Bukan Mimpi

775 76 8
                                        

Seperti mimpi, Bulan mencubit dan memukul tubuhnya berkali-kali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Seperti mimpi, Bulan mencubit dan memukul tubuhnya berkali-kali. Memastikan hari itu ia tidak sedang bermimpi. Gadis itu berguling di tempat tidur. Semalaman tidak bisa terpejam dengan perasaan senang bukan main. Jantungnya berdegup kencang seolah akan keluar. Bagaimana tidak. Lelaki yang semalam menolongnya adalah SAMUDRA ALTERIO. Yap, sang idola. KTP itu masih di tangannya. Bulan menatap benda persegi empat itu dalam-dalam. Tidak menyangka tanda pengenal idolanya itu ada di tangannya. Dan semalam, Samudra meminta nomornya. Samudra. Bulan ingin menangis rasanya.

"Nad, please bilang kalo gue gak lagi mimpi!" Kalimat pertama yang keluar kala Nadia menjawab panggilan teleponnya.

"Lo emang gak mimpi. Kenapa sih?" tanya Nadia penasaran.

"Coba tebak apa yang ada di tangan gue sekarang!" Bulan kembali berguling. Ia senang bukan kepalang.

"Apa sih?" geram Nadia.

"Udah gue kirim," sahut Bulan setelah mengirim gambar yang tadi diambilnya dari ponselnya.

"Bulan? Kok bisa? Lo gak lagi ngibulin gue kan?" Nadia histeris setelah menerima pesan yang dikirin sahabatnya itu.

"Please bilang kalo ini nyata, Nad."

"Lo nyuri KTP orang?"

Bulan mendengus. Andai saja Nadia di dekatnya, sudah dipastikan satu pukulan mendarat di kepala gadis itu.

"Semalam gue dianterin pulang sama dia! Aaa Bunda!" histeria Bulan. Dadanya masih berdegup. Tidak berubah sejak pertama ia memeriksa tanda pengenal itu dan menyadari siapa pemiliknya.

Ketukan pintu membuatnya buru-buru menyembunyikan benda persegi empat itu. Bulan berlari menyambut orang yang mengetuk pintunya. Ia tersenyum sesaat karena senyuman itu seketika luntur melihat wajah Bunda yang seperti sedang ingin menelannya.

"Bunda kapan pulang?" tanya Bulan ragu. Pasalnya ia mengira kedua orang tuanya masih di Batam.

"Mobil kamu mana?" Alih-alih menjawab, Bunda memberinya pertanyaan. Wajah tegas khas kepala sekolah itu membuat Bulan ciut. Gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam. "Bulan, Bunda nanya ini!" imbuhnya.

"Di bengkel Bunda. Semalem mogok."

Bunda berdecak dibuatnya. Bulan menutup mata karena ia yakin dalam beberapa detik wanita di depannya akan mengomel.

Satu...dua...ti....

"Abang kamu kan udah sering ingetin, Bulan. Service mobilnya. Jangan dipake doang. Kalo kamu males bawa ke bengkel tinggal ngomong sama Ayah atau Bunda biar kita yang urus. Kamu kenapa diem-diem aja sih? Kita kira mobil kamu sudah aman dan kamu gak perlu bantuan. Sekarang dimana mobilnya?" Bunda mulai mengomel bahkan sebelum Bulan selesai berhitung di dalam hati.

Bulan mengumpat dalam hati. Ia bahkan tidak tahu Samudra membawa kemana mobilnya. Ia juga tidak tahu bagaimana cara mencari lelaki itu. Mati sudah. Ia pasti akan dimarah habis-habisan karena tidak tahu keberadaan mobilnya dimana.

Cinta Pertama RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang