"Gimana pun caranya gue harus bisa ketemu sama Samudra malam ini, udah seminggu gak ada kabar tentang mobil gue. Nanti kalo Ayah nanya gue harus jawab apa?" gerutu Bulan saat ia dan Nadia sedang berdiri di bawah panggung menanti konser musik dimulai.
"Lo kira gampang?"
Bulan mendengus. Ia benar-benar harus mencari cara untuk bertemu dengan lelaki itu. Ini bukan lagi perkara idola dan penggemar. Ini perkara hidup dan matinya. Berlebihan memang, namun ia benar-benar harus tahu keadaan mobilnya.
Konser musik dimulai, dibuka oleh beberapa band lokal, kemudian tiba giliran The Orion yang tampil. Sebagian besar penonton berteriak histeris ketika empat lelaki tanpan itu beraksi di atas panggung. Bulan seperti biasa, bersenandung dengan pandangan yang tidak teralihkan dari seorang lelaki di belakang drum. Ia tersenyum salah tingkah membayangkan seminggu yang lalu, ia duduk berboncengan dengan lelaki itu. Sembari berkhayal kalau suatu saat nanti, ia kembali duduk di atas motor itu. Berboncengan mengelilingi kota.
Ketika sibuk merekam, sebuah pesan diterimanya. Bulan menghembuskan napas berat. Pesan dari Noah menghancurkan mood-nya.
Raja Rimba
Bulan, mobil kamu apa kabar dek?
Udah seminggu, masih di bengkel?
Rusaknya parah banget ya?
Bulan mengabaikan pesan itu. Ia kembali fokus pada karisma Samudra. Lelaki itu memiliki wajah dengan pesona tersendiri. Rahang yang tegas, bibir tebal kemerahan, hidung mancung dan sorot mata yang tajam. Ditambah bulir-bukir keringat di wajah lelaki itu, sekali lagi, Bulan berhasil dibuat terbius oleh pesona Samudra.
Suara histeris penonton membuyarkan lamunannya. Ditambah senggolan dari Nadia di lengannya. Aidan sang vocalis turun ke bawah panggung untuk menyapa para penggemarnya. Ketika semua orang di barisan depan histeris dan mengulurkan tangannya untuk dijabat Aidan, hanya Bulan yang tidak tertarik. Ia hanya akan melakukan itu ketika Samudra yang menghampiri.
Lelaki itu menyapa Nadia sekilas dengan kedipan mata, kemudian menatap Bulan yang tidak memberi reaksi apapun padanya. Sangat berbeda dengan semua wanita yang ada di sana membuat Aidan penasaran dan menarik tangan Bulan, memaksanya naik ke atas panggung. Reaksi orang-orang semakin histeris. Merasa iri pada Bulan dan berharap mereka lah yang mendapat kesempatan itu.
"Kak, temen gue jangan diisengin!" seru Nadia di bawah panggung yang entah didengar atau tidak oleh Aidan karena suara musik yang menderu.
Degup jantung Bulan menggila ketika berada di atas panggung. Tidak, bukan karena banyak pasang mata yang menyaksikannya. Ia takut kalau sampai ada yang merekam momen itu dan sampai pada kedua orang tua bahkan Noah. Dapat dipastikan tidak akan ada izin menonton konser lagi meski menggunakan nama Nadia sebagai penakluknya.
"Kak, aku turun ya? Takut ada yang videoin terus sampai ke orang tuaku," bisik Bulan di telinga Aidan yang membuat lelaki itu tersenyum geli.
"Nyanyi satu lagu sama kami, terus turun."
Sungguh malam itu Bulan ingin berganti wajah. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Aidan akan membawanya ke atas panggung. Baiklah, malam itu ia mencemaskan dirinya sendiri. Itu bisa jadi kali terakhirnya melihat Samudra beraksi di atas panggung kalau sampai ada yang merekam dan sampai ke keluarganya.
Satu lagu berakhir dan tanpa basa-basi Bulan berlari ke bawah panggung. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak mau bersamalam dengan seluruh personel band tersebut. Ia hanya ingin menghindari segala macam lensa kamera yang menyorotnya. Andai saja tidak banyak mata kamera, Bulan ingin berlari menghampiri Samudra untuk menanyakan keadaan mobilnya sekaligus menjabat tangan lelaki itu. Kalau boleh mengelap keringatnya juga.
✨✨✨✨
081233xxxxxx
Selamat pagi, ini Bulan kan?
Mau antar mobil kamu sekalian ambil KTP
Kita bisa ketemu dimana ya?
Bulan mengangkat tubuhnya yang semula duduk menikmati sarapannya sambil sesekali berusaha untuk mengendalikan diri. Bunda menatap anaknya itu keheranan karena gerakan tiba-tiba yang bulan buat membuat gadis itu tersenyum memamerkan giginya pada Bunda.
"Bulan tadi dikabarin sama orang bengkel kalau mobilnya udah bisa diambil, Bun," dusta Bulan. Bunda jelas keheranan dengan reaksi berlebihan dari anak gadisnya itu. Apakah Bukan sebahagia itu hanya karena mendapat kabar dari orang bengkel?
"Mau diambil sekarang?" tanya Ayah setelah menyesap kopinya. "Ayah siap-siap dulu. Nanti biar Ayah antar."
Dada Bulan mencelos. Ia lupa kalau Ayah adalah lelaki yang super siaga. Kalau Ayah mengantarnya, bisa ketahuan nanti kebohongannya.
"Diantar ke rumah kok nanti, Yah. Tapi katanya agak siangan. Ayah gak perlu anterin Bulan."
"Bagus lah kalau begitu. Kamu sekalian tanyain biayanya nanti biar Ayah transfer."
Bulan mengangguk kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya.
081233xxxxxx
Nanti aku kabari lokasinya ya Kak.
Boleh minta rincian pembayarannya, ayahku mau transfer soalnya.
Tidak ada balasan membuat Bulan mendengus dan menjelaskan pada Ayah kalau orang yang akan mengantar mobilnya sangat slow respon. Dan berkata nanti akan menghubungi Ayah begitu ia mendapat tagihannya.
Oke, kali ini biarkan Bulan bernapas sejenak. Jantungnya berdegup tak karuan. Rasa dingin mulai menjalari tulang belakangnya. Jari-jarinya pun mulai mendingin. Dalam kepalanya, sebentar lagi ia akan bertemu dengan Samudra. Bahkan lelaki itu mengirim pesan padanya. Seperti mimpi rasanya mendapat pesan dari nomor telepon milik idolanya.
Samudra tahu Bulan hidup!
Ketika orang tuanya telah pergi bekerja, Bulan bersiap. Meminta lelaki itu menemuinya di Kemistri. Cafe itu kalau pagi masih cukup sepi sehingga tidak akan menyusahkan Samudra nantinya. Pasti banyak orang yang mengenal lelaki itu, dan pergi ke tempat ramai akan menyusahkannya. Gadis itu mematut dirinya di depan cermin. Ia berusaha agar terlihat sesegar mungkin ketika bertemu Samudra nanti. Jantungnya masih berdebar tidak normal. Ia menyambar tas selempangnya ketika deru mobil Nadia yang memiliki suara khas itu tertangkap oleh telinganya.
"Mau ngambil mobil aja serapi dan sewangi ini?" komentar Nadia ketika Bulan menghampirinya. Gadis itu bahkan tidak mempersilahkan Nadia masuk terlebih dahulu. Ia tidak sabar bertemu langsung dengan Samudra.
"Lo yakin kalau Samudra yang hubungin?"
"Yakin, lah. Kan malam itu dia minta nomor gue."
Nadia mengedikkan bahunya. Ia memang baru beberapa bulan mengenal Samudra, namun tidak pernah terbersit olehnya kalau lelaki pendiam itu sangat baik hati. Atau mungkin Samudra memang baik hanya saja Nadia tidak tahu karena mereka memang tidak akrab.
✨✨✨✨✨
Thank you for reading, sebenarnya yang semalam itu harusnya aku up hari ini, tapi terlanjur kepencet yaudah gpp bonus buat kalian.
Tolong tinggalin vote dan komen ya biar aku makin semangat nulisnya
Terima kasih❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama Rembulan
General FictionBeraksi dari panggung ke panggung berasama The Orion, band yang dibentuknya beberapa tahun lalu dan kini sedang naik daun ternyata tidak bisa membuat seorang Samudra Alterio berhenti kesepian. Hidupnya masih terasa kosong meski ada ribuan penggemar...
