Night Ride

784 84 11
                                        

Bulan mematung ketika melihat sosok yang bergerak mendekat ke arahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Bulan mematung ketika melihat sosok yang bergerak mendekat ke arahnya. Lengannya refleks menyenggol Nadia yang berdiri di sebelahnya. Dua gadis itu sedang berjalan bersisian di tempat parkir lapangan milik sebuah universitas terkenal di Jakarta. Malam itu, keduanya memutuskan untuk pulang setelah The Orion mengakhiri penampilannya. Tidak lagi melanjutkan menonton pertunjukan musik tersebut karena situasi yang menurut Bulan sudah tidak kondusif. Tempat itu begitu ramai dan sangat berdesakan. Membuat Bulan bahkan sulit bergerak.

"Pulang sama aku," ucap lelaki yang baru saja menghampiri itu membuat Bulan membatu dan Nadia tersenyum penuh arti.

"Lan, Kak Sam ngajak ngomong," ucap Nadia setelah menarik rambut Bulan untuk menyadarkan gadis itu.

"Aduh! Kenapa harus dijambak? Sakit tahu!" geram Bulan.

"Jadi gimana? Mau pulang bareng aku?"

Bulan ingin menjerit saat itu juga. Ingin berteriak kencang agar membuat siapa saja bersedia membangunkannya dari mimpinya. Gadis itu mengerjapkan matanya.

"Ini aku gak lagi hidup dalam dunia halu, kan?" tanya Bulan dalam hati.

"Tapi... aku... aku sama Nadia."

"Gak papa kalau lo mau sama Kak Sam. Orang tua lo biar gue yang urus. Bang Noah juga aman."

"Jadi?" tanya Samudra lagi yang membuat Bulan mengangguk ragu. "Naik motor gak masalah, kan?" Bulan menggeleng.

Nadia sebenarnya keheranan pada Samudra yang tiba-tiba mendekati Bulan. Oke, Nadia akui Bulan memang cantik, tapi rasanya aneh saja sosok pendiam yang terlihat cuek seperti Samudra mendekati perempuan. Nadia mengedikkan bahunya. Suatu keberuntungan untuk sahabatnya kalau ternyata Samudra juga jatuh hati pada gadis itu.

Dalam perjalanan pulang, keduanya hanya diam. Samudra tidak pandai membuka obrolan sementara Bulan bingung harus apa. Bulan sebenarnya selalu punya stok kata dan pandai mencairkan suasana. Hanya saja degup jantung yang menggila memaksanya untuk bungkam.

Samudra menepikan motornya membuat Bulan mengernyitkan dahi dan memasang wajah waspada. "Nih pake!" Lelaki itu menyerahkan jaketnya tanpa menoleh ke belakang.

Jantung Bulan masih aman dua detik yang lalu. Namun saat ini dadanya berdegup berkali lipat. Samudra membuka jaketnya dan memberikan padanya. Perempuan mana yang tidak gila? Ini Samudra. Samudra Alterio, lelaki paling tampan versi Ayunda Rembulan.

"Ma....makasi Kak," ucap Bulan terbata-bata. Samudra tidak menjawab. Ia kembali melajukan motornya.

"Kamu kapan terakhir bonceng perempuan, Kak?" tanya Bulan saat ia sudah berhasil menguasai dirinya.

"Dua minggu lalu," sahut Samudra seadanya.

"Aku dong?"

"Iya."

"Selain aku?"

"Lupa. Tapi bonceng ibu-ibu. Perempuan, kan?"

"Gak salah sih. Tapi kok bisa bonceng ibu-ibu? Mama kamu, Kak?"

Cinta Pertama RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang