Continued from Chapter 30

2.9K 49 43
                                        

Sementara itu.

Vallen memijat kepalanya yang berdenyut nyeri sambil meringis.

Sshh aw__ Kepalaku rasanya ingin meledak! Bajingan itu!!Selangkanganku bahkan masih terasa begitu pedih sampai saat ini. Vallen berjalan pelan sembari mengikat kimono satin yang dia kenakan lalu menghampiri kucing milik Abigail dan menggendongnya di atas dada.

Kucing manis__ Have you eaten?" Vallen mengusap-ngusap kepala kucing berbulu hitam itu sembari berjalan ke arah kolam renang. "Kenapa kau manis sekali?" Vallen mencium gemas kucing itu.

Wanita itu menghela napas sebelum mengalihkan pandangannya ke arah ruangan yang malam ini Dante pakai untuk mengadakan pertemuan dengan para anggota mafianya. Dahinya pun mengernyit ketika dia melihat segerombolan perempuan muda dengan pakaian minim memasuki ruangan tersebut.

Mungkinkah mereka rekan-rekan bisnis Dante? Tapi kenapa, mereka terlihat seperti segerombolan wanita pelacur? Vallen membatin dan kembali memfokuskan tatapannya ke arah kolam renang sambil menimang-nimang kucing dalam gendongannya. Namun sialnya, Vallen sungguh tidak bisa untuk menyingkirkan rasa penasaran di dalam hatinya tentang siapa wanita-wanita yang masuk kedalam ruangan itu hingga kecurigaan itu terus datang dan menggelayuti perasannya kini.

Mata Vallen kini kembali terpaku ke arah ruangan tersebut kala dia melihat para pria-pria itu kini keluar dari dalam ruangan tersebut dengan menggandeng wanita-wanita muda yang belum lama ini dia lihat memasuki ruangan itu. Vallen langsung mengalihkan kembali pandangannya ke arah lain sembari mengusap-ngusap kucing dalam gendongannya saat beberapa pria yang hendak berjalan melewatinya menatap remeh ke arahnya.

"Selamat malam gadis kecil? kuharap kau tidak menunggu suamimu di dalam sana. Karena ku yakin dia tidak akan keluar dari dalam ruangan itu malam ini." Ucap Anthoniyo meremehkan sebelum dia berjalan kembali melewati Vallen.

Vallen mengangkat satu alisnya tidak mengerti.

Apa maksudnya? Vallen mengedikan bahunya tidak peduli.

Namun, rasa penasaran di dalam hatinya semakin terasa membuncah. Dan kepalanya terus memikirkan Dante yang masih berada di dalam ruangan tersebut. Vallen pun kembali menurunkan kucing di dalam gendongannya itu ke bawah. Wajah pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya menandakan jelas bahwa wanita itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Vallen lantas berjalan ke arah ruangan tersebut dengan kepalanya yang berdenyut-denyut sakit, wanita itu dapat melihat penjaga yang berdiri di depan ruang itu yang langsung menundukkan kepalanya kala dia datang berjalan menghampirinya.

"Ma'am." Pria yang berbadan seperti hulk itupun lantas langsung menghalangi Vallen yang hendak ingin membuka pintu. "Kau tidak bisa masuk, ma'am."

Vallen menjilat bibirnya yang terlihat pucat tanpa mengalihkan pandangannya pada pintu yang tertutup itu. "Aku hanya__" Vallen harus cepat memutar otaknya seribu kali lebih cepat untuk berpikir alasan apa yang tepat untuk membuat pria itu pergi dari depan pintu itu. "Aku hanya ingin meminta tolong padamu. Bisakah kau memanggilkan Abigail di atas untukku? Katakan padanya aku menunggunya di kamarku. Aku sedang tidak enak badan dan membutuhkan seseorang menemaniku."

Pria itu terdiam dan menatap curiga kepada Vallen. "Yasudah, kalau kau tidak mau menuruti perintah dariku, aku bisa saja melaporkanmu nanti kepada Dante." Ujar Vallen sembari melihat kuku-kuku tangan kanannya dengan melipat tangan kirinya di atas perut.

Pria itu terdiam dan menggaruk kepalanya sesaat untuk berpikir. Karena tidak ingin mendapatkan konsekuensi buruk dari seorang Dante, akhirnya dia pun mengangguk dan menuruti perintah dari Vallen.

OBSESSEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang