"Cinta itu butuh rasa percaya, tapi apakah memang harus seperti itu? Jika kepercayaan justru mengecewakan."
- Leta -
Dipa merapikan pakaiannya, pun Celin. Kantor riuh ricuh, gempar sudah karena hal panas yang hampir terjadi diantara Dipa dan sang mantan.
Celin sendiri kaget mereka bisa terbawa suasana setelah Celin jujur jika ia, andai diberikan kesempatan mau kembali bersama Dipa. Hati Dipa goyah, hingga memori indah dahulu datang menyapa dan membuat ia segera mencumbu Celin.
Pun Celin, ia begitu merindukan Dipa dengan kegilaannya terhadap diri wanita itu.
Celin memakai kembali dalamannya, Dipa sudah berhasil membuatnya menerima pelepasan tadi. Bibir Dipa penuh dengan cairan surgawi Celin.
"Dip," panggil Celin. Ia duduk di sisi Dipa yang menunduk sambil meremas kedua tangan. "Kita jelasin ke Leta, ya. Kita ketempat dia," ucapnya. Celin merangkul Dipa, menyandarkan kepala di pundak kekar lelaki itu.
Sementara, Leta sudah tersenyum normal, seolah tak ada apa-apa dan kembali bekerja di salon. Menyunci handuk-handuk kotor bekas facial, juga lainnya. Melupakan semua kesedihan juga kecewa yang ia sadari harusnya sejak awal. Tak perlu berharap banyak.
"Leta, ada yang cari kamu, dia tunggu di samping," tukas manajer salon.
Leta segera membilas tangan lantas berjalan ke samping ruko dua lantai itu. Dipa dan Celin berdiri menunggu, dengan senyuman Leta menyapa.
Dipa nanar, hatinya sakit seperti tertusuk menerima senyuman dari wajah kekasihnya... mungkin, atau sesaat lagi akan menjadi mantan.
"Ada apa, ya?" Tak ada kegugupan, Leta begitu santai walau wajahnya sembab.
"Leta, kami ke sini mau minta maaf," tutur Celin langsung mendekat, meraih jemari Leta lalu digenggam erat.
Leta menatap ke Dipa, masih terus tersenyum sedangkan Dipa semakin sakit dibuatnya.
"Kalian salah apa? Kenapa minta maaf." Leta melepaskan genggaman tangan Celin.
"Cel, bisa tinggalkan kami?" lirih Dipa. Celin mengangguk, ia kembali ke parkiran mobil, menunggu di sana.
Kini, Dipa dan Leta berdiri berhadapan. Kaos yang dikenakan Leta basah karena air cucian, juga peluh membasahi kening. Rambutnya ia cepol asal, sungguh berbanding terbalik dengan Celin.
"Mas ...," lirih Leta.
"Ya," sahut Dipa dengan berat hati juga malu menatap Leta.
"Kita putus, ya. Saya sudah tau apa jawabannya. Kembali ke Celin. Mas Dipa jangan merasa salah apapun ke Saya."
Dipa segera berlutut, ia memeluk pinggang Leta tapi segera Leta lepas. Ia mundur tiga langkah.
"Mas Dipa, masih cinta sama Celin, saya bisa tau dan lihat itu. Terima kasih untuk beberapa waktu ini, Mas Dipa kasih saya banyak kebahagiaan."
Dipa mendongak, ia begitu terpukul. Ia tau kekhilafannya tak termaafkan, ia siap dihukum, asal jangan putus. Lalu, apa maunya? Punya dua hati? Tidak, Leta tak akan sudi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Father (✔)
RomansaMenjadi duda diusia muda siapa laki-laki yang mau. Tak hanya itu, ia bersama dua anaknya yang masih butuh figur orang tua lengkap tetapi tak bisa ia wujudkan. Pradipa Hirawan harus memerankan dua sosok demi anak-anaknya. Sayang, kelakuan absurd yan...
