Setelah berhasil melewati area lantai bawah yang terasa sangat sesak, bising, dan dipenuhi oleh pekatnya bau asap rokok serta alkohol, aku baru bisa menarik napas lega. Ketegangan sedikit mengendur ketika Dante menyeret paksa diriku untuk naik ke lantai tiga. Kami kini melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan luas berdinding kaca tebal. Ruangan itu tenggelam dalam nuansa interior yang serba gelap, dan hanya diterangi oleh beberapa pijaran lampu temaram nan dingin.
Dante masih enggan melepaskan cengkeramannya. Ia terus melingkarkan kedua tangan kekarnya pada pinggangku secara protektif. Dan lantas menenggelamkan wajah rupawannya tepat pada tulang selangkaku dengan gerakan posesif. Gesturnya seolah sedang menandai kepemilikan mutlak atas tubuhku di depan mata semua orang yang ada di sana.
Kedua mataku bergerak menyapu setiap sudut ruangan yang baru kami masuki saat ini. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatanku adalah deretan minuman beralkohol mahal. Botol-botol itu terpajang sangat rapi di dalam sebuah lemari kaca besar, lengkap dengan barisan gelas kristal yang berkilau dingin seperti taring tajam di kegelapan.
Uniknya, dari dalam ruangan ini aku bisa melihat dengan sangat jelas ke arah luar—tepatnya ke arah lantai dansa klub malam yang teramat luas di bagian tengah bawah.
Dari titik ini, aku bisa menyaksikan para pengunjung klub yang tengah berjoget liar.
Mereka tenggelam sepenuhnya dalam dentuman musik keras garapan disc jockey yang menggema hebat, hingga rasanya sanggup merobek gendang telingaku.
Tidak hanya sampai di situ. Aku juga dipaksa melihat pemandangan wanita-wanita berpakaian minim—atau lebih tepatnya, mereka nyaris telanjang bulat—sedang meliuk-liuk erotis di dalam sebuah kerangka besi vertikal. Mereka menari tanpa rasa malu sedikit pun di hadapan puluhan pasang mata pria lapar.
Sementara itu, lembaran uang-uang dolar dilemparkan begitu saja ke arah tubuh mereka. Pemandangan itu persis seperti uang sedekah yang sengaja dilempar untuk menebus sebuah dosa kelam mereka.
Di sudut ruangan lain yang lebih redup, beberapa pengunjung tampak hanya duduk diam membisu. Mereka datang sekadar menenggak alkohol dalam senyap, menatap kosong ke depan sembari membiarkan musik keras merasuki urat nadi mereka.
"Kenapa kau nekat membawaku ke tempat laknat seperti ini, Dante?" Tanyaku ketus.
Pria kelabu itu tidak hanya berhasil membuat batin serta mentalku merasa gelisah setengah mati. Dante juga sukses membuatku semakin muak dengan segala sikap posesifnya yang mencekik. Padahal, sudah sangat jelas jika statusku di sini hanyalah seorang tawanan baginya.
Aku melirik sekilas ketika Dante perlahan melepaskan belenggu tangannya dari pinggangku. Ia lantas melangkah lebar berjalan ke arah meja besar di tengah ruangan ini.
"Mulai detik ini, kau harus ikut denganku. Ke mana pun aku melangkah pergi, kau akan ada di sampingku," Ujarnya dengan nada bariton yang mutlak.
"Untuk apa? Apa hal itu benar-benar perlu dilakukan?"
Dante menoleh perlahan ke arahku, lalu terkekeh pelan. Sebelum aku sempat memprotes lagi, tangan kekarnya bergerak merogoh dan mengeluarkan sebilah pistol, pisau lipat taktis, serta beberapa butir peluru cadangan yang selalu ia sembunyikan di balik saku celana atau jaket kulitnya. Ia pun meletakkan benda-benda mematikan itu di atas meja kaca dengan bunyi benturan pelan yang seketika membuat jantungku mencelos ketakutan.
"Hm... aku tahu tempatmu yang sebenarnya bukan di sini, Vallen. Dan aku tahu kau bahkan belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di tempat kotor seperti ini, bukan? Tapi sekarang kau adalah milikku, dan kau sedang bersamaku. Jadi, kau dipaksa harus terbiasa dengan tempat-tempat gelap seperti ini, Princessa."
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romansa🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
