Ayo Pacaran!

850 83 23
                                        

Bulan menarik napas berkali-kali kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Bulan menarik napas berkali-kali kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Menatap layar laptop di depannya dengan serius. Jari-jarinya sesekali menari di atas keyboard. Ia merengut beberapa kali, kemudian menyesap jus alpukat yang tadi dibelinya sebelum duduk dan mengerjakan tugas di bawah pohon rindang yang terdapat di halaman fakultasnya. Di hadapanya duduk dua orang gadis yang sedang sibuk membicarakan perempuan pick me di angkatan mereka membuat Bulan beberapa kali berdecak karena tidak fokus.

"Kemarin sebelum Pak Genta masuk kelas dia nanya gue pake lip care apa, yaudah gue jawab, nah dia malah bilang bibirnya tetap sehat meski gak pake lip care. Pengen gue tarik itu mulut," kesal Marsha. Gadis dengan rambut yang selalu dikuncir itu terlihat begitu ekspresif ketika membicarakan Zara, perempuan pick me yang menjadi musuh para mahasiswi angkatannya.

"Gue juga sebel banget waktu kelas diisi dosen pengganti. Keliatan banget ganjennya. Banyak tanya pula kaya orang tolol."

"Maaf Pak saya masih kurang paham maksud Bapak," ujar Anna sembari membusungkan dada dan memainkan rambutnya. Mengikuti gaya Zara saat berbicara dengan asisten dosen beberapa hari lalu. Seorang pria muda yang tiba-tiba menggantikan tugas Pak Bandi.

"Udah, ngeghibah mulu. Dosa!" ucap Bulan setelah tugasnya rampung.

"Emang lo gak sebel sama si Zara itu?"

"Zahra namanya bukan Zara," sahut Bulan tidak suka nama gadis itu diganti padahal Zara sendiri yang mengenalkan dirinya dengan nama itu.

Bulan memang sejak awal tidak menyukai gadis bernama Zahra atau Zara itu karena entah mengapa sejak awal gadis itu tidak pernah bersahabat dengannya. Padahal Bulan tidak pernah merasa bermasalah dengannya namun perempuan itu selalu mengirim sinyal permusuhan.

"Gue masih gak ngerti kenapa si Kutu Beras itu selalu sinis sama gue," gumam Bulan membuat dua temannya cekikikan. Gadis itu memang suka sekali memberi panggilan khusus pada orang lain. Kata Bulan, Zara itu persis seperti kutu beras. Merasa diri penting tapi sebenarnya hanya penganggu.

"Karena dia sadar lo lebih cantik, lebih tajir dan lebih segala-galanya dibanding dia, Lan," sahut Anna yang dibalas anggukan setuju oleh Marsha. "Jauh!" sahut Marsha tidak mau kalah.

Bulan tersenyum jumawa sambil menyampirkan rambutnya di telinga kirinya membuatnya mendapat satu jitakan di jidatnya dari Anna. "Baru dipuji gitu aja udah songong!" gerutnya.

"Udah yuk masuk kelas. Gue gak mau telat di kelasnya Pak Genta dan menggadaikan nilai yang berharga. Bunda bisa marah besar gue dapet nilai jelek cuma perkara telat karena ngomongin Kutu Beras." Bulan bangkit. Merapikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas, kemudian melangkah ke lantai dua.

***

081233xxxxxx

Masih di kampus?

Alis Bulan menukik membaca pesan yang baru diterimanya saat kelas berakhir. Ia lupa dengan pemilik nomor itu. Namun rasanya tidak asing baginya.

Kok gak dibalas? Masih ada kelas ya?
Ini aku Samudra

Cinta Pertama RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang