Markijut!
_________
"Emang kamu berani?" tantang Dipa dengan membungkukkan tubuh condong ke arah Leta yang memilih langsung pergi meninggalkan Dipa yang juga kembali berjalan ke arah Zano.
"Pa, jangan iseng. Kasihan Miss Leta kalau jadi diomongin banyak orang."
"Nggak, tenang aja. Ayo pulang." Dipa duduk di atas sepeda motornya disusul Zano, segera meluncur ke arah kantornya. Zano tak akan dibiarkan di rumah sendirian, Dipa takut terjadi hal buruk.
Leta duduk di kursi meja kerjanya yang ada di ruang guru sambil mengumpat kesal.
"Apa-apaan, dia. Resek banget." Leta memilih lanjut memeriksa tugas rumah anak muridnya yang baru dikumpulkan. Beberapa guru tampak masa bodoh dengan berita yang langsung beredar jika Leta dan Dipa ada sesuatu. Biasa kan, grup ibu-ibu sekolah cepat tanggap soal gossip terkini.
Benar tebakan Dipa, Leta baru saja kirim uang gajinya ke sang ayah yang memaksa. Habis sudah uang Leta, tersisa seratus ribu untuk bertahan hidup hingga nanti. Mau tak mau akhirnya ia menerima tawaran sebagai SPG lagi di akhir pekan.
Ia tak peduli jika harus mendapat omelan Dipa karena tak bisa memberikan les ke Zano akhir pekan nanti. Tentang touring juga, Leta tak mau ikut. Ia justru sekarang merasa jika Dipa sudah keterlaluan karena hal tadi.
Akhir pekan pun tiba, Dipa sudah menyiapkan keperluan touring bahkan meminta Zano dan Zena membawa tas ransel masing-masing diisi pakaian dua stel saja.
"Pa, Miss Leta nggak jadi ikut. Katanya kerja." Zena menenteng tas ransel menuruni anak tangga menuju Dipa yang sudah duduk menunggu di ruang TV.
"Kerja? Kok Miss Leta nggak kabari Papa, Zen?" Dipa merogoh saku celana jeans, hendak menghubungi Leta.
"Nggak tau. Emang Papa sama Miss Leta suka telponan. Papa suka ya sama guru akuuu ... ngaku, Pa ... ngakuuu ...," goda Zena yang langsung duduk di samping Dipa.
"Ada, deh, rahasia. Sana ke garasi, Papa mau telepon Miss Leta dulu."
Zena beranjak berjalan ke garasi yang sudah ada Zano sedang bersiap memakai sepatu kets. Dipa masih menunggu Leta menjawab panggilannya tapi tak kunjung ada.
Dipa mendengkus. Ia kirim chat ke Leta. Sama saja, sudah sepuluh chat tak di baca oleh wanita itu.
Sementara Leta, ia hanya melirik layar ponselnya yang ia pasang mode sunyi. Ia sedang bersiap di ruang mekap, kala itu ia akan menjadi SPG di pameran mobil ternama di Jakarta.
Leta memang sengaja menghindar, karena pada akhirnya ia dipanggil kepala sekolah akibat gossip itu. Ricuh semua orang, hal itu membuat Leta harus bisa lebih profesional.
Dipa mengunci pintu rumah, ia meminta Zena naik ke boncengan motornya. Zano dijemput Bryan dan langsung menuju ke titik awal yaitu bengkel Juan.
Ia tetap melakukan touring, selama perjalanan tak lepas ia memikirkan Leta. Bekerja apa? Di mana? Kenapa tidak bilang kepadanya.
Harusnya Dipa sadar jika ia bukan siapa-siapanya Leta, harusnya Dipa paham jika sikap seenaknya sendiri sudah membuat Leta kena tegur pihak sekolah.
Setelah menempuh perjalanan empat jam lamanya, mereka tiba di lokasi pantai Anyer. Deru ombak membuat semua orang tersenyum. Lelah terbayar apalagi pilihan vila yang diusulkan Fitri cukup private sehingga mereka bebas beraktifitas tanpa mengganggu orang lain.
Zano dan Zena segera bergabung dengan kedua anak Rino bermain di pinggir pantai setelah berganti baju. Dipa tersenyum sambil duduk di batang pohon kelapa yang tumbang teronggok tak jauh dari tempat anak-anak bermain pasir dan air laut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Father (✔)
RomanceMenjadi duda diusia muda siapa laki-laki yang mau. Tak hanya itu, ia bersama dua anaknya yang masih butuh figur orang tua lengkap tetapi tak bisa ia wujudkan. Pradipa Hirawan harus memerankan dua sosok demi anak-anaknya. Sayang, kelakuan absurd yan...
