Markijut, skuy!
________________
Setelah istirahat satu hari juga mengobati luka, Leta kembali mengajar seperti biasa. Pekan mengolah data untuk bagi raport di depan mata. Di kamar kosannya, Leta sibuk memasukan nilai ke buku rapot anak-anak kelasnya yang sekarang lebih ke penjabaran seperti kritik dan saran bukan lagi terpatok nilai dan angka.
Sudah tiga jam Leta duduk di depan laptop dengan meja kecil andalannya, segelas es teh manis dan chiki kentang tadi ia beli di mini market menjadi temannya bekerja.
"Nilai Zena stabil, ini anak lebih suka ke seni dan ilmu sosial, matematikanya turun. Nggak apa-apa lah, anak beda-beda potensinya yang penting nggak jeblog nilainya." Leta bermonolog sendiri, ia lanjut mengetik rapot Zena, nanti akan di print esok hari di sekolah.
"Leta," suara itu menyapa, Leta menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. "Sibuk?" Dipa tak berani masuk, ia berdiri masih memakai kemeja kerja dengan kantong merk makanan cepat saji.
"Masuk, Mas. Udah mau selesai, lagi olah nilainya Zena, absen terakhir anak kamu, kan." Leta beranjak.
"Gimana nilai Zena?" Dipa melepas sepatu, ia berjalan masuk lalu mengusap kepala Leta lembut.
"Rahasia, nanti aja hari sabtu waktu kamu ambil rapot aku jelasin." Leta tersenyum. "Kamu bawa apa?"
"Makan malam kita. Belum makan, kan?" Dipa mencubit pelan pipi Leta lantas keduanya duduk melantai. Dipa memandang sekitar, kipas angin butut, kasur tipis, pengap, lemari pakaian bahkan tidak ada. Leta meletakkan pakaiannya di dalam keranjang yang ia beli di pasar dengan harga dua puluh ribu.
"Kenapa? Ada yang aneh?" tukas Leta seraya menyiapkan makanan. Dipa membeli paket nasi dan ayam goreng tepung lengkap dengan kentang, juga burger, tak lupa minuman soda.
"Mas mau ayamnya yang original atau pedas, ada dua, nih." Leta menyodorkan ke Dipa.
"Pedas. Leta, pindah kosan ya, jangan di sini." Dipa menatap iba.
"Ke mana?" lanjut Leta, ia bersiap cuci tangan di kamar mandi diikuti Dipa.
"Rumah aku." Dipa cengengesan.
"Ngaco," cibir Leta lalu berjalan melewati Dipa yang akan cuci tangan. Bahkan kamar mandinya begitu terlihat kusam. Dipa harus menahan hasrat beberesnya, ia rasanya mau sikat semua dan cat ulang, pasang shower juga lantai baru.
"Namanya juga kosan murah, Mas, maklumi aja. Yang penting aku jaga kebersihannya walau nggak bersih-bersih amat karena kondisinya udah lapuk di sana sini."
Dipa ikut bersila, duduk berhadapan dengan Leta yang mulai makan. Ia melepaskan kulit ayam, Leta tak suka, lantas menyuapi ke mulut Dipa yang langsung mangap. Ia senang disuapi Leta, apalagi kulit ayam dan nasi, rasanya sedappp sekali.
"Kenapa nggak suka kulit ayam?" Dipa lanjut makan sendiri.
"Nggak suka aja. Mas, Zano mau masuk SMP mana?"
"Internasional," jawab Dipa dengan mulut penuh.
"Pilihan kamu apa Zano?"
"Aku, sih. Kalau Zano mau yang biasa aja, karena dia mau cari temen lebih banyak. Ya padahal di sekolah pilihanku juga bisa, malah lingkungannya lebih luas."
"Biayanya?"
Dipa menatap Leta. "Yakin mau tau?"
"Iya. Sekolah yang mana, sih?"
"Arah kantorku, yang rata-rata pakai bahasa Inggris sama China kalau ngobrol." Dipa cengengesan.
Leta menghela napas panjang. Akhirnya mau tak mau ia membocorkan potensi Zano dari nilai yang ia tau dari guru kelas enam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Father (✔)
RomanceMenjadi duda diusia muda siapa laki-laki yang mau. Tak hanya itu, ia bersama dua anaknya yang masih butuh figur orang tua lengkap tetapi tak bisa ia wujudkan. Pradipa Hirawan harus memerankan dua sosok demi anak-anaknya. Sayang, kelakuan absurd yan...
