Chapter 6

4.9K 109 0
                                        

Setelah melewati lantai bawah yang sesak dan juga ramai, aku menarik napas lega ketika Dante membawaku ke lantai tiga lalu masuk ke dalam sebuah ruangan berdinding kaca yang memiliki nuansa gelap dan hanya bermodalkan beberapa lampu sorot saja di dalamnya. Kini Dante, pria itu terus melingkarkan kedua tangannya pada pinggangku sambil menyerukan wajahnya pada tulang selangka ini.

Kedua mataku menyapu pada setiap sisi ruangan yang kami masuki saat ini, hal pertama yang ku lihat adalah banyaknya berbagai macam minuman beralkohol terpajang rapih di dalam sebuah lemari kaca besar dan lengkap beserta dengan berbagai macam gelas-gelas kristal yang  tersimpan di dalam rak lemari kaca besar tersebut.

Di dalam ruangan ini aku dapat  melihat kearah luar, tepatnya, ke arah lantai dansa klub ini dengan ukuran cukup besar di bagian tengahnya hingga aku dapat melihat jelas pengunjung klub yang saat ini tengah berjoget atau berdansa menikmati alunan musik disc jockey yang menggema memenuhi seisi klub malam ini dibawah sana. Tidak hanya itu, aku juga dapat melihat wanita-wanita berpakaian sangat minim atau bahkan bisa di bilang nyaris telanjang itu kini tengah berjoget erotis di dalam sebuah kerangke besi dan meliuk-liukan tubuh telanjangnya tanpa rasa malu di hadapan banyak pengunjung yang menari-nari sembari menyawerkan uang-uang mereka ke arah penari erotis tersebut. Namun ada juga pengunjung  yang hanya sekedar duduk sambil menikmati beberapa minuman alkohol sambil menikmati alunan musik yang menggema.

"Kenapa kau membawaku kemari?" Pria itu tidak hanya membuatku gelisah. Tetapi Dante juga  membuat diriku semakin tidak mengerti oleh sikap posesif yang selalu dia berikan terhadapku, yang notabennya aku adalah seorang wanita tawanan baginya.

Aku melirik sekilas ke arah pria itu ketika Dante melepaskan tangannya dari pinggangku lalu berjalan ke arah meja yang berada di dalam ruangan ini. "Mulai sekarang kau akan ikut denganku, kemanapun aku pergi."

"Untuk apa? Apa itu perlu?" Dante menoleh ke arahku, lalu terkekeh pelan sebelum mengeluarkan pistolnya, pisau lipat dan juga peluru cadangan yang selalu dia sembunyikan di balik saku celana atau saku jaketnya lalu menaruhnya di atas meja.

"Hm_ aku tahu tempatmu bukan di sini. Dan aku tahu kau bahkan belum pernah menginjakan kedua kakimu di tempat seperti ini bukan? Tetapi sekarang kau milikku dan kau telah bersamaku, jadi kau harus terbiasa dengan tempat-tempat seperti ini, Princessa."

"Tapi aku bukan siapa-siapamu Dante, I'm fed up with you."

Dante menarik napas panjang, dan menghentikan aktifitasnya yang tengah menuangkan alkohol kedalam gelas kristal di tangannya.

"Kenapa kau terlihat begitu kesal, Princessa? sebentar lagi para pamanku akan segera datang. Ku minta kau ubah ekspresi wajahmu bila di hadapan mereka, apa kau mendengar ucapanku?" Dante melanjutkan kembali tangannya yang tengah menuangkan alkohol itu lalu menenggaknya.

"Don." Eldatan membuka pintu ruangan. "Mereka sudah tiba."

Dante mengangguk.

Lalu setelah itu masuklah Evan dan juga pria yang baru ku lihat kini  berjalan masuk kedalam ruangan dan duduk di atas sofa di dalam ruangan ini. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain dan bergerak tidak nyaman ketika mereka semua terus menatapku dengan tatapan mereka yang seolah seperti tengah meremehkan diriku.

Sial! Dan kenapa Dante harus memaksaku untuk ikut bersamanya ke tempat seperti ini? Bahkan sebelumnya, tidak pernah terpikirkan olehku sekalipun jika aku akan berada di sebuah klub malam seperti ini dan di kelilingi oleh para penjahat seperti mereka semua.

"Vallen!" Dante memanggilku untuk datang kepadanya dengan menepuk kedua tangannya di atas paha. Tetapi aku hanya diam membatu karena tidak mengerti apa maksud dari pria itu lalu menghela napas dalam ketika lagi-lagi Dante memanggilku.

OBSESSEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang