Di Pihak Bulan

562 79 17
                                        

Kehadiran Noah di rumah ternyata tidak seburuk itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kehadiran Noah di rumah ternyata tidak seburuk itu. Tidak seperti yang Bulan bayangkan ternyata Noah tidak sepenuhnya menentang hubungannya dengan Samudra meski Bulan masih dapat melihat ketidakrelaan di wajah kakaknya itu.

Malam itu ketika Noah menatap wajah kusut Bulan, lelaki itu meminta adiknya untuk menceritakan semuanya tanpa ragu. Dia berjanji tidak akan menghakimi. Noah akan mendengarkan segala keluh kesah Bulan sekali pun itu tentang hubungan asmaranya. Selama ini Noah memang membatasi pergaulan Bulan terutama dengan laki-laki, tapi tidak bisa dipungkiri juga, sudah saatnya Bulan merasakan perasaan itu. Perasaan mencintai lawan jenisnya.

"Samudra kenapa? Kamu kelihatan sedih gini karena dia, kan?" tanya Noah ketika mereka berdua berdiri di halaman belakang rumah mereka. Bulan melamun sambil melipat tangannya di depan dada menyaksikan ikan koi yang sedang berenang di dalam kolam yang dipinggirnya dihiasi lampu-lampu berwarna ungu.

Bulan menceritakan segala yang terjadi beberapa hari belakangan. Mulai dari Samudra yang bertemu dengan orang tuanya, Samudra yang tidak mengabarinya dan mendiamkan orang-orang, hingga segala parasaan yang dia rasakan. Bulan tidak menutupi apa pun pada Noah.

"Bulan khawatir sama dia."

"Kamu sayang banget sama Samudra?"

Gadis itu mengangguk tanpa memalingkan wajahnya dari kolam.

"Duduk dulu yuk, Abang mau cerita sesuatu." Noah mengajak adiknya untuk melangkah menuju gazebo, melewati jembatan kecil di atas kolam ikan tersebut. Bulan mengekor.

"Lan, kamu mau tahu nggak kenapa Abang jadi rese banget ke kamu, dan berubah jadi orang nyebelin yang super posesif?"

Bulan menggeleng.

"Lan, Abang sayang banget sama Laura, dia perempuan yang berarti banget buat Abang. Laura baik, pemberani, perhatian, dan perempuan paling apa adanya yang bernah abang kenal. Abang jatuh cinta sama dia meski abang gak punya kesempatan untuk memilikinya. Kami terlalu dekat sebagai sahabat dan sudah saling berjanji untuk gak akan merusak persahabatan itu dengan perasaan lebih. Sampai akhirnya Abang tahu dia jatuh cinta sama orang lain dan mereka pacaran."

Noah memandang lurus ke depan, tatapannya tertuju pada pintu kaca rumahnya yang tertutup rapat. Sementara Bulan menutup mulutnya rapat-rapat menunggu kelanjutan cerita Noah.

"Mereka pacaran lumayan lama. Hampir tiga tahun kayanya. Dan selama itu, gak pernah ada tanda-tanda gak baik dari si cowok itu. Dia mencintai Laura dan mereka bahagia."

"Terus Abang?"

"Abang ya tetap di sisi Laura. Jadi orang pertama yang dicarinya ketika mereka berantem. Malam itu, sebelum abang berangkat ke Singapur, Abang beraniin diri buat ungkapin perasaan dan Laura marah besar karena menurutnya Abang gak bisa nepatin janji kami untuk gak memiliki perasaan lebih. Kami berantem dan Laura gak mau bicara lagi sama Abang. Dan hal terburuknya, Abang ikut marah dan mengabaikan dia. Itu adalah hal yang paling Abang sesali."

Cinta Pertama RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang