Beraksi dari panggung ke panggung berasama The Orion, band yang dibentuknya beberapa tahun lalu dan kini sedang naik daun ternyata tidak bisa membuat seorang Samudra Alterio berhenti kesepian. Hidupnya masih terasa kosong meski ada ribuan penggemar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sam, Bulan apa kabar?" tanya Daffa sarkas ketika mereka baru tiba di Jakarta setelah mengisi acara gigs di Makassar.
"Daff...."
"Lo gak lupa kalau udah punya pacar, kan?"
Samudra menghentikan langkahnya membuat Daffa refleks ikut berhenti. Lelaki itu mengernyitkan dahinya karena tidak paham mengapa Samudra tiba-tiba berhenti.
"Nadia cerita sesuatu?"
"Kalau lo gak suka sama Bulan, mending lo putusin Sam. Kasian dia. Perasaanya lo tarik ulur gini. Gue gak mau kelakuan lo ini malah ngerugiin orang lain bahkan diri lo sendiri."
"Gue nitip barang-barang, Daff. Mau samperin dia dulu."
Daffa tidak menyahut namun Samudra tetap berlalu. Lelaki itu mempercepat langkahnya, berbicara dengan seorang pengemudi taksi bandara dan segera melangkah memasuki kendaraan setelah percakapan singkat itu. Samudra mengangkat ponselnya. Ada banyak pesan dan panggilan telepon dari Bulan yang ia abaikan. Samudra terlalu sibuk dengan kecamuk dalam dirinya setelah bertemu Papa dan melupakan gadis itu. Jangan sampai Bulan memiliki pikiran untuk mengakhiri hubungan mereka lagi. Samudra bisa saja memaksanya untuk tinggal, namun setiap orang akan merasa lelah jika terus diabaikan.
Bulan
Bulan, maafin aku. Aku baru aja nyampe Jakarta. Bisa ketemu?
Tidak ada jawaban dari Bulan. Gadis itu bahkan tidak membalas pesannya. Samudra mencoba menelepon gadis itu namun Bulan tidak menjawabnya. Samudra melirik jam tangannya. Tidak mungkin Bulan di kampus karena itu adalah hari Minggu. Ia mencoba menghubungi Nadia setelah menanyakan nomor gadis itu pada Daffa namun yang ia dapat adalah kalimat tidak enak dari Nadia.
"Memangnya pacar Bulan itu gue?" Begitulah jawaban yang Samudra terima dari Nadia.
Sementara di tempat lain Bulan sedang sibuk berjalan di dalam mall sembari merengut pada Bunda. Keduanya baru saja menghabiskan setengah hari di salon untuk merawat diri mereka, kemudian Bunda mengajaknya untuk berkeliling di dalam mall. Ketika langkah Bulan terganggu karena pajangan beberapa pakaian yang mampu menarik perhatiannya, Bunda dengan cepat menarik tangannya. Memegang erat-erat tangan itu agar Bulan tidak berbelok dan merengek meminta dibelikan.
"Bunda, ada diskon make up," ucap Bulan sembari menunjuk salah satu gerai dengan tulisan sale berwarna kuning cerah di depannya.
"Muka cuma satu dan make up kamu udah banyak banget di rumah. Mau make up in apa lagi? Yang di rumah aja belum tentu kepake semua."
Bulan kembali merengut. Begitulah kalau pergi keluar bersama Bunda. Geraknya pasti terbatas.
"Ih, lucu Bun. Kita belu yuk, kembaran!" Bulan menunjuk sebuah floral dress berwarna putih yang terpajang di etalase sembari menarik tangan Bunda agar ikut melihatnya.