Markijut!
__________
"Mas, kita beneran pulang ya, besok sabtu, anak-anak ambil rapot. Aku nggak mau terlambat," ujar Leta sesaat sebelum ia naik ke boncengan motor Dipa.
"Siap, Sayang. Naik, kita buru-buru." Dipa menepuk jok belakang, Leta segera naik. Ia sudah memakai jaket dan helm yang disiapkan Dipa. Tas ransel juga dipakai Leta yang isinya hanya satu pasang baju ganti, handuk kecil dan peralatan mandi, sekedar jaga-jaga saja jika gerah, semua diletakkan dalam satu tas ransel, baju milik Dipa juga.
"Pegangan, kaku banget sama calon suami," kesal Dipa tapi diakhiri ledekan. Ia menarik kedua tangan Leta supaya memeluk pinggangnya.
"Jangan ngebut-ngebut," pinta Leta.
"Bawel kamu." Dipa menghidupkan mesin motor lantas melaju ke jalanan. Dipa jelas akan berhati-hati walau selap selip saat jalanan memang lowong, ia bukan orang yang mentang-mentang mengendarai motor besar atau bermerek ternama, seenaknya jadi raja jalanan. Semua orang punya hak atas jalan umum, bukan berarti semena-mena juga apa lagi mengganggu pengendara lain. Tetap, mengendarai kendaraan bermotor harus punya adab dan akhlak supaya tidak membahayakan orang lain.
Leta terus memeluk Dipa, ia tersenyum sesekali karena baru pertama pergi berdua, motoran juga ke luar kota Jakarta walaupun masih terbilang dekat jaraknya.
Dipa sendiri begitu bahagia, ia sesekali mengusap punggung tangan Leta yang memeluknya, lalu saat lampu merah keduanya bicara tentang hal random. Seperti menanyakan Leta senang tidak diajak pergi mendadak? Atau kapan-kapan pergi ke tempat yang agak jauh motoran berdua lagi.
Love is on the road, mereka tak lepas tersenyum juga tertawa.
Udara dingin kawasan puncak Bogor di jam lima sore terasa dingin. Leta kembali tersenyum saat merasakan udara yang berbeda.
"Kita udah mau sampai, mau ke toilet dulu, nggak?" ajak Dipa.
"Nggak, Mas. Lanjut aja." Leta menjawab tapi menatap sekitar. Sungguh ia cukup merasa norak sendiri karena baru bisa menikmati jalan-jalan dengan suasana berbeda.
Tibalah di lokasi, acara diadakan di kawasan Gunung Mas. Sederet motor besar terparkir apik dan rapi. Dipa menunjukkan kartu anggota juga undangan online, lantas memarkirkan sepeda motornya.
Suasana ramai, gelak tawa juga terdengar riuh. Leta melepaskan helm, ia berikan ke Dipa yang memasukkan ke box. Dipa mengacak rambutnya dengan kelima jari, tapi Leta menggeleng, ia rapikan dengan jemarinya supaya rapi.
"Mas nggak pantes acak-acakkan rambutnya, sini aku rapihin bajunya juga." Leta beralih merapikan kaos dalaman yang dipakai Dipa, jaket kulit tetap ia pakai.
Keduanya berjalan bersisian, Dipa menggandeng tangan Leta. Daftar ulang selesai, Dipa disambut riuh semua orang. Dengan senyum singkat lalu seketika tampak dingin, Dipa menyapa semua orang.
Leta terus berada di sisi kekasihnya, ia juga diperkenalkan. Semua kaget tapi juga senang. Ketakutan Leta tak terbukti, bahkan ada para istri yang ikut, mengajaknya ke sisi lain aula yang di sewa untuk ngobrol di sana.
"Leta, ayo dinikmati hidangannya. Capek pasti, kan," tukas salah seorang wanita.
"Iya, Mbak, makasih," ujar Leta lantas berjalan ke meja prasmanan, ia ambil cangkir yang lantas diisi teh panas, juga mengambil piring kecil untuk meletakkan camilan kue maffin dan pisang coklat.
"Sini duduk," ajak lainnya. Leta duduk di kursi yang kosong, ada sekitar dua puluh lima perempuan di sana termasuk Leta.
Obrolan terjadi sambil menikmati camilan sore sebelum masuk makan malam yang disiapkan petugas catering.
"Leta guru di sekolah itu?! Anak saya sekolah di sana, kelas tiga!" seru salah satunya.
"Oh ya, siapa Mbak kalau boleh tau nama anaknya?" Leta juga tampak semangat.
"Vania. Vania Prinsesa."
"Oh, ya ampun. Vania, saya ngajar bahasa Inggris di kelas Vania. Anaknya cantik dan ramah," sambung Leta.
"Syukurlah, anak saya baik-baik aja di sekolah, dan ternyata ini Miss Leta yang katanya jadi guru kesayangan semua murid."
Leta menunduk malu, ia tersenyum. Tak tau jika anak muridnya menjadikan ia guru kesayangan.
"Leta, beneran calon istri Dipa? Kata suami saya, sempat ada kejadian asusila di kantornya, apa benar?"
Lalu semua mata menatap fokus ke Leta. Ia tersenyum, masih sambil memegang cangkir teh di tangan ia menjawab pertanyaan tadi.
"Manusia tempatnya salah, Mbak, saya tau Mas Dipa khilaf dan ada hal lain yang bikin Mas Dipa begitu. Semua sudah clear, saya paham dan memaafkan." Leta menutup dengan tersenyum lagi.
"Iya sih, kaget aja. Dipa yang baru muncul setelah lama menghilang, tau-tau bikin heboh. Bagus kalau kamu mau mengerti. Lagian, mantan istrinya gila, malah pergi gitu aja dan ah ... nggak habis pikir saya. Terus ... kapan kalian nikah?"
Mendengar itu Leta menjadi kaget, ia berdeham. Tak tau harus menjawab apa.
***
Makan malam menu khas sunda dinikmati semua orang dengan lahap. Pun Leta dan Dipa. Dipa terus berada di sisi Leta, tak beranjak barang sedetik semenjak semua orang tau Leta calon istrinya.
Leta mulai gelisah setelah jam menunjukkan diangka sembilan. "Mas, pulang, yuk."
Dipa mengangguk. Ia beranjak saat acara karaoke bersama. Semuanya menyangkan, tapi mengerti karena besok Leta ada urusan pembagian rapot. Orang tua Vania juga pulang ke Jakarta, sudah sejak satu jam lalu.
Angin dan udara sangat dingin. Dipa tancap gas karena merasa grimis mulai turun. Benar saja, baru sepuluh menit pergi, hujan lebat turun. Dipa menepi di warung kopi, Leta tampak cukup basah. Dipa memesan minuman hangat ke penjual kopi.
"Mudah-mudahan nggak lama hujannya," gumam Dipa. Ia jadi khawatir jika hujan akan awet alias lama. Kasihan pacarnya besok sudah sibuk di sekolah.
"Mas," lirih Leta. Dipa menoleh, ia terkejut saat hidung Leta mengeluarkan darah. Segera Dipa ambil tisu. Leta mimisan.
"Pusing nggak kepalanya?!" Panik, itu yang Dipa rasakan. Leta menggeleng. Dipa membantu membersihkan darah yang masih mengalir dari hidung Leta. Pemilik warung kopi bahkan ikut panik.
"Nggak usah panik, Mas, ini pasti karena perubahan suhu Jakarta sama Puncak, badanku kaget." Leta meraih tisu ke tiga. Ia menunduk supaya darah keluar, justru tak boleh mendongak karena akan bahaya.
Dipa pindah duduk ke belakang Leta, ia meraih kunciran rambut dari dalam tas ransel lantas menguncir rambut Leta dengan rapi.
"Suaminya romantis banget," tukas penjual kopi, seorang wanita paruh baya. "Roti bakarnya, Teh, dimakan supaya nggak masuk angin. Mudah-mudahan cepat reda hujannya, ya."
"Makasih, Bu." Leta meraih piring, ia letakkan di samping cangkir teh jahe miliknya.
Dipa mencuri ciuman di pipi Leta lalu merangkulnya. "Senderan aku aja, kamu capek," bisik Dipa lalu menarik tubuh Leta bersandar ke dadanya. Leta begitu nyaman, keduanya diam, menikmati suara derasnya hujan, padahal di dalam hati sama-sama ketar ketir, kapan hujan reda, masa iya terjebak di sana. Apa kabar rapot anak-anak?
bersambung,
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Father (✔)
RomanceMenjadi duda diusia muda siapa laki-laki yang mau. Tak hanya itu, ia bersama dua anaknya yang masih butuh figur orang tua lengkap tetapi tak bisa ia wujudkan. Pradipa Hirawan harus memerankan dua sosok demi anak-anaknya. Sayang, kelakuan absurd yan...
