Beraksi dari panggung ke panggung berasama The Orion, band yang dibentuknya beberapa tahun lalu dan kini sedang naik daun ternyata tidak bisa membuat seorang Samudra Alterio berhenti kesepian. Hidupnya masih terasa kosong meski ada ribuan penggemar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bulan melambaikan tangannya ketika netranya bertemu dengan Samudra yang juga membalas lambaian tangannya. Lelaki itu berdiri di seberang jalan mengenakan jaket kulit hitam dan baff berwarna navy. Motornya terparkir di sebelahnya dengan dua buah helm menggantung di spionnya.
"Udah lama?" tanya Bulan ketika gadis itu telah berhadapan dengan Samudra.
"Sepuluh menitan," sahut Samudra sambil memberikan helm pada Bulan.
Bulan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mau kemana?"
"Temenin aku latihan band dulu bentar ya, terus kita makan siang. Kalau janjian kaya waktu itu nanti takut ada kendala lagi."
Bulan dibuat speechless oleh jumlah kata yang berhasil Samudra loloskan. Lelaki itu tidak irit bicara lagi? Benarkah?
"Mood kamu lagi bagus ya hari ini?" tanya Bulan dengan nada sedikit bercanda.
"Ayo buruan naik!"
Dengan penuh semangat Bulan menurut. Menaiki motor Samudra dan duduk manis di belakang lelaki itu. Di sepanjang jalan Bulan tidak bisa diam. Ia mengomentari apa saja yang dilihatnya. Mulai dari banyaknya plat nomor kendaraan dari luar kota, tulisan-tulisan yang ia baca di jalan, sampai keluhannya tentang padatnya jalanan Ibu Kota.
"Aku baru pertama kali bolos dari kelas." Bulan bercerita sembari membenarkan posisi totebag-nya yang sedikit melorot.
"Pertama kali?" tanya Samudra.
"Iya Kak. Aku pertama kali nitip absen ke duo lemes itu dengan catatan aku harus ceritain ada apa di antara kita."
"Kamu gak cerita?"
Bulan menggeleng meski kemungkinan Samudra tidak melihatnya. "Saat mereka tanya aku bilangnya kamu ada hutang sama aku." Bulan terkekeh. "Sama Bunda pun aku gak cerita aku bilang kamu pacaran sama cicak."
Samudra tertawa ringan dibuatnya. Bulan memang suka asal bicara dan ia baru mengetahui fakta tersebut. "Berarti kamu cicak, dong? Kan kamu pacar aku."
Bulan dengan hati yang lemah kalau berurusan dengan Samudra dan spontanitas lelaki itu seketika dibuat terdiam. Pipinya menghangat dengan dada yang terasa mencelos.
"Pelan-palan, Kak. Jantungku udah jatuh ke perut," ujar Bulan membuat Samudra terkekeh.
"Aku kan gak ngebut."
"Bukan itu. Aku belum siap kamu bilang pacar aku sejelas itu."
Samudra menggelengkan kepalanya sembari memelankan laju kendaraannya karena lampu lalu lintas berubah merah. "Kamu kan emang pacar aku, Bul."
Bulan nyaris dibuat salah tingkah sebelum ia menyadari ada yang aneh dari panggilan itu. "Bul?" tanyanya.
"Iya, kan nama kamu Bulan."
"Gak mau dipanggil Bul. Gak enak banget kedengerannya."
"Tapi aku suka."
Bulan kembali mengajukan protes ketika Samudra kembali melajukan motornya namun lelaki itu tidak merespon sama sekali ocehan Bulan yang tidak mau diberi panggilan yang terdengar kurang enak di telinganya itu. Sepanjang jalan bahkan hingga tiba di studio, Bulan masih mengoceh dan Samudra tetap bersikeras ingin memanggilnya Bul. Katanya itu panggilan spesial darinya untuk Bulan agar membedakan dirinya dari orang lain.