Double up!
________
Mama dan papa hanya bisa menggelengkan kepala melihat Dipa yang fokus dengan sepeda motor barunya. Leta ditemani Zena dan Zano ngobrol di ruang tamu atas perintah papa yang meminta kedua cucunya itu.
"Dip, masih sibuk elus-elus motor baru kamu?" tegur papa karena mama sudah terlalu kesal.
"Bentar lagi, Pa, kenapa?" Dipa masih memperhatikan motornya.
"Anterin Leta pulang sana. Udah jam tujuh malam, kasihan."
Dipa menghela napas, kepalanya menunduk dalam sebelum bicara dengan papanya. Ia memutar tubuh, beradu tatap dengan papa yang menyodorkan kunci mobil putranya.
"Leta bisa pulang sendiri, Pa," tolaknya halus.
"Kamu laki-laki dewasa, kan? Antar." Papa melotot, baiklah, perintah langsung dari bos besar. Dipa meraih cepat kunci mobilnya lantas ke dalam untuk menghampiri Leta.
"Saya antar Miss Leta pulang, ayo." Dipa kembali berjalan keluar rumah menuju mobilnya terparkir. Leta bersiap pulang, ia pamit dengan kedua anak Dipa juga mama yang ternyata menyiapkan satu tas berisi makanan untuk stok dikosan Leta. Ada mie instan, biskuit, susu kotak sepuluh buah, coklat, roti tawar dan selai. Mama luar biasa menyiapkan semua demi calon menantu idaman.
"Bu, jangan begini?" Leta tak tau harus jawab apa. Ia sungguh malu juga tak enak hati menerima.
"Jujur saya berharap kamu dan Dipa lebih dari sekedar wali kelas dan wali murid, tapi semua kembali ke kalian. Setidaknya ini ucapan terima kasih saya karena bentuk perhatian kamu ke cucu-cucu saya. Sekarang kamu sudah tau kondisi cucu saya juga Dipa, saya cuma berharap kamu memaklumi sikap cucu saya kalau berulah di sekolah."
Leta menggeleng cepat, "Zena dan Zano anak baik,Bu. Sama sekali tidak pernah berulah."
"Syukurlah, tapi tetap terima ini. Kamu bisa tabung uang kamu buat beli sarapan. Terima ya, Leta, saya mohon."
Leta menatap tas belanja besar yang terisi penuh, ia mau tak mau menerima. Mama segera memeluk, mengusap dengan sayang perempuan yang hidupnya penuh jatuh bangun sendirian.
"Bu, saya nggak tau mau balas dengan hal apa selain mendoakan Ibu sehat, panjang umur dan murah rezeki."
"Aamiin, terima kasih, Miss Leta. Hati-hati di jalan, kalau Dipa resek pukul aja. Nggak akan balas kok," cengir mama. Leta tersenyum simpul, ia pamit ke papa yang hanya tersenyum lebar. Papa juga setuju dengan mama, Leta itu cerminan wanita penurut yang tidak suka menuntut juga tulus. Cocok dengan Dipa yang cukup barbar.
***
"Saya turun di depan gang itu aja, Pak. Nggak muat masuk mobil, terlalu sempit." Leta menunjuk ke arah yang dituju. Dipa memasang lampu sen kiri, lantas membelokkannya di minimarket.
"Kenapa parkir, Pak?" toleh Leta.
"Suka-suka saya." Duh! Dipa, jawabnya seenaknya sendiri. Leta tak lanjut bicara, ia turun sambil membawa tas belanja. Saat Leta hendak pamitan, Dipa justru berjalan cuek meninggalkannya masuk ke minimarket. "Pak Dipa terima kasih!" teriak Leta yang tak direspon Dipa. "Ck!" Leta berjalan sendirian, berpisah dengan Dipa.
Jalanan gang hanya muat dilalui satu mobil sebenarnya tapi ukuran sedang, mobil Dipa SUV besar, akan repot nantinya. Kurang sepuluh meter dari pintu pagar kosan, tangan Leta ditarik Dipa. Ia meraih tas belanjaan dari tangan kiri Leta.
"Saya bawain. Kasihan tangan kurus kamu keberatan bawa belanjaan dari Mama saya. Mana kosannya?"
Leta hanya diam mendongak menatap, Dipa mengernyitkan kening. "Kenapa?" sambung Dipa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Father (✔)
RomantikaMenjadi duda diusia muda siapa laki-laki yang mau. Tak hanya itu, ia bersama dua anaknya yang masih butuh figur orang tua lengkap tetapi tak bisa ia wujudkan. Pradipa Hirawan harus memerankan dua sosok demi anak-anaknya. Sayang, kelakuan absurd yan...
