Luka

1.8K 186 22
                                        

"Nona Faye, apakah semua persiapan kalian sudah rampung?"

"Ya, Yang Mulia. Ice sudah mengecek persiapan kami sejak tadi subuh,"

Saat ini Faye, Yoko dan Sang Ratu sedang mengobrol di depan kapal Black Angel yang sedang berlabuh di bandara.

Sang Ratu bersama beberapa petinggi kerajaan ada di sana untuk menghantarkan kepergian Puteri Mahkota mereka.

"Bagaimana dengan obat-obatan? Apakah persediaan kalian cukup?" Tanya Sang Ratu lagi, dia tampak cukup cemas saat ini.

"Ibu, bukankah ibu sudah memberikan hampir semua isi gudang obat istana kemarin? Kenapa masih bertanya seperti itu?" Kali ini Yoko yang menjawab pertanyaan ibu nya.

"Aku hanya ingin perjalanan kalian berjalan dengan lancar, Nak,"

"Jangan khawatir ibu. Kali ini aku berlayar bersama Kapten terhebat di kerajaan kita, jadi aku akan baik-baik saja, kan?" Ujar Yoko meminta Faye untuk menyetujui nya. Sang Kapten hanya mengangguk karena menurutnya kata 'Kapten terhebat di kerajaan' itu terlalu berlebihan.

"Tentu saja aku tau itu. Tapi saat ini aku sedang berbicara kepada mu sebagai seorang ibu, Nak. Aku tidak akan pernah tidak mengkhawatirkan mu,"

"Iya, aku tau kok,"

Yoko menghambur ke dalam pelukan ibunya. Jujur saja, dia juga merasa berat untuk berpisah dengan wanita yang sudah membesarkan nya seorang diri ini.

Sang Ratu mendekap tubuh mungil puteri nya dengan erat. Di matanya, Yoko tetap terlihat seperti anak kecil yang masih perlu dibantu untuk berjalan. Entah sejak kapan, gadisnya itu sudah tumbuh sebesar sekarang ini. Waktu memang menakutkan.

"Baiklah, aku tidak akan menahan kalian lebih lama lagi," ucap Sang Ratu, melepaskan pelukan mereka.

"Kapten Faye, aku menitipkan Yoko kepada mu. Jaga dia baik-baik,"

"Jika dia kembali dengan luka sedikit saja. Aku pastikan kau akan mendapat balasan 2 kali lipatnya," ucap Sang Ratu dengan wajah serius.

Bulu kuduk Faye berdiri mendengar ancaman dari Sang Ratu. Bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata seperti itu dengan santai seperti ini?

"Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan menjaga Yoko dengan hidup saya," ucap Faye dengan tegas.

"Kalau begitu kami pamit dulu, Yang Mulia,"

Sang Ratu mengulurkan tangannya untuk dikecup bergantian oleh Faye dan Yoko. Setelah dua sejoli itu selesai memberi salam, mereka pun naik ke atas kapal. 

Faye sengaja memodifikasi tangga kapal agar lebih mudah dinaiki Yoko. Dia tidak mau gadis itu harus kerepotan menaiki tangga  tali yang biasa mereka gunakan, jadi dia menyuruh anak buahnya untuk membangun tangga lipat yang bisa dinaiki dengan lebih mudah.

"Angkat jangkar!" perintah Ice setelah tangga dinaikkan.

Yoko berlari ke bagian terdepan kapal dan melambai-lambaikan tangannya kepada ibunya. Tanpa sadar dia meneteskan air mata saat melihat bagiamana tubuh ibunya terlihat semakin kecil seiring dengan kapal yang semakin menjauhi garis pantai.

"Kau sedih?" 

Entah sejak kapan Faye berdiri di samping nya sambil menatap lurus ke arah pantai. Dia juga ikut melambaikan tangan kanan nya.

"Tidak, kok," jawab Yoko, segera menghapus jejak air matanya.

"Tidak apa-apa kalau bersedih. Tidak adil kan kalau kau menyuruhku untuk menunjukkan perasaan ku pada mu padahal kau sendiri tidak melakukannya,"

"..."

"Menangislah. Kalau kau malu karena aku ada di sini, aku akan pergi,"

Ketika Faye hendak beranjak dari tempatnya, dia bisa merasakan tangan Yoko menggenggamnya erat.

Black AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang