Deep talk

5.9K 538 31
                                        

Markijut ....
____________

Nonton film selesai, makan malam juga sudah. Dipa denganm santai berjalan di sisi Leta sambil terus menggandeng tangan bu guru cantik itu.

"Kita mau ke mana lagi? Masih sore, baru jam sembilan." Dipa menoleh, lantas tersenyum.

"Terserah," jawab Leta. Ia memang tak tau harus ke mana, dalam pikirannya bisa jalan berdua dengan Dipa sudah membuatnya senang.

Akhirnya Dipa membawa Leta ke satu tempat yang sepi. Eits, jangan mikir ke mana-mana, Dipa berprinsip akan menjaga Leta dari hal-hal senonoh yang bisa saja datang tiba-tiba.

Mereka tiba di lokasi, kafe punya teman Dipa yang rooftopnya tidak di gunakan. Bangunan itu berbentuk ruko tiga lantai. Alunan musik jazz yang dimainkan home band, membuat syahdu suasana kafe.

"Gandengan baru, Dip?" sapa temannya.

"Iya. Gue pinjem rooftop bentar." Dipa terus melangkah menaiki anak tangga dari lantai dua ke tiga. Tak lupa ia membawa minuman soda dingin yang ia ambil dari show case di dapur kafe.

"Take your time, Dip." Temannya mengacungkan ibu jari. Dipa hanya membalas dengan satu anggukan kepala.

Rooftop diterangi lampu gantung beberapa buah yang saling terangkai dengan kabel. Dipa mengajak Leta duduk di kursi panjang dengan sandaran terbuat dari besi.

"Kita nggak apa-apa di sini, Mas?" Leta menoleh ke sana kemari, memastikan memang semua aman.

"Nggak apa-apa, kenapa? Takut ada demit?" cengir Dipa. Leta hanya mengusap tengkuknya sambil tersenyum. "Demitnya udah saya usir. Nggak boleh ganggu orang pacaran."

Leta lalu tertawa. Ia mencoba duduk bersandar setenang mungkin, mengamati langit malam tanpa bintang.

"Kamu kenapa suka sama saya, Let?" Obrolan dimulai. Dipa memang penasaran, apa alasan Leta suka padanya.

"Nggak ada alasan jelas, sih, ya ... suka aja."

Dipa tertawa pelan, "Pasti ada alasan. Saya penasaran banget. Suwer," tukan Dipa lalu membentuk jari angka dua.

"Apa, ya, Mas ... mungkin karena Mas Dipa baik, perhatian ke anak-anak dan nggak takut resiko apapun untuk bela anak-anak. Apalagi waktu Zena ada masalah dilecehkan itu. Saya lihatnya, Mas Dipa sosok Ayah yang baik."

Dipa GR, jantungnya serseran tapi ia coba tutupi. Maklum, dipuji pacar pasti ada rasa bangga yang berkali-kali lipat.

"Kalau Mas, gimana? Apa alasannya suka sama saya?" Leta memiringkan posisi duduknya menghadap Dipa.

Duda itu tersenyum simpul sambil menunduk. "Kamu unik, polos, jujur, apa adanya. Saya selalu kepikiran kamu hari demi hari tanpa saya sadari. Awalnya ... saya pikir ini cuma karena kamu care ke anak-anak saya, tapi ternyata enggak. Mungkin juga takdir."

"Takdir?" Leta mengerutkan kening.

"Iya, Leta, saya bukan orang yang gampang suka sama seseorang. Apalagi masa lalu saya pahit banget tentang cinta. Saya hancur banget waktu Celin pergi dengan cara nggak baik dan juga fitnah saya."

Leta tersenyum tipis. "Jadi, Mas udah bisa lupain mantan istri karena sekarang jalan sama saya?"

Dipa tergelak, membuang pandangan ke arah lain sebelum kembali menatap Leta. "Kalau saya bilang belum, kamu marah?"

Gelengan kepala Leta membuat Dipa bingung. "Lho, kok?" Gantian Dipa yang menunjukkan wajah bingung.

"Perasaan nggak bisa dipaksa hilang atau ada, Mas. Kalau Mas Dipa masih ada rasa sama Celin, saya bisa apa? Saya hapus juga nanti akan ada lagi. Semua kembali ke Mas Dipa."

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang