Kali Pertama Menatap Wajahnya

1K 72 0
                                        

Pengendali Petir⚡️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Pengendali Petir⚡️

Nad, bantuin gue
Sekarang
Urgent!

Bulan menghela napas ketika Nadia tidak kunjung mengabarinya bahkan tidak membaca pesannya. Hari itu ia sedang meminta izin pada orang tuanya untuk pergi menonton konser yang tentunya sudah sangat jelas ditentang. Ditambah kakak lelakinya yang ikut berkoar di grup chat keluarga yang membuatnya makin terpojokkan dan tidak mungkin bisa mendapat izin.

"Bun, Bulan sama Nadia, loh. Masa masih gak boleh?"

"Yakin sama Nadia? Gak sama cowok?" sahut sang Ayah yang sedang sibuk berbalas pesan dengan Noah—anak sulungnya.

"Ayah pasti lagi chat sama Abang, kan? Dia pasti lagi nyuci otak Ayah." Bulan melipat tangannya di depan dada. Kesal sekali.

Suara bel rumah berbunyi, membuat tiga orang yang berkumpul itu mengalihkan pandangannya ke pintu. Senyum Nadia merekah ketika Ririn, salah satu pekerja di rumah itu membukakan pintu.

"Sore, Om, Tante," sapa Nadia sopan kemudian mencium tangan kedua orang tua sahabatnya itu.

Bulan menatap Nadia penuh harap membuat gadis itu tertawa geli di dalam hatinya. Sudah 19 tahun tapi masih saja susah mendapat izin. Kasihan Bulan.

"Om, Tante, Nad boleh ajak Bulan ke luar nggak? Nad gak ada temen buat ngonser. Janji, deh, bakal Nad jagain dengan baik."

Nadia adalah sahabat Bulan sejak bayi. Dulu, keluarga mereka bertetangga sebelum keluarga Bulan memilih pindah ke rumah baru mereka. Yang orang tua Bulan tahu, Nadia adalah gadis yang disiplin karena didikan ayahnya yang keras. Ayah Nadia merupakan seorang perwira TNI. Terkenal keras dalam mendidik anak-anaknya, termasuk si bungsu Nadia.

"Pulang jam berapa, Nad?" tanya Abimayu—ayah Bulan pada gadis berbaju biru itu.

"Acaranya selesai jam 10, Om. Paling telat kita pulang jam 11. Boleh, ya, Om," pinta Nadia dengan wajah memelas yang membuat Abimayu akhirnya luluh.

"Ya sudah. Jagain Bulan, ya, Nad. Kalau dia deket sama cowok, lapor Om, ya."

Lagi-lagi Nadia tertawa dalam hati. Ditambah melihat ekspresi Bulan yang tidak bisa dideskripsikan. Ia sungguh ingin sekali terbahak di depan wajah sahabatnya itu.

✨✨✨

"Sialan! Yang anak mereka itu gue atau lo, sih? Bisa-bisanya liat muka melas lo mereka langsung luluh sementara mulut gue sampe berbusa buat dengarin kalimat yaudah Lan kami izinin."

Cinta Pertama RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang