Cekidot yes
____________
Dipa turun dari mobilnya, merapikan setelan kemeja serta jas mahal yang ia kenakan sambil mengunci pintu mobil dengan remote.
Dari kejauhan tampak Bryan berjalan menghampiri, ia memberikan tablet ke tangan Dipa. "Lo baca dulu rangkumannya, gue udah buat sesimple mungkin. Kedatangan lo nggak ada yang tau, bahkan semua orang di sini masih malas kerja karena berita perusahaan hampir is dead."
"Siapa yang sebarin berita perusahaan bakal kayak gitu?" Dipa tidak menatap Bryan saat bicara, masih fokus ke layar tablet di tangan kanannya.
"Gue juga nggak tau sih, Dip. Cuma yakin nggak jauh dari orang-orangnya mereka. Rino udah siapin ruang rapat, gue harus balik ke divisi, lo pegang aja tuh tablet. Sampe ketemu di ruang rapat." Bryan segera pergi meninggalkan Dipa dengan berlari pelan, ia tak mau terlalu kelihatan jika ia salah satu antek-antek Dipa.
Dipa paham apa yang terjadi setelah membaca semua rangkuman yang dibuat Bryan. Ia masukan tablet ke tas tenteng kerja miliknya dengan merek rumah fashion kelas atas, di dalamnya juga ada laptop dan beberapa berkas fisik yang ia cetak.
Langkahnya tegap, beberapa orang yang berjalan masuk ke lobi gedung berlantai tiga puluh menatap heran karena Dipa wajah baru di gedung itu. Bahkan sekuriti tak kenal dengannya.
Dipa melewati beberapa titik pemerikasaan bahkan menyerahkan KTP sebagai tanda penukaran dengan kartu visitor. Tak ada yang menyadari siapa Dipa.
Ia mengantri lift juga di tempat umum, padahal biasanya pemimpin perusahaan yang menempati beberapa lantai di gedung itu punya lift khusus, Dipa tak peduli.
Telunjuknya menekan angka lima belas, beberapa orang menoleh ke arahnya mereka heran siapa laki-laki tinggi tegap yang terlihat bak CEO menuju ke lantai yang sama dengan mereka? Dipa diam, ia terus menatap lurus ke depan padahal ekor matanya mendapati jika orang-orang tersebut berbisik tentangnya.
Tibalah di lantai lima belas, Dipa sengaja berjalan keluar lift paling akhir, dilihatnya seorang pria empat puluh tahun berdiri menatapnya. Dipa tau itu siapa.
Keduanya berdiri berhadapan, sama-sama mengenakan setelan jas rapi.
"Selamat datang kembali Pak Dipa," sapanya seraya mengulurkan tangan. Dipa menyambut, keduanya berjabat tangan.
"Apa kabar Pak Robi, lama kita tidak bertemu," balas Dipa lalu melepaskan jabat tangan.
"Semenjak Pak Dipa ... mmm ... nggak perlu dibahas. Ayo silakan, semua sudah siap dan berkumpul di ruang rapat. Saya pribadi senang Pak Dipa akhirnya muncul setelah selama ini cuma ada dibalik layar Papa anda dan perusahaan ini." Robi sangat senang, jelas saja karena apa yang selama ini Dipa kerjakan harus ia sampaikan ke Robi selain papanya.
"Ini, daftar nama karyawan kantor pusat yang kelihatannya sudah setengah hati bekerja. Apa Pak Dipa yakin mau rumahkan mereka. Nggak ada pertimbangan lain? Cari pekerjaan sekarang susah." Robi mencoba membuat Dipa sedikit melunak.
Dipa tersenyum sinis, "masih banyak orang serius mau bekerja diluar sana, Pak. Kita nggak butuh staf yang bisanya buang-buang uang perusahaan untuk bayar gaji mereka. Ayo kita mulai." Dipa memasang tatapan serius, Robi mengambil alih map warna coklat berbahan kulit dari tangan Dipa. Keduanya berjalan ke arah pintu masuk. Robi berjalan di belakang Dipa yang sangat gagah berjalan. Ia masukan satu tangan ke saku celana kiri, kepalanya tegak menatap lurus ke depan. Berjalan dengan aura dingin nan angkuh membua beberapa staf kebingungan karena tak tau siapa Dipa.
Dari balik kubikel, mereka saling berbisik. Sebelum belok ke kiri menuju ruang rapat, Dipa memutar tubuh, berdiri memindai semua staf.
"Yang sudah tidak mau bekerja di kantor ini, silakan bikin surat resign dan berikan ke Pak Robi. Saya tidak butuh karyawan pemalas! Buang-buang uang perusahaan!" bentaknya lantang. Ia ulurkan tangan ke Robi yang kembali memberikan map coklat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Father (✔)
RomansaMenjadi duda diusia muda siapa laki-laki yang mau. Tak hanya itu, ia bersama dua anaknya yang masih butuh figur orang tua lengkap tetapi tak bisa ia wujudkan. Pradipa Hirawan harus memerankan dua sosok demi anak-anaknya. Sayang, kelakuan absurd yan...
