Beraksi dari panggung ke panggung berasama The Orion, band yang dibentuknya beberapa tahun lalu dan kini sedang naik daun ternyata tidak bisa membuat seorang Samudra Alterio berhenti kesepian. Hidupnya masih terasa kosong meski ada ribuan penggemar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Udah jadi pacarnya lo masih nontonin potongan videonya? Mending ajak video call orangnya langsung, Lan," gumam Nadia saat keduanya rebahan di atas tempat tidur Bulan. Nadia yang sibuk berkirim pesan dengan Daffa sementara Bulan masih menonton aksi kekasihnya itu di layar ponsel.
"Jangan kenceng-kenceng nanti orang tua gue denger."
Nadia terkekeh mendengarnya kemudian kembali fokus pada ponselnya. Berbalas pesan dengan Daffa. Sesekali senyumnya terangkat bahkan terbahak oleh pesaan yang diterimanya membuat Bulan menatapnya nanar. Samudra tidak seperti Daffa yang asyik. Lelaki itu terlalu cuek.
"Tadi dia di kampus bikin heboh."
Nadia membalik tubuhnya yang awalnya tengkurap kini berbaring ke samping memandang Bulan dengan satu tangan menopang kepalanya agar lebih tinggi.
"Jadi banyak yang nanya hubungan gue apa sama dia. Gue gak mungkin bilang kita pacaran, kan? Bisa diamuk fans-nya gue."
"Terus lo jawab apa?"
"Samudra punya hutang sama gue. Gue asal bunyi aja soalnya gak punya jawaban apa-apa."
Nadia tentu tertawa mendengarnya kemudian ia teringat bertemu dengan Samudra di tempat parkir dan menceritakan banyak hal tentang apa yang Bulan alami setelah pulang dari rumahnya kemarin. Bulan menangis tersedu sepanjang perjalanan dengan mulut yang tidak berhenti berbicara. Ia juga menceritakan pada Samudra kalau selama ini Bulan belum pernah pacaran atau menyukai siapa pun. Jadi sikap cuek Samudra itu mungkin membingungkan Bulan padahal yang mengajaknya pacaran adalah lelaki itu. Nadia juga bertanya pada Samudra tentang keseriusannya memacari Bulan. Jangan sampai sahabatnya itu terluka karena menjatuhkan hati pada orang yang hanya ingin mempermainkkannya.
"Lan, sebenarnya lo masih punya hutang tahu ke gue," ucap Nadia mengalihkan pembicaraan dari Samudra.
"Apa?"
"Jajanin gue sebulan, turutin semua kemauan gue dan beliin apapun yang gue mau."
"Iya tinggal bilang aja. Asal jangan nyuruh gue jadian sama Jaya aja, geu udah punya Samudra."
"Kalo lo gak punya Samudra lo mau pacaran sama Jaya?"
Bulan bergidik mendengarnya. Jaya adalah teman satu angkatan yang terang-terangan menyukai Bulan. Lelaki itu beberapa kali ditolak cintanya oleh Bulan namun tidak pernah menyerah. Jaya bisa dibilang tampan. Banyak perempuan yang pasti bersedia menjadi pacarnya namun Bulan tidak. Tidak ada hal lain selain wajahnya yang bisa Jaya andalkan. Dia tampan tapi lupa mengisi kepalanya. Membiarkannya kosong dan Bulan tidak suka lelaki berotak kosong.
Selain Jaya sebenarnya ada beberapa lelaki lagi yang menaruh hati pada Bulan namun tidak pernah gadis itu hiraukan. Mungkin karena itu Zara selalu mengibarkan bendera perang dengannya. Zara suka menjadi pusat perhatian. Suka kalau dikelilingi banyak laki-laki. Dia sangat mudah tersanjung akan pujian dan ingin menjadi satu-satunya orang yang dilirik oleh lelaki. Bulan kesal kalau mengingat kutu beras itu.