Samudra Alterio

874 69 3
                                        

Lelaki itu melangkah meninggalkan rumah lantai dua yang selama setahun belakangan menjadi tempat berlindungnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Lelaki itu melangkah meninggalkan rumah lantai dua yang selama setahun belakangan menjadi tempat berlindungnya. Sendirian. Sesekali ditemani teman-temannya. Membunuh sepinya dengan membiarkan rumah itu dijadikan basecamp. Tidak ada keluarga. Tidak ada sapaan hangat yang menyambutnya ketika kembali. Ia sendirian.

Menaiki motor kesayangannya, hadiah istimewa dari orang yang paling ia sayangi sepanjang hidupnya. Orang itu yang paling tahu keadaannya. Yang tidak pernah menghakiminya, yang tidak segan memarahinya jika ia melakukan kesalahan. Samudra menitikan air mata ketika mengingat kenangan mereka. Terlalu singkat, namun amat sangat berkesan untuknya.

Motor itu berhenti di sebuah pemakaman umum. Samudra melepas helm full face-nya. Masker dan kacamata hitam masih menutupi wajah tampannya. Ia berjalan memasuki pemakaman itu.

"Kak, apa kabar?" ucapnya seorang diri pada pusara yang baru saja ia doakan dan diberi taburan bunga. "Gue kangen banget sama lo, Kak," lirihnya.

Pusara itu milik Laura, orang yang menghadiahi Samudra motor dua tahun lalu. Kakak kandungnya. Perempuan yang selalu berusaha menjadi sosok orang tua untuknya. Laura meninggal satu setengah tahun lalu. Menyisakan sesak di dada Samudra. Juga kekosongan yang mendalam di hidupnya. Laura pergi, meninggalkan Samudra yang mulai kehilangan arah hidupnya. Yang berusaha menata kembali apa yang hilang, sendirian. Setelah Laura pergi, lelaki itu selalu merasa sepi ditengah keramaian.

Orang tua? Keduanya memiliki dunianya masing-masing. Papa dengan segala kesibukannya, dan Mama dengan selingkuhannya. Keduanya hidup dalam satu atap namun di dunia yang berbeda. Tidak pernah saling menyapa. Terpaksa bersama karena perpisahan hanya akan menghambat karir Papa yang bekerja sebagai seorang pejabat di salah satu perusahaan BUMN. Keduanya bahkan seperti tidak merasa kehilangan ketika Laura pergi. Berduka sehari, setelah Laura dimakamkan, segala luka itu seolah menguap. Samudra menjalani hidupnya sendirian. Orang tuanya tidak perduli dimana ia berada. Aman atau tidak, bagaimana kabarnya, tidak pernah ada yang bertanya.

"Ingat juga kamu jalan pulang." Kalimat itu yang selalu didengarnya ketika ia pulang ke rumah. Tidak ada pertanyaan mengenai kondisinya. Tidak ada yang mencemaskan keberadaannya. Orang tuanya hanya sibuk dengan ego masing-masing.

Samudra kembali menitikan air mata ketika mengingat semuanya. Hidup yang sepi tanpa Laura. Kalau boleh, ia ingin menyusul kakaknya. Toh, tidak akan ada yang merasa kehilangan ketika ia pergi. Orang tuanya pasti tidak perduli.

"Kak, gue capek. Lo bisa bangun aja nggak? Temenin gue di sini. Atau bawa gue pergi sama lo, Kak."

Termenung beberapa jam di depan pusara Laura, Samudra akhirnya memutuskan untuk pulang. Bangunan yang tidak bisa ia sebut rumah karena tidak ada kehangatan keluarga di dalamnya. Hanya dia seorang. Lagi-lagi sendirian.

Langit berubah gelap. Teman-temannya mengabari kalau hari itu mereka tidak datang ke basecamp. Daffa bilang ia sedang merayakan anniversary dengan pacarnya. Kenzo menemani Mama berbelanja, Aidan sepertibiasa sedang mendekati perempuan yang tengah diincarnya. Alvin sebenarnya ingin menemani Samudra, namun terhalang karena kekasihnya yang bekerja di Jayapura tiba-tiba datang memberi kejutan. Samudra iri pada mereka. Tentu. Teman-temannya tidak pernah merasa kesepian. Mereka punya tempat untuk pulang. Rumah yang sesungguhnya.

"Kak, gue butuh lo di sini," gumam Samudra. Ingatannya berlari jauh ketika Laura masih di sana. Menemaninya tiap hari meski sering ada perdebatan diantara keduanya. Samudra masih ingat dengan jelas ketika Laura memeluknya erat ketika tubuhnya bergetar hebat mendengar pertengkaran orang tuanya.

Suara benda pecah belah terdengar di telinga keduanya, menutup segala perdebatan pelik antara dua manusia yang awalnya dipertemukan oleh cinta.

"Perempuan gak tahu malu!" Pekikan itu keluar lagi, sepertinya pertengkaran tadi belum membuat keduanya puas.

"Kaya kamu tahu malu aja," sahut Mama sinis.

"Kamu punya anak dan suami. Gak malu mesra-mesraan sama laki-laki yang usianya jauh lebih muda?"

"Kenapa aku mesti malu kalau kamu sendiri gak malu ngelakuin hal yang sama?"

Suara keras kembali terdengar. Sepertinya Papa melempar benda lagi.

Samudra dan Laura berpelukan di dalam kamar. Kala itu mereka masih sangat muda, Samudra masih berusia 14 tahun sementara Laura belum genap 17 tahun untuk mengerti situasi apa yang sedang terjadi. Keduanya hanya bisa menangis dan saling menguatkan. Kala itu, yang Samudra tahu, bahu Kakaknya itu begitu kokoh. Menahan segala rasa sakit dan takutnya demi sang adik. Kala itu, Samudra akhirnya paham, kedua orang tuanya tidak akan pernah perduli pada kedua anaknya. Hanya Laura yang ia miliki.

Air mata itu kembali tumpah. Tidak, bukan karena rumah yang hancur tak berbentuk. Bukan karena orang tuanya yang tidak lagi sejalan. Namun rasa rindu pada perempuan yang selalu menjaganya itu yang membuat hatinya tersayat. Sungguh, Samudra tidak menginginkan apapun di dunia ini selain Laura kembali. Hal yang mustahil memang membuat orang yang sudah meninggal hidup kembali. Tapi bolehkah berharap akan ada sosok Laura di hidupnya?

Malam sudah sangat larut. Samudra tidak tahan dengan kesepian dan luka yang meyelimuti dadanya itu. Ia melangkah keluar rumah. Mengendarai motornya. Mengelilingi jalanan tanpa tujuan. Sekali lagi, ia muak dengan rasa kesepian yang selalu menemaninya.

✨✨✨

Thank you for reading❤️

Tinggalin vote dan komen ya
See you

Cinta Pertama RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang