"Bang, gue boleh ajak Bulan manggung, nggak? Sekali aja," pinta Samudra ketika keduanya bertemu di parkiran kampus ketika Noah datang untuk menjemput Bulan.
"Lo ngapain di sini? Kuliah lagi?" Alih-alih menjawab, Noah justru bertanya balik sembari menekan remote kunci mobilnya sehingga menimbulkan bunyi bip yang berarti mobil tersebut telah terkunci.
"Mau nemuin Bulan," sahut Samudra sambil menyusul langkah Noah. "Boleh nggak?"
Keduanya memutuskan untuk duduk dan memesan minum di kantin kampus sembari menanti Bulan selesai dengan kelasnya. Noah dengan segelas kopi hitam dengan campuran gula berlebihnya sementara Samudra memesan segelas jus alpukat tanpa gula. Kebiasaan minum kopi hitan untuk menemani sebatang rokoknya sudah berusaha ia hilangkan sejak Bulan menempelkan tulisan don't touch me pada toples kopi di dapurnya. Jus alpukat juga menjadi minuman kesukaannya karena sering melihat Bulan meminumnya ketika mereka bertemu.
"Minta izin sama bokap gue kalau lo berani."
"Tapi nanti bakal jadi masalah buat Bulan, nggak?"
Noah menyesap kopinya kemudian tersenyum simpul. "Adik gue udah dewasa. Kalau lo berhasil meluluhkan ayah, semua masalah beres."
Samudra mengepulkan asap rokoknya ia merasa tertantang dengan ucapan Noah itu. Berarti dirinya boleh menemui ayah Bulan dan meminta izin pada pria itu? Berarti Noah mengizinkannya mendekati Bulan?
"Kalau lo bukan adiknya Laura, jangan harap gue ngizinin lo deketin adik gue," ucap Noah seolah dapat membaca isi kepala Samudra.
"Thank you so much, Kak La. I love you," gumam Samudra yang mendapat cibiran dari Noah.
"Gue yakin lo gak pernah ngomong gitu ke Laura," tebak Noah yang dibalas dengan tawa Samudra. Dirinya memang tidak pernah mengatakan ia menyayangi Laura, gengsinya terlalu tinggi untuk mengungkapkan itu ketika Laura masih hidup dulu.
"Uh, lelah! Abang, temenin Bulan ke Cone Kingdom, yuk! Butuh asupan yang manis-manis buat membalikkan suasana hati akibat kelas Pak Danar yang melelahkan." Bulan datang tiba-tiba kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Noah dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Matanya terpejam dengan wajah yang terlihat amat tertekan.
"Aku aja yang nemenin," ucap Samudra yang membuat Bulan membuka matanya dan mengerjapkannya gemas. Bisa-bisanya ia tidak menyadari kehadiran Samudra di sana. Pak Danar dan kelasnya membuat dunia Bulan gelap.
Bulan mengangkat kepalanya dan menoleh pada Noah. "Abang?"
"Yaudah sana!" Noah dengan mudah memahami maksud tatapan Bulan. Gadis itu sedang meminta izin sekaligus pendapat kakaknya mengenai ajakan Samudra itu. "Selagi Abang masih di Jakarta, urusan Ayah biar Abang yang atur. Sam, jagain adik gue!"
Samudra menaikkan tangannya dan menempelkan di ijung alisnya memberi tanda hormat pada Noah. Ia segera mematikan rokoknya dan berdiri penuh semangat. "Yuk, Bul!"
Bulan ikut berdiri dengan ragu. Ia menoleh pada Noah sekali lagi yang direspon oleh anggukan dari kakaknya itu. Gadis itu melangkah beriringan dengan Samudra namun baru saja berjalan beberapa langkah, seruan dari arah belakang membuat Bulan mendengus. Samudra refleks menoleh karena ia yakin yang memanggil Bulan itu bukan suara milik Noah.
"Mata kuliah Pak Danar selalu bikin lo stres, kan? Ini buat lo," ujar Jaya sembari menyerahkan segelas minuman boba untuk Bulan. "Lo butuh yang manis-manis, kan?"
"Makasi." Samudra meraih minuman boba dari tangan Jaya kemudian menancapkan sedotannya dan segera meminumnya. Jaya yang melihat itu memasang wajah tidak sukanya namun Samudra dengan wajah tengil yang tidak pernah Bulan lihat sebelumnya, menatap Jaya penuh kemenangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama Rembulan
General FictionBeraksi dari panggung ke panggung berasama The Orion, band yang dibentuknya beberapa tahun lalu dan kini sedang naik daun ternyata tidak bisa membuat seorang Samudra Alterio berhenti kesepian. Hidupnya masih terasa kosong meski ada ribuan penggemar...
