Beraksi dari panggung ke panggung berasama The Orion, band yang dibentuknya beberapa tahun lalu dan kini sedang naik daun ternyata tidak bisa membuat seorang Samudra Alterio berhenti kesepian. Hidupnya masih terasa kosong meski ada ribuan penggemar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Senyuman hangat Bunda menyapa Samudra ketika dirinya tiba di rumah megah tempat Bulan tumbuh. Gadis yang diantarnya pulang berjalan di sebelahnya, mencium tangan bundanya kemudian beralih ke pipi wanita itu. Hati Samudra menghangat melihatnya. Ada rasa iri juga karena ia dan Mama tidak pernah begitu. Mama terlalu sibuk dengan dunianya juga laki-laki muda yang kini menemani hari-harinya. Samudra tersenyum tipis pada bunda Bulan kemudian mencium tangan wanita itu sopan.
Bunda sama sekali tidak pernah melarang Bulan dekat dengan Samudra. Nalurinya sebagai seorang ibu tidak pernah mengatakan kalau Samudra bukan lelaki baik. Mendengar cerita dari anak sulungnya, mencaritahu perjuangan lelaki itu, dan mengetahui peliknya hidup Samudra membuat Bunda tahu kalau Samudra bukan orang jahat. Dirinya hanya masih kesulitan untuk mengolah emosi.
Sangat berbanding terbalik dengan reaksi ayah Bulan. Pria itu selalu menolak kehadiran Smaudra. Tidak pernah bersikap ramah sama sekali pada lelaki itu. Dengan penolakan yang masih saja diberikannya pada Samudra, namun Samudra tidak pernah menyerah. Selalu datang lagi dan lagi sampai dirinya benar-bebar bisa meyakinkah ayah Bulan seserius apa dirinya, dan sesayang apa ia pada Bulan.
"Duduk dulu, Nak," ucap Bunda mempersilahkan Samudra duduk di sofa krem di ruang tamu rumah itu.
Bulan memberi isyarat agar Samudra menunggu sejenak karena ia hendak mengambil minuman untuk lelaki itu. Sebenarnya Bulan bisa saja tinggal minta salah satu pekerja di rumahnya untuk membuatkan lelaki itu minum, namun entah mengapa ia ingin membuatkan sendiri minuman untuk Samudra.
Jantung Samudra berdegup kencang. Rasa dingin menjalar di tulang belakangnya. Membuat tubuhnya seketika menggigil. Tidak bisa dipungkiri ia merasa gugup dan ketakutan. Wajah piasnya membuat Bulan dapat merasakan segugup apa lelaki itu. Kalau saja ia menceritakan perasaannya pada Daffa, lelaki itu pasti tertawa dan meledek Samudra kalau dirinya tidak sedang melamar Bulan.
"Ngapain kamu ke sini lagi?" tanya Ayah ketika melihat sosok Samudra duduk di ruang tamu rumahnya.
"Yah, jangan gitu sama temannya Bulan," seru Bunda.
Samudra bangkit kemudian menyalami Abimayu dan mencium punggung tangan pria yang memasang wajah datar itu. Abimayu menatap tajam pada Samudra dan Bulan bergantian. Raut tidak suka terekam jelas di wajahnya.
"Kamu gak ngerti bahasa manusia atau bagaimana? Sudah berkali-kali saya bilang jangan dekati Bulan!"
"Yah!" seru Bunda karena merasa suaminya telah keterlaluan.
"Bulan, masuk!"
"Ayah beneran gak mau dengerin penjelasan Kak Sam?" tanya Bulan membuka suara. Itu adalah kali ketiga Samudra datang ke rumahnya dan mendapat penolakan dari Ayah padahal Samudra datang baik-baik ke rumah mereka. Pertama, ayah tidak memberinya izin untuk mengajak Bulan untuk menemaninya manggung, padahal Samudra sudah jelas-jelas mengatakan agar Bulan tidak berbohong pada ayahnya. Kedua, ayah juga tidak mau mendengar penjelasan Samudra tentang kesalah pahaman yang sempat terjadi antara Bulan dan Samudra.