Pagi-pagi

685 83 13
                                        

Bulan berdecak berkali-kali ketika Nadia memintanya untuk menjemput gadis itu padahal itu masih terlalu pagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Bulan berdecak berkali-kali ketika Nadia memintanya untuk menjemput gadis itu padahal itu masih terlalu pagi. Masih pukul setengah enam pagi dan Nadia sudah berisik meneleponnya berkali-kali. Itu adalah hari minggu dimana seharusnya Bulan bisa bangun lebih siang tanpa presure apa pun. Sahabatnya itu mengacaukan rencananya. Dan parahnya lagi, ternyata Nadia memiliki rencana untuk pergi bersama Daffa dan meninggalkannya sendirian di basecamp The Orion alias rumah Samudra.

Masih pukul enam pagi, langit pun masih cukup gelap dan Bulan duduk di sana seorang diri. Di ruang tamu rumah berlantai dua tersebut sambil memainkan game cacing di ponselnya. Samudra sepertinya belum bangun karena rumah itu terlihat begitu sepi. Rasa penasran Bulan terpancing. Kemana keluarga Samudra? Apakah dia tinggal sendirian di rumah itu? Bulan melangkah mengedarkan pandangannya ke seisi rumah. Tidak ada foto atau pun tanda-tanda kehadiran keluarga Samudra di sana. Bahkan isi kulkas lelaki itu hanya dipenuhi dengan botol air mineral dan minuman kaleng. Di dapurnya tidak ada peralatan dapur yang berlebih. Hanya satu wajan dan spatula, satu set pisau dan beberapa perlengkapan makan. Bahkan panci pun tidak ada.

"Bulan?"

Gadis itu membalik tubuhnya ketika mendengar namanya dipanggil kemudian berbalik. Dadanya berdegup melihat penampilan Samudra pagi itu. Rambutnya acak-acakan dengan wajah khas bangun tidur, mengenakan kaos tanpa lengan berwarna putih dan celana pendek berwarna biru yang mampu memamerkan bulu di kaki hingga pahanya.

"Kamu ngapain pagi-pagi di sini?" tanya Samudra sambil melangkah menuju dapur, mendekati Bulan yang tadi memang berada di dapur karena penasaran.

"Aku diajak Nadia tapi dia malah pergi sama Kak Daffa dan ninggalin aku di sini," keluh Bulan. Gadis itu menggeser sedikit tubuhnya saat Samudra membuka kulkas dan meraih satu kaleng minuman di dalamnya. Namun sebelum Samudra berhasil membukanya, tangan Bulan terlebih dahulu mendarat di atas kaleng tersebut untuk menutupi pembukanya. "Kak, pagi-pagi jangan minum soda. Gak baik buat kesehatan, itu banyak gulanya." Bulan bergerak mengambil sebotol air mineral dan membukanya. "Air putih lebih sehat," ucapnya sembari meraih kaleng soda di tangan Samudra dan menggantikannya dengan air putih yang tutupnya sudah ia buka itu.

Samudra menurut. Ia meminum air yang diberikan Bulan dengan sudut bibir terangkat tanpa ia sadari. "Udah sarapan?" tanya Samudra yang sebenarnya sudah pasti dijawab belum oleh Bulan karena itu terlalu pagi.

Samudra meletakkan botol yang isinya tinggal setengah itu di atas meja kemudian melangkah menuju kamarnya di lantai atas untuk berganti pakaian.

Menikmati bubur di pagi hari bersama pacar.

Bulan memejamkan mata sembari menahan senyumnya. Ia tidak pernah membayangkan adegan dalam cerita fiksi yang sering dibacanya ia alami juga. Duduk bersebelahan dengan pacarnya menikmati semangkok bubur di pagi hari. Terlebih pacarnya adalah Samudra Alterio. Lelaki yang selama ini hidup dalam dunia khayalnya. Ia nampaknya harus berterima kasih sekali lagi pada Nadia kalau bukan berkat dirinya mungkin pagi itu ia masih meringkuk di atas tempat tidur sambil menunggu ucapan selamat pagi dari Samudra yang mungkin saja tidak diterimanya.

"Buburnya gak enak ya?" tanya Samudra yang membuat semua orang menoleh termasuk penjualnya membuat Bulan merasa tidak enak hati.

"Enak kok kata siapa gak enak?" sahut Bulan dengan suara yang lebih tinggi.

"Terus kenapa diaduk aja? Gak dimakan?" Bulan segera menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya saat mendengar pertanyaan itu. Samudra tidak tahu saja gadis itu sedang berdamai dengan ribuan kupu-kupu dalam perutnya. Sekali lagi, bersama Samudra tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

Setelah menandaskan sarapannya, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah Samudra. Bulan duduk tenang di belakang lelaki itu tanpa bersuara karena masih merasa yang ia alami pagi itu tidak nyata. Keduanya tidak bersuara hingga mereka tiba di kediaman Samudra.

"Kamu tinggal sendirian di sini?" tanya Bulan penasaran. Samudra mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bulan membuat gadis itu kembali mematung dengan jantung yang seakan ingin melompat keluar. Saat itu keduanya duduk bersebelahan di sofa dengan tubuh Samudra yang sedikit merosot sehingga kepalanya sejajar dengan bahu Bulan.

"Orang tua kamu kemana?" tanya Bulan setelah berhasil menetralkan debaran jantungnya. Samudra tidak menjawab. Matanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang tidak bisa Bulan artikan.

Kemudian Bulan mengeluarkan ponselnya dan membiarkan Samudra tetap bersandar di bahunya. Samudra terkekeh melihat fotonya di layar ponsel gadis itu. Lelaki itu merebut ponsel Bulan dan membuka kameranya. Ia memotret dirinya yang masih bersandar di bahu bulan dan menyerahkannya.

"Walpaper kamu udah banyak orang yang punya."

Mata Bulan berbinar, ia mendapat ide untuk meminta lebih banyak lagi foto Samudra yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ia ingin mendapat asupan atas ketampanan idolanya itu secara exclusive. Bukankah Bulan memang harusnya mendapat privilage atas statusnya sebagai pacar?

"Aku udah naik kasta kan kak? Bukan fans sembarangan lagi?" tanya Bulan ketika ia sibuk memilih foto di galeri Samudra saat gadis itu meminta lebih banyak fotonya.

"Iya, kirim aja semua kalo kamu mau."

"Nggak. Yang udah ke upload aku gak mau."

"Jangan yang itu, aku gak sendirian," komentar Samudra ketika Bulan hendak mengirim foto Samudra bersama tiga orang rekannya.

"Ya kan bisa aku crop. Lagian di foto ini kamu ganteng banget dan pasti belum ada yang punya. Nanti aku pamerin ke temen-teman fanbase kamu biar mereka iri."

"Kamu join fanbase?"

Bulan mengangguk. "Baru tiga bulan, sih. Aku pengen tahu banget semua tentang kamu soalnya. Kalau ada Samurai kan kita bisa sharing banyak hal. Terus bisa berbagi fancam, foto dan video kamu. Kalo nonton konser juga jadi seru karena ketemu orang yang punya idola yang sama. Asyik juga karena jadi gak ngehalu sendirian."

Samudra menggelengkan kepalanya ketika mendengar penurutan gadis itu.

"Kalau aku bilang habis makan bubur sama kamu pasti aku dikatain habis-habisan sama mereka."

"Coba kirim di grup kalian foto yang nyender di bahu kamu tadi."

"Gila kak, aku bisa dikira nyewa tukang edit andal, sih."

Keduanya kembali terdiam dengan Bulan yang sibuk memilih foto di ponsel Samudra hingga seorang memasuki rumah tersebut. Dia Alvin yang melempar senyum tipis pada Bulan ketika mata mereka bertemu kemudian memindai penampilan gadis itu dari atas ke bawah. Samudra telah mengangkat kepalanya saat mendengar deru kendaraan di luar rumah tadi.

"Tumben udah melek jam segini?" tanya Alvin yang kemudian duduk di single sofa. "Bulan juga kok pagi-pagi udah di sini?"

"Tadi aku sama Nadia, Kak. Tapi dia malah pergi sama Kak Daffa dan ninggalin aku sendirian di sini. Untung Kak Sam udah bangun."

Alvin mengangguk paham. "Maklumin aja lagi bucin-bucinnya. Nanti kalian juga bakal gitu. Ya gak Sam?"

"Hmm...."

Cinta Pertama RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang