Veve Zulfikar - Al-hubb Fi Shomti
Happy Reading
-----
Yang menurutmu benar belum tentu benar menurut Allah. Begitupun suatu tuduhan belum tentu benar jika kamu belum mengenalnya.
Nura Ileana
***
Cut Ahya Zaheera, dari tadi Ahya hanya menatap kosong kearah tanaman, bibirnya terus mengulang kata seperti sindrom.
"Enggak, aku gak salah, aku gak salah, aku ga salah." Lirihnya. Sadar tidak sadar kata-kata itu terus terucap tanpa berhenti.
Di posisi Ahya itu serba salah. Mungkin, orang akan menganggap ini lebay, tapi bagi Ahya yang tidak pernah sedikitpun menyakiti orang dia akan sangat merasa bersalah, padahal keadaan Ahya saat itu sedang dalam keadaan darurat.
Airmata Ahya menetes seiring kalimat itu berulang kali, hatinya masih merasakan sakitnya saat melihat Moza terluka. Ahya ingin menemuinya tapi dia takut keluarganya akan lebih terancam jika dia mendekati Moza.
MEDA Hospital adalah rumah sakit tempat ibunya dirawat bersamaan dengan itu Moza pun dirawat disini juga. Ahya tidak bisa apa-apa dia sungguh merindukan sahabatnya, tapi dia tidak mampu menemuinya, sebut saja dirinya pengecut.
Jika tadi Ahya tidak mengikuti Issac mungkin Ahya tidak akan tahu sama sekali tentang keadaan Moza.
"Nih, sebentar lagi berbuka." Seseorang duduk dibangku yang sama dengan Ahya, mereka tidak saling berdempetan agak berjarak sedikit dan tengahnya diisi oleh sebotol air mineral oleh orang tersebut.
Entah sadar, Ahya tetap tidak bergeming. Dia menangis dan bibirnya terus mengucapkan hal yang sama. Laki-laki disampingnya hanya diam seakan menerima semua curahan hati Ahya.
Audzubillahi minas syaithonirrojim
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
Latin :
lâ yukallifullâhu nafsan illâ wus'ahâ, lahâ mâ kasabat wa 'alaihâ maktasabat, rabbanâ lâ tu'âkhidznâ in nasînâ au akhtha'nâ, rabbanâ wa lâ taḫmil 'alainâ ishrang kamâ ḫamaltahû 'alalladzîna ming qablinâ, rabbanâ wa lâ tuḫammilnâ mâ lâ thâqata lanâ bih, wa'fu 'annâ, waghfir lanâ, war-ḫamnâ, anta maulânâ fanshurnâ 'alal-qaumil-kâfirîn.
Shodaqollahul adzim
Seketika Ahya sadar, bibirnya tidak lagi mengucapkan kalimat berulang tadi, telinganya sadar bahwa suara ini tidak asing baginya. Ahya tahu betul suara ini persis seperti lantunan adzan yang setiap Dzuhur dan ashar berkumandang di dekat kontrakannya.
Wajah Ahya menoleh kearah kanan, disana terdapat seorang laki-laki, wajahnya tidak terlalu jelas karena setengah wajahnya tertutup oleh masker.
KAMU SEDANG MEMBACA
AYZA (Tamat)
SpiritualitéSPRITUAL-teenfiktion 🚫 Diambil positifnya buang negatifnya ^|^ Hidup itu antara takdir dan realistis, ketika manusia sudah tahu dia mau berjalan kemana dia akan tuju posisi itu walaupun keadaan menentang. Seperti Moza yang mulai penasaran dengan Is...
