Dipa vs Dika

5.6K 466 7
                                        

Markijut!
__________

"Jadi orang itu jangan gampang ambil kesimpulan sendiri, Mas. Kalau kayak gini jadinya kita salah paham seminggu lebih. Nggak nyaman rasanya." Lirikan Leta diiringi senyum tipis membuat Dipa tak henti mengecup punggung tangan Leta.

"Aku harus banyak diingetin kamu untuk hal ini. Bad habbit banget. Sorry," lirih Dipa.

"Iya nggak papa, tapi ... kita jadi bisa sendiri sementara dan berpikir kan?"

Dipa meletakkan genggaman tangannya dengan Leta di atas pangkuannya. Mereka masih duduk di tempat yang sama. Leta menjelaskan semuanya supaya Dipa tidak curiga lagi.

"Kamu kenapa nggak coba hubungin aku? Minimal basa basi tanya kabar."

Leta tertawa pelan, ia menggenggam jemadi Dipa erat. "Aku nggak mau. Karena aku tau kamu pasti bakal marah-marah lagi. Buat aku aku paksain kalau hati kamu masih belum mau terima penjelasanku. Kalau sekarang, berhubung Zena udah ditangani dokter, aku bisa curi waktu untuk ngobrol sama kamu. Mas Dipa ...."

"Hm? Ya?" Dipa lekat menatap, ingin rasanya menebus ngambek satu minggunya dengan selalu bersama gadis yang menggenggam hati juga hidupnya.

"Terima kasih udah mau dengerin dan pakai kepala dingin. Aku seneng kamu nggak ngegas lagi." Leta merapikan rambut Dipa dengan jemarinya. "Mas capek banget. Ya kerja, urus rumah, anak-anak. Seminggu ini aku nggak bantuin. Aku juga minta maaf, ya." Leta tampak sedih, tapi Dipa justru tersenyum lebar. Ia mengusap lembut wajah Leta dengan telapak tangan yang menganggur.

"Aku udah biasa, aku nggak capek, sayang. Kita ke kamar Zena. Kamu harus paksa Mas Zano pulang. Besok harus sekolah." Dipa beranjak, masih terus menggenggam jemari tangan Leta keduanya masuk kembali ke dalam kamar.

***

Dua hari sudah Zena dirawat. Setiap pulang sekolah ia selalu mampir ke rumah sakit untuk membawakan baju ganti Zena maupun Dipa dan mengantarkan Zano.

Mama papa akhirnya tau. Saat malam ke satu Zena dirawat, Mama dan papa datang langsung menjewer telinga Dipa saking gemesnya.

Leta membawa makanan juga, karena Zano pasti pulang malam ke rumah mama. Selama Zena dirawat Zano tidak boleh di rumah sendirian.

"Hai, Zena, udah enakkan?" Leta segera mendekat ke ranjang rumah sakit setelah meletakkan barang bawaannya.

"Udah, Bu. Ibu capek ya bolak balik ke sini udah dua hari?" Zena terlihat sedih. Leta menggelengkan kepala.

"Mas, jam besuk nanti jam lima. Guru-guru sebagian mau jenguk Zena. Nggak masalah, kan?" Leta pindah, ia duduk di samping Dipa yang sedang memangku laptop untuk bekerja.

"Nggak papa." Dipa menjawab namun kedua matanya masih menatap layar laptop.

Tepat pukul lima sore, perwakilan guru di sekolah sebanyak empat orang datang menjenguk. Dipa memasang muka sangar saat tau salah satunya adalah Dika.

Jelas Dipa merasa tersaingi apalagi Dika lebih muda darinya. Dipa hanya diam saat para guru bertanya ke Zena. Hingga satu pertanyaan dari guru bahasa inggris membuat Leta tak bisa berkata-kata.

"Miss Leta kok bisa di sini duluan? Terus kok bisa tau Zena dikamar ini? Bukannya tadi waktu di sekolah kita bahas mau jenguk Zena, Miss Leta diem aja?"

Dipa yang mendengar itu tak tahan lagi untuk bicara. Ia maju selangkah, mendekat ke Leta lantas berdiri di sisinya menghadap ke guru-guru.

"Leta calon istri saya, Miss. Kami pacaran sudah beberapa waktu ini." Dipa merangkul bahu Leta yang menundukkan kepala. Ia takut dengan reaksi para guru juga Dika.

"Owalah! Apa susahnya bilang, Miss Leta! Pak Dipa sama Miss Leta memang cocok, kok!" Guru bahasa inggris itu tampak sumringah. Namun tidak dengan Dika.

Dipa tau, Dika bukan sekedar teman masa kecil, pasti menaruh hati kepada kekasihnya. Tidak akan Dipa kasih celah.

"Bulan depan kami menikah, nanti undangannya saya bagikan melalui kepala sekolah. Nggak masalah wali murid dan wali kelas pacaran, kan, Miss, Mister?" tatap Dipa lekat. Para guru hanya  bisa tersenyum, lagi-lagi kecuali Dika.

Dipa merasa ia menang, tapi ia tak begitu saja melepaskan Dika. Saat pulang, Dipa mengajak Dika bicara berdua. Keduanya berdiri di parkiran mobil.

"Sekarang anda sudah tau Leta calon istri saya, kan? Jadi nggak usah terus coba dekati."

Dika memalingkan wajah, ia tertawa pelan. "Siapa yang mau dekati, Pak Dipa. Anda salah paham. Saya itu memang peduli dengan Leta sebagai tetangga masa kecil dan karena masalah keluarga yang akhirnya timbul rasa peduli saya. Pak Dipa jangan khawatir, saya nggak akan jadi duri diantara kalian. Saya nggak akan bikin diri saya sakit hati." Dika begitu serius menjelaskan niatannya dengan Leta.

"Ok. Saya pegang kata-kata anda. Sekali ingkar, jangan kaget saya  bikin malu juga sedikit pelajaran lewat fisik anda," tegas Dipa tanpa ragu.

Dika tergelak. "Pak, saya bilang sekali lagi. Leta juga pasti sayang sama Pak Dipa, dia itu orang yang komitmen, kalau A ya A. Mau apapun resikonya ya udah. Kalaupun nanti kalian menikah, saya bisa jamin kalau kami hanya seperti teman biasa. Jangan bebankan Leta dengan rasa cemburu anda. Saya sudah jelaskan dari sekarang. Bahagiakan Leta lahir batin, dia pantas dapatkan itu. Permisi." Dika meninggalkan Dipa yang masih diam berdiri di tempatnya. Sungguh lega rasa hati mengetahui hal itu.

Akan tetapi, saat Dika berjalan ke arah mobil sekolah terparkir, ia begitu sedih. Ternyata benar. Kamu udah ada yang punya, Leta. Aku terlambat. batin Dika dengan perasaan sedih di dalam hati.

Leta mendekat ke Dipa, ia lantas berdiri di sisi kanan Dipa. "Kak Dika udah jelasin semua, Mas?"

Dipa tersenyum. Tubuhnya di arahkan menghadap Leta. "Nilai satu sampai sepuluh. Dika berapa, aku berapa?"

"Mau ngapain sih minta pendapat kayak gitu?!" Leta cemberut.

"Ck. Jawab aja susah banget. Aku berapa dia berapa. Cepetan!" desak Dipa tak sabar.

"Oke. Sebentar aku mikir." Leta terpejam. Dipa menunggu detik demi detik. "Oke ..., untuk Dika delapan koma lima ... untuk Mas Dipa ... sepuluh!" Leta mengeluarkan jari tangan sepuluh, ia arahkan ke Dipa yang tertawa.

"Kok aku sepuluh?" gumam Dipa.

"Ya ... karena kamu ... kesayangan aku." Setelah berkata itu Leta mengulum senyum lalu Dipa tak kuasa untuk tidak mengusak rambut Leta hingga acak-acakkan.

"Mas! Ihhh!" protes Leta. Dipa berlari pergi sambil terus tersenyum kembali masuk ke rumah sakit. Sementara itu Leta hanya bisa berjalan pelan menyusul sambil memegang dadanya karena begitu bahagia dan berdebar luar biasa.

Leta dan Zano bersiap pulang bersama sopir. Saat sedang bersiap, Dipa menghampiri Leta yang duduk di sofa.

"Nanti kalau Zena udah sehat. Kita ke Hongkong. Temui Ibu kamu sekaligus aku mau minta restu sama beliau."

Mendengar itu Leta hanya bisa diam ditempat.

"Ibu kamu masih ada. Hidup dan sehat. Kamu nanti bisa ngomong sama Ibu kamu, apapun. Beliau siap dengarkan semuanya. Mau kamu marah atau apapun. Aku harap, ini hadiah awal kita mau menikah sebelum aku kasih kamu hadiah lainnya setelah kita ... resmi menjadi suami istri." Dipa membelai lembut wajah Leta yang menjadi muram. Ia hanya diam, tak bisa mengungkapkan perasaannya saat tau ibunya dalam keadaan baik-baik saja.

bersambung,

Single Father (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang