Setengah Hati

5.6K 475 16
                                        

Markijut!
__________

Tepat tiga minggu setelah Zena benar-benar sehat. Mereka berempat bertolak ke Hongkong atas izin kedua orang tua Dipa juga. Leta yang baru pertama kali naik pesawat terbang, terus merasa khawatir.

Dipa menenangkan Leta jika semua akan aman. Mereka akan selamat sampai tujuan.

"Mas," bisik Leta. Dipa menoleh. "Degdegan," lanjut Leta lagi. Dipa menarik ujung hidung Leta pelan saking gemasnya.

Mereka berada di kelas ekonomi, sengaja Dipa mau mengajak Leta merasakan dahulu sebelum nanti saat pulang akan duduk di kelas bisnis.

Waktu ditempuh empat jam empat puluh lima menit hingga mereka berempat tiba di sana. Mobil yang menjemput sudah tiba, segera mereka menuju hotel sebelum bertemu ibu kandung Leta.

Zena dan Zano tampak senang, mereka tak henti bicara jika sempat mampir ke Disney Land. Namun Dipa menolak karena mereka izin tidak sekolah hanya satu hari. Hari jumat itu dan nanti pulang hari minggu pagi waktu Hongkong.

Hotel yang menjadi tempat mereka tinggal sangat mewah. Dipa memesan family room supaya mereka berempat tidak terpisah.

Leta terkagum-kagum dengan luasnya kamar itu. Ada dua ranjang king size berseberangan ruangan, lalu ruang tamu menyatu dengan ruang TV, juga dapur kecil.

Ia berdiri di depan jendela kamar besar dilantai sembilan. Hongkong begitu ramai juga padat, Leta sendiri merasa tak ada bedanya Jakarta dengan tempat itu.

"Bu, ayo," ajak Zena saat mereka akan keluar dari hotel untuk sekedar jajan-jajan. Leta mengangguk lalu menggandeng tangan Zena. Dipa sudah berdiri di ambang pintu, menunggu Leta berjalan lalu keduanya saling melempar senyuman saat berpapasan.

Layaknya keluarga kecil bahagia, mereka berempat berjalan kaki menyusuri trotoar sambil saling bercanda. Zano dan Dipa jajan minuman teh yang katanya paling ramai dan enak di sana. Sementara Zena es krim seperti biasa.

"Bu."

"Apa, Zena?" Leta duduk sambil menikmati es krim rasa vanila dan permenkaret.

"Ibu jadi nikah sama Papa, kan?"

Leta tersenyum lantas mengangguk. Zena memekik senang.

"Zena minta adek ya, Bu ya, pleaseee ... i'm begging you, Ibuuu ...," melas Zena.

Adik? Waduh. Leta mendadak merinding mendengarnya. Ia malah tak berpikir jika nanti harus tidur sekamar dengan Dipa, lalu ... lalu ... lalu ... membayangkan apa yang akan Dipa lakukan di atas ranjang rasanya kok serem ya.

"Leta." Suara berat Dipa membuat ia mendongak. "Ayo," lanjutnya. Leta tampak panik wajahnya. Mulai pikirannya penuh dengan ibunya. Seperti apa kini? Apakah wanita itu ingat dengannya? Apakah kondisinya benar-benar sehat dan baik-baik saja.

Mereka pergi menuju lokasi bertemu. Victoria park, taman terkenal di Hongkong yang banyak didatangi orang-orang bahkan wisatawan.

Angin menerpa wajah, Leta yang menguncir tinggi rambutnya duduk di salah satu bangku bersama Dipa. Sedangkan anak-anak sedikit duduk menjauh.

"Mas," gumam Leta. "Aku grogi." Ketakutan Leta mendasar, lama sekali ia tak tau ibunya seperti apa kini. Dipa mengecup pelipis Leta, ia rangkul erat kekasih hatinya.

"Arleta," sapa seseorang. Leta mendongak ke arah kiri. Seorang wanita berdiri dengan wajah yang tak lagi Leta kenali, awalnya. Namun saat ia melepas kacamata hitam yang dikenakan, sorot mata dan tatapan Leta ingat jika itu ibunya.

Dipa beranjak, ia mengulurkan tangan. "Ibu Bunga," sapanya. Bunga, iya, nama ibunya Bunga Hardiati. Leta ingat.

Leta berdiri, tapi tidak mendekat. Ia terus menatap, memindai sosok Bunga yang belasan tahun tak ada bersamanya. Lalu seorang pria keturunan china ikut menyapa, beserta tiga anak lelaki yang beranjak remaja juga.

Leta menatap ke lima orang di depannya. Ia lalu bisa menyimpulkan dengan cepat. Senyum miris juga tawa masam ia perlihatkan sambil memalingkan wajah.

Ingin rasanya menjerit kencang saat itu juga. Leta bisa tau semuanya hanya dalam sekejap mata.

"Leta ... apa kabar, Ibu--"

"Maaf." sela Leta dingin. "Apa mereka keluarga anda yang baru? Suami juga anak-anak?"

Bunga mengangguk. Ia tak bisa menahan senang juga sedih bisa kembali bertemu putrinya.

Leta mengangguk. "Sungguh keluarga sempurna dan bahagia, bukan?" Leta melirik sinis. "Mas Dipa," panggil Leta.

"Ya," jawab Dipa yang tau maksud Leta.

"Kita pulang." Leta segera memutar tubuhnya. Air mata pecah begitu ia berlari kecil meninggalkan orang-orang itu.

"Leta! Arleta!" kejar Bunga lantas memeluk Leta erat dari belakang. "Maafin Ibu, Nak. Maafin Ibu," lirihnya pedih. Leta melepaskan paksa pelukan Bunga.

"Nggak perlu minta maaf. Saya paham sekarang." Leta kembali menghadap ibunya. "Selama ini nggak pulang, cuma kirim uang karena takut saya tau fakta kalau anda ...." Leta menatap pria sipit itu dan ketiga anaknya. "Bahagia. Malu kalau pulang tau kehidupan yang sebenarnya, kan!" Leta marah. Air matanya terus mengalir.

"Bukan begitu, Leta. Ibu bisa jelaskan," pinta Bunga.

"Nggak perlu. Anda bahagia, entah bagaimana jalan ceritanya sampai bisa seperti ini sekarang," tukas Leta sambil menunjuk ke arah penampilan ibunya.

"Leta, Ibu jelasin, ya. Ibu--"

"Stop! Jangan lanjut bicara apapun. Saya sudah bisa baca semuanya. Saya ke sini cuma untuk memastikan kalau anda benar-benar masih hidup. Ternyata bukan sekedar hidup, tetapi luar biasa bahagia juga nyaman." Leta tertawa miris, tepatnya menertawakan dirinya sendiri.

Bunga, dua tahun setelah menjadi TKW, ia dipinang pengusaha di sana yang menjadi majikannya. Lelaki itu jatuh cinta dengan Bunga begitu tulus. Bunga yang terlanjur sudah benci kepada suaminya di tanah air menerima pinangan itu lantas ia berubah menjadi nyonya rumah.

Memiliki tiga anak dari lelaki itu serta hidup di apartemen mewah juga. Sementara Leta di tanah air, ia harus merasakan siksaan juga tekanan batin dari ayahnya yang jahat.

Kini, ia dan Bunga duduk di bangku taman. Bunga menjelaskan semua namun Leta hanya tersenyum sinis.

"Ibu restui kamu dan Dipa menikah. Dipa sudah ceritakan Ayah kamu juga dipenjara. Maafin Ibu, Leta, kamu harus lewati hal ini semua. Ibu mau jemput kamu, tapi banyak hal yang harus--"

"Cukup. Saya sudah lega anda merestui kami. Nggak perlu ada bahasan lagi. Jalani apa yang anda inginkan. Anggap saya tidak pernah ada. Lupakan saya. Saya paham." Leta tersenyum pedih. Ia beranjak, lantas menghampiri Zena dan Zano yang memperhatikan dari jauh. Zena memeluk pinggang Leta, ia tau ibu sambungnya tidak baik-baik saja. Mereka bertiga berjalan menjauh dari sana.

Tangis Bunga pecah, Leta wajar marah juga menolaknya. Dipa mendekat, duduk kemudian mulai bicara. "Terima kasih sudah meluangkan waktu anda yang sibuk dengan banyak hal untuk sebentar bertemu calon istri saya. Terima kasih sudah merestui kami. Saya tidak akan mengundang ada hadir di acara pernikahan kami dengan kenyamanan hati Leta. Saya pamit pulang. Terima kasih, Bu." Dipa menyalim tangan wanita itu yang terus menangis. Ia lalu menghampiri suami Bunga dan berbicara hal yang sama. Pria itu mengerti, ia memberikan amplop untuk Leta, sejumlah uang sebagai hadiah pernikahan namun Dipa tolak dengan baik.

Dipa berlari, mengejar Leta dan kedua anaknya. Terlihat Leta tersenyum lebar seolah ia tak sedih lagi.

Akan tetapi, saat malam tiba. Anak-anak sudah tidur semua. Leta duduk di sofa sambil memandangi pemandangan kota di malam hari dari balik jendela besar. Dipa duduk mendekat, tepat di belakang Leta lantas membawanya ke dalam pelukan.

Let bersandar pada dada bidang Dipa yang memeluknya bak selimut hangat saat ia kedinginan. Air mata Leta pecah, ia terisak begitu perih, meringkuk dalam pelukan kekasih yang sangat baik kepadanya. Meluapkan sakit hati akan ibunya yang ternyata hidup nyaman selama di Hongkong saat ia berjuang menahan semuanya di Jakarta.

Dipa mengecup puncak kepala Leta berkali-kali, mengeratkan pelukan membiarkan Leta menangis supaya lega.

Leta sadar, ia akan setengah hati menerima ibunya. Sisanya, ia akan melepaskan ibunya yang sudah bahagia di negeri orang.

bersambung,

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang