🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
(Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante Petterson...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • • Dante Petterson, heis the character of a man who is so possessive and cruel.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Note: Komentar yang baik2 ya, jika suka silahkan lanjut baca dengan bebas. Kalau tidak suka sama alur dan tokohnya kalian boleh skip tanpa harus berkata menyakitkan. Jika banyak typo atau salah pengetikan kata atau kalimat tandain saja. Kadang aku tidak sadar setelah nulis kata2 sampe 3000+ per Chapter. "KARENA MENULIS TIDAK SEMUDAH MEMBACA."
Vallen tidak bermaksud mengintip, tetapi celah pintu itu telanjur menyuguhkan pemandangan yang meremukkan dadanya, seorang perempuan tengah mencumbu Dante dengan begitu intim. Kedua matanya seketika terbelalak. Entah mengapa, jantungnya mendadak dihantam gelombang rasa sakit yang begitu memilukan. Sepasang tungkainya terasa lemas tak bertulang, sementara dadanya bergolak panas seolah ada api yang menjalar dan menghanguskan setiap saraf di otaknya.
Tanpa sadar, Vallen mengepalkan kedua tangan erat-erat, dia berusaha berjuang meredam amarah hebat yang kini tengah mematahkan hatinya berkeping-keping.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya dia bercumbu dengan pelacur itu tepat setelah dia meniduriku!" Vallen mendesis murka. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghempas pintu itu hingga terbuka lebar.
"Apa yang sedang kalian lakukan, Dante?!" Vallen melangkah maju. Sepasang kakinya gemetar hebat saat ia memasuki ruangan dengan kedua tangan bersedekap angkuh di dada, mencoba menutupi kerapuhannya.
Detik itu juga, Dante langsung mendorong tubuh Nataly yang tengah asyik menggerayutinya. "Pergilah, Nataly," Perintahnya dingin sambil mengelap saliva Nataly yang tertinggal di bibirnya.
"A-apa? Kita bahkan belum selesai, Dante." Nataly justru mendaratkan satu ciuman kilat di pipi Dante. Wanita itu sama sekali tidak memedulikan keberadaan Vallen yang kini berdiri kaku di dalam ruangan tersebut.