Malam yang Menegangkan

824 77 8
                                        

Malam yang menegangkan untuk seorang Bulan yang tidak pernah pergi seorang diri di malam hari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Malam yang menegangkan untuk seorang Bulan yang tidak pernah pergi seorang diri di malam hari. Kala itu, ia dalam perjalanan pulang dari rumah Nadia. Awalnya ia ingin mengajak temannya itu berjalan-jalan. Sakadar menghabiskan waktu di dalam mal. Namun ternyata Nadia tidak ada di rumah. Kata Mama ia sedang pergi bersama temannya. Bulan tidak penasaran siapa teman yang dimaksud karena Nadia memang tipe manusia yang punya banyak relasi. Bulan memutuskan untuk tidak pulang meski Nadia tidak berada di rumah. Memilih bergabung dengan Mama Nadia yang juga ia panggil dengan sebutan Mama itu membuat kukis dan beberapa kue kering lainnya. Katanya beberapa hari lagi akan diselenggarakan arisan bersama teman-temannya di rumah.

Bulan baru diizinkan pulang setelah makan malam. Tentu Regita—Mama Nadia sudah mengabari terlebih dahulu orang tua Bulan yang saat itu sedang berada di Batam untuk peresmian  hotel baru mereka. Bulan tidak mau ikut. Ia malas berada dalam acara semacam itu. Nadia juga tidak kunjung kembali sampai Bulan meninggalkan tempat itu. Sepertinya temannya itu terlalu asyik dengan teman-temannya di luar sana.

Malam itu, mobil yang ia kendarai mogok di tengah jalan. Bulan menyesal karena selalu mengabaikan peringatan Noah untuk melakukan perawatan rutin pada mobilnya. "Jangan inget make doang. Sesekali diservice meski kamu rasa lagi gak ada masalah. Minimal ganti oli." Penuturan Noah yang selalu ia abaikan.

Bulan nyaris menangis ketika tidak ada orang yang bisa ia minta pertolongan. Ia bersandar di kap mobil. Menanti orang baik yang akan membantunya. Meminta bantuan Ayah dan Bunda, sama saja menyerahkan dirinya untuk kena marah tiga orang sekaligus. Jelas bukan ide yang baik. Nadia tidak bisa diandalkan karena ponselnya tidak aktif. Bulan mendengus pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Sampai dua orang pria dengan motor berisiknya mendekati Bulan. Menawarkan bantuan namun dengan bau alkohol yang menyengat hidungnya. Tidak, orang itu bukan orang baik. Mereka tidak sepenuhnya sadar. Bulan dengan cepat menggeleng dan hendak memasuki mobil. Namun tangannya lebih dahulu dicegat oleh lelaki yang tadi duduk di belakang. Lelaki tinggi dengan wajah kusam kemerahan efek minuman keras yang dikonsumsinya.

Gadis itu meronta, meminta dilepaskan ketika tangannya terasa sakit akibat cekalan yang terlalu kuat.

"Lepasi!" pekiknya.

"Jangan takut! Mobil kamu kenapa?" tanya lelaki yang mengendarai motor tadi. Sama, wajahnya juga kusam kemerahan. Keduanya sama-sama sedang tidak sepenuhnya sadar.

"Gak kenapa-napa. Aku mau balik. Bisa tolong lepasin?" tanya Bulan sopan.

"Kalau gitu, bersenang-senang dulu sama kita mau nggak?" tanya pria yang mencekal tangannya. Kemudian mendekatkan tubuhnya pada Bulan.

"Nggak! Lepasin saya mau pulang!" ucap Bulan. Ia sudah mulai ketakutan. Ingin berteriak namun keberaniannya tidak lagi terseisa. Segala skenario buruk mulai menari di kepalanya. Malam itu, ia menyesali keputusannya berkendara seorang diri.

"Jangan berisik!" satu orang lelaki menyodorkan belati tepat di depan wajah Bulan membuat gadis itu terdiam. Dadanya bergemuruh. Air matanya tidak terbendung lagi.

"Ikut kita atau ini akan mengenai wajah mulus kamu!"

Bulan membeku. Ia hanya bisa berdoa di dalam hati agar Tuhan melindunginya.

Entah dari mana datangnya, seorang pahlawan menyelamatkannya. Memukuli habis-habisan dua pemuda mabuk itu. Menghajarnya tanpa ampun seperti kesetanan. Membuat kedua pemuda itu tersungkur di aspal kemudian berlari tergopoh-gopoh menjauhi tempat itu. Motor dengan knalpot berisik yang tadi mereka bawa bahkan ditinggalkan begitu saja. Merasa kapok karena dihajar habis-hanisan oleh seorang yang belum melepaskan helm full face-nya itu.

Bulan berjongkok di sebelah mobilnya. Kakinya terasa lemas, ia tidak sanggup berdiri dengan tubuh yang gemetar. Gadis itu masih kaget dengan apa yang ia alami tadi. Pantas saja orang tuanya selalu melarangnya keluar seorang diri. Ternyata di luar semenakutkan itu. Ia hampir dilecehkan.

Sebuah tangan telulur di hadapannya. Bulan mendongakkan kepalanya. Orang itu belum melepaskan helmnya, membuat Bulan mengernyit namun tetap menerima uluran tangan orang itu. "Makasi," ucapnya saat ia rasa nyawanya sudah mulai kembali.

Lelaki itu membalas dengan anggukan. Kemudian melangkah hendak menaiki motornya.

"Tunggu!" panggil Bulan. "Aku boleh minta tolong sekali lagi?"

"Kenapa?"

"Kamu ngerti mobil nggak? Mobilku mogok."

Lelaki itu turun dari motornya. Ia sama sekali tidak mengerti mesin mobil jadi segera menggeleng. Membuat Bulan menghembuskan napas berat. Frustasi.

"Lo ikut gue aja. Nanti mobil lo biar gue yang urus."

Bulan tentu tidak mau percaya begitu saja pada lelaki itu. Bagaimana kalau itu modus penipuan? Bagaimana kalau ternyata mereka sebenarnya berkomplot?

"Gue bukan orang jahat. Kalo lo gak mau, yaudah. Gue balik."

"Eh?" Bulan masih kebingungan namun lelaki itu sudah kembali bergerak menaiki motornya.

Air mata Bulan luruh ia merasa putus asa. Terlebih lelaki itu sudah melaju meninggalkannya. Ia kembali berjongkok di depan mobilnya, menagkup wajahnya. Bulan tersedu. Tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.

Lelaki itu kembali. Bulan tidak pernah menyangka kalau dia benar-benar kembali dan menyerahkan KTP pada gadis itu.

"Gue bukan orang jahat. Lo pegang ini buat jaminan. Catet nomor telpon lo, nanti biar gampang hubungin lo kalau mobil lo udah beres."

Bulan mendongakkan kepalanya. Meraih KTP dan ponsel lelaki itu. Kemudian mencatat nomor teleponnya.

"Kunci mobilnya kasi gue. Pastiin gak ada barang berharga di sana. Sekarang lo pulang bareng gue aja."

Bulan menurut. Sekali lagi berterima kasih pada lelaki yang masih tidak mau membuka helm-nya itu. Kemudian menaiki motor lelaki itu dengan dada yang berdegup dan banyak perasaan yang bercampur di dalamnya.

"Bang maafkan Bulan yang gak pernah nurut."

✨✨✨

Thank you for reading, tolong tinggalin vote dan komennya ya

See you❤️

Cinta Pertama RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang