi makan siang. Dari harumnya seperti bakmie goreng.

"Pak Dipa ngapain repot-repot ke sini, saya juga lagi sibuk periksa tugas anak-anak."

Dipa masih memakai seragam kantoran, ia hendak pamit karena akan berangkat ke Macau yang tertunda satu hari karena masalah kecil di kantor. Leta sedang libur, jadi ia manfaatkan memeriksa tugas saja.

"Nggak boleh masuk?" Dipa menyandarkan bahu kekarnya pada ambang pintu. Leta menoleh ke arah belakang, berantakan karena memang belum sempat ia rapikan. Leta bahkan memakai kaca mata karena suka lelah saat terus menatap layar laptop mengolah nilai. Leta juga memakai kaos longgar dan celana pendek selutut.

Dipa memindai penampilan Leta dari atas hingga bawah, membuat Leta risih sendiri.

"Bukannya Pak Dipa sebentar lagi ke bandara, pesawat sore, kan?" Leta membuka lebar pintu kosan supaya pemilik kos tau jika ia ada tamu dan tidak sembarangan nuduh membawa tamu ke dalam kamar.

Dipa melepas sepatu, ia masuk ke dalam kamar lantas duduk melantai. Leta juga, tak ada kursi atau sofa, ia merasa bingung karena pacarnya datang berkunjung.

"Persiapan anak-anak pentas udah rapi?" Dipa malah membahas itu.

"Udah. Sabtu besok Pak Dipa bisa datang, kan?" Leta merapikan kunciran rambutnya karena tadi acak-acakkan. Dipa terus menatap penuh memuja, sudah cantik, baik, pintar, sopan, menjaga kehormatan diri, tidak banyak dempulan di wajah, Dipa rasa ia siap semakin membuka lebar hatinya untuk Leta.

"Bisa. Selesai acara di sekolah aku mau kita jalan berdua."

Leta mengangkat sebelah alis matanya.

"First date kita," sambung Dipa. Leta paham, ia menunduk malu lantas tersenyum. "Kamu belum makan siang, makan ya, aku pamit sekarang."

Leta mendongak saat Dipa sudah berdiri dari duduknya.

"Cepet banget, emang pesawat jam berapa?!" Leta tampak kecewa. Dipa berlutut ia dekatkan wajahnya ke hadapan Leta.

"Sedih ya, mau ditinggal pergi?" bisiknya. Leta mengerjapkan mata cepat.

"Bukan gitu, Pak, cuma ... saya nggak akan sanggup habisin makanan ini sendirian, ini porsinya banyak."

Oh, ternyata itu, Dipa pikir karena Leta sedih ia akan pergi ke Macau beberapa hari. Sudah GR aja si Dipa.

"Saya udah makan tadi, kamu bagi dua aja bisa buat malam. Eh, tapi jangan deh, nanti saya suruh Rino kirim makan malam buat kamu. Aku pamit beneran, Bryan udah di jalan ke bandara juga."

Keduanya berdiri, Leta mengantar hingga ke depan pintu kamar kosan. Dipa mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke Leta. "Pegang, saya tau kamu nggak ada uang. Bonus hasil jual mobil di pameran kemarin masih lama turunnya, kan?"

"P-pak," terbata-bata kata yang keluar dari bibir Leta. Dipa hanya tersenyum setelah ia memberikan uang lantas kembali memakai sepatunya.

"Leta, boleh saya izin ke kamu?"

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang