Tertangkap basah

6K 507 39
                                        

Double Up! Markijut!

_________________

Hari ke empat Celin ada di rumah itu, Dipa akhirnya bisa mengurangi ketegangan otot lehernya karena emosi jika bersama Celin, suasana mulai mencair bahkan saat Dipa mau bertemu Leta. Dengan santai Celin izinkan, ya untuk apa juga dilarang.

Sebelum datang ke kosan Leta selepas pulang kerja, Dipa sempatkan bertemu tiga sahabatnya di bengkel Juan, seperti biasa.

"Celin udah beberapa hari ini nginep di rumah lo?! Gila sih lo, Dip," seru Rino keheranan hingga berdecak.

"Leta tau, kok," tukas Dipa sambil membakar sebatang rokok yang ia jepit dengan sudut bibirnya. "Leta juga kayak kasih kesempatan Celin dekat dengan anak-anak juga sebaliknya," lanjut Dipa seraya bersandar santai di sofa.

"Kasih kesempatan ke elo juga kali!" sambung Bryan. Ia tampak sangat tidak suka saat Celin mendadak muncul di hidup sahabatnya lagi.

"Ngaco. Gue cinta sama Leta." Dipa menatap serius ke Bryan.

"Ya kali aja. Hati lo goyah. Lagian, Leta apa nggak sakit hati atau minimal nyeri tuh perasaan pas lihat Celin serumah sama lo dan bahkan rayain hari ibu di sekolah? Gue rasa Leta punya tujuan lain." Semua menatap kompak ke arah Bryan.

"Apaan?" Juan mulai bersuara. Ia duduk di kursi kerjanya sambil membuat laporan harian bengkel.

"Ya apa lagi selain menyatukan keluarga yang tercerai berai bisa bersatu kembali." Bryan begitu serius, ia termasuk laki-laki yang feelingnya kuat dibanding ketiga sahabatnya. Dipa diam, tatapannya tak pindah dari rokok yang menyala terselip diantara jari telunjuk dan tengah tangan kanannya. Apa iya yang dikatakan Bryan? Memang, jika dilihat, Leta beberapa hari ini juga seperti menghindar darinya.

Motor melaju cepat, tanpa pikir panjang Dipa segera ke kosan Leta. Namun sangat disayangkan, Leta tak ada. Kata ibu kost, Leta sudah sejak kemarin pulang larut, jam dua belas atau satu baru sampai kosan. Dipa izin menunggu di teras, ibu kost mengizinkan asal setelah Leta pulang, Dipa juga pulang.

Dipa duduk di kursi, lalu pindah melantai bersandar pada pintu kamar kosan. Terus mencoba menghubungi Leta tapi tak bisa juga. Perutnya lapar setelah ia dua jam menunggu, alhasil ia pergi untuk mencari makan malam seorang diri.

Ia tiba di bistro milik temannya dikawasan perkantoran. Di kanan bangunan bistro, ada family karaoke, lalu restoran korea bbq dan salon kecantikan yang banyak disambangi karyawati juga orang-orang sekitar yang punya duit lumayan banyak.

Dipa menikmati makanannya sambil menatap keluar jendela, mendadak bola matanya terkejut saat ia melihat sosok perempuan yang sedang membawa ember besar ke halaman belakang salon kecantikan. Segera Dipa pergi setelah membayar, belum habis makanannya.

Diam-diam Dipa mendekat, bersembunyi di dekat barisan motor terparkir yang tampaknya milik karyawan untuk mengamati Leta. Wanita itu sedang menjemur handuk kecil dari salon, kebetulan halaman belakang tertutup kanopi dan tempat blower AC jadi handuk bisa cepat kering.

Masih berdiri di sana, Dipa terus mengamati. Hingga Leta selesai menjemur handuk-handuk, lalu kembali ke dalam salon. Jam sembilan malam salon tutup, hanya lampu halaman belakang dan lampu bagian dalam menyala. Dipa berjalan perlahan, mencoba mengintip siapa yang ada di sana, apakah Leta?

Benar saja, Dipa mengintip setelah menggeser pintu kaca ke samping, ia melihat Leta sedang menyikat kamar mandi, membersihkan dengan benar lalu setelah itu bersiap menyapu ngepel lantai bawah dan atas. Wajah lelah Leta ditangkap Leta, ingin rasanya segera menegur tapi Dipa tau tak mau menimbulkan keributan.

Tepat jam sebelas malam, Leta baru pergi dari sana setelah menyerahkan kunci ke sekuriti, ia berjalan kaki menuju halte busway terakhir yang akan beroperasi. Buru-buru Dipa ikuti dengan sepeda motornya tetap diam-diam.

Single Father (✔)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang