Beraksi dari panggung ke panggung berasama The Orion, band yang dibentuknya beberapa tahun lalu dan kini sedang naik daun ternyata tidak bisa membuat seorang Samudra Alterio berhenti kesepian. Hidupnya masih terasa kosong meski ada ribuan penggemar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Noah menatap pusara bertabur bunga dihadapannya. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Luka di dadanya menyeruak begitu saja. Itu adalah kali pertama dirinya mengunjungi makan Laura sejak perempuan itu meninggal. Noah tidak pernah sanggup. Keputusannya untuk tinggal di Singapura dan tidak pernah kembali ke Indonesia. Ada sesal di hatinya yang begitu mendalam.
Ia mengelus makam itu dengan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Laura dan Noah adalah sepasang sahabat yang tidak terpisahkan sejak berada di bangku sekolah menengah. Sayangnya persahabatan antara perempuan dan laki-laki tidak pernah murni. Akan selalu ada cinta diantaranya. Noah jatuh hati pada Laura. Diam-diam karena tidak ingin merusak kebahagiaan Laura dan persahabatan mereka. Dan itu membuatnya menyesal.
Laura jatuh ke pelukan lelaki yang salah. Lelaki yang tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesi. Saat itu Laura begitu bahagia bersama lelaki itu tanpa mengetahui sama sekali kalau orang yang selalu bersamanya juga memendam rasa padanya.
Kenangan bersama Laura kembali menari di kepalanya. Datang bersamaan dengan rasa bersalah yang luar biasa. Noah gagal menjadi sahabat yang baik. Gagal menjaga Laura. Bahkan, ketika Laura dimakamkan, Noah sama sekali tidak berada di sisi perempuan itu.
"Ra, maaf gue baru bisa datang setelah sekian lama. Gue gak sanggup pulang karena Jakarta tanpa lo adalah hal paling buruk dalam hidup gue." Air mata masih membasahi wajahnya. Noah mengusapnya kasar sembari menghembuskan napas kasar.
"Kalau aja waktu itu gue gak egois, lo pasti masih ada di sini, Ra." Noah tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Menyedihkan sekali rasanya berbicara dengan batu nisan bertuliskan nama perempuan yang masih memiliki tempat paling istimewa di hatinya.
"Ra, setiap hari gue berharap waktu bisa diputar kembali. Gue gak akan nuturin ego gue dan biarin lo dalam bahaya. Gue bodoh, Ra. Gue gak bisa jaga sahabat gue dengan baik. Ngebiarin lo jatuh ke tangan bajingan itu."
"Adik-adik kita pacaran. Dunia sempit ya. Tapi Ra, apa gue bisa percaya sama Samudra? Gue gak mau hal yang menimpa lo akan dialami Bulan juga. Gue takut dia jatuh ke pelukan orang yang salah."
Noah termenung. Ia tahu Laura sangat menyayangi Samudra dan pasti Laura akan terluka andai Noah melarangnya dekat dengan Bulan. Namun, menurutnya kekacauan yang terjadi dalam hidup adiknya merupakan ulah Samudra yang tidak terlalu tegas pada penggemarnya. Atau mungkin terlalu acuh. Ia tidak mungkin membiarkan Bulan menerima hujatan yang tidak pantas dia dapatkan.
Lelaki itu bangkit dari posisi berjongkoknya saat dering ponselnya terdengar.
"Abang, Abang, Abang...." Suara nyaring itu membuat Noah menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Berisik!" keluhnya.
"Jadi ikut Bulan nggak? Atau Bulan pergi sama Pak Rudi aja?"
"Kecilin suara kamu aku gak budek!" protes Noah ketika suara Bulan masih terdengar melengking di telinganya.