Titik Terendah

636 83 17
                                        

Samudra tersenyum singkat pada Bulan yang siang itu melambaikan tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Samudra tersenyum singkat pada Bulan yang siang itu melambaikan tangannya. Menyapa Samudra yang masih duduk di atas motor menyambut kehadiran gadis itu. Di belakang Bulan berjalan seorang lelaki yang nampaknya suka sekali mengikuti gadis itu. Dan Bulan terlihat tidak suka akan kehadiran orang itu. Meski kesal pada lelaki yang suka sekali menganggu gadisnya itu, Samudra tetap merasa lega karena tahu, Bulan tidak menyukainya. Setidaknya ia sudah menang. Tinggal bereskan sedikit saja untuk menghempaskan lelaki itu.

"Udah lama? Tadi katanya sibuk, kok mala kesini?" tanya Bulan setela gadis itu tiba di hadapan Samudra yang tela menunggunya di pinggir jalan sebelah kampusnya.

"Siapa sayang?" Bulan nyaris terjungkal mendengar panggilan itu. Bagaimana tidak, Samudra selalu tiba-tiba dan Bulan belum sempat mempersiapkan dirinya. "Kok gak dijawab? Gak mau kenalin ke aku?" Mata Samudra menatap tajam pada lelaki di belakang Bulan itu. Sebenarnya bukan masalah besar mengingat gadis itu terlihat begitu tidak menyukainya.

"Jay kenalin ini Samudra, pacar gue," ucap Bulan memperkenalkan Samudra. Sesungguhnya Bulan sudah memikirkan sejak lama. Meminta bantuan Samudra agar Jaya tidak menganggunya lagi. Beberapa waktu lalu mereka sempat bertemu dan Samudra telah menegaskan kalau Bulan kekasihnya namun Jaya tetap tidak mengindahkan itu. Sepertinya sekarang, Bulan harus benar-benar meminta bantuan Samudra untuk berbicara dengan lelaki kosong tersebut.

"Kayanya kita pernah ketemu dan gue udah pernah ngenalin diri ke lo, deh. Kenapa masih gangguin cewek gue?"

"Gue kenal Bulan lebih dulu daripada lo. Kenapa gue harus jauhin dia?"

Samudra melangkah menuruni motornya. Memegang pundak Jaya sembari sedikit meremasnya. "Poinnya bukan siapa yang kenal lebih awal, bro! She is my girl. Dan lo bukan siapa-siapanya jadi jangan ganggu dia!"

Namun Jaya sama sekali tidak gentar. Yang ada dalam pikirannya adalah Bulan masih bisa menjadi miliknya asal ia tidak pernah menyerah. Samudra dan lelaki mana pun boleh menyukai Bulan, namun ia yakin Bulan pasti akan menjadi miliknya suatu hari nanti. Lelaki aneh memang. Disaat gadis yang diincarnya sudah jelas-jelas memberi isyarat tidak suka, dia masih mempercayai pikirannya sendiri.

"Siapa pun boleh suka sama Bulan, tapi dia pasti akan jadi milik gue."

Samudra menyeringai mendengarnya. Nampaknya ia sedang berhadapan dengan manusia keras kepala yang sama sekali tidak memiliki akal sehat. Sudah jelas-jelas yang berhadapan dengannya adalah kekasih dari perempuan yang diincarnya, masih juga memiliki kepercayaan diri kalau Bulan akan menjadi miliknya. Samudra meraih tangan Bulan, menggenggamnya kemudian mencium punggung tangan gadis itu. Memberi isyarat kepemilikan pada Jaya. Sementara Bulan kembali dibuat membeku. Sentuhan di punggung tangannya itu membuat rasa dingin seketika menjalari tulang belakangnya. Dengan wajah bersemu, ia menatap Samudra dengan senyuman dan ikut mengelus rahang lelaki itu dengan tangannya yang bebas. Sengaja memamerkan kemesraan agar Jaya sadar dan tidak mengusiknya lagi. Dan elusan di wajahnya itu membuat pipi Samudra memanas. Sudah dipastikan ia ikut bersemu. Bulan ternyata juga bisa membuat jantungnya tidak aman.

Cinta Pertama RembulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang