'Vallen POV'
Sepanjang perjalanan menuju landasan pacu jet pribadi yang akan membawa kami kembali ke Amerika Serikat, kepalaku rasanya mau pecah. Denyut nyeri di pelipis kian menyiksa setiap kali mendengar ocehan Nate yang seolah tidak memiliki tombol berhenti. Bocah itu terus melontarkan pertanyaan yang sama berulang kali sejak mobil ini melaju.
"Mommy, where are we going?"
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memijat dahi demi meredam pening yang kian menjadi-jadi. Nate benar-benar tidak berhenti bicara sejak kami meninggalkan kediaman Nenek Zofia. Semua hal acak yang melintas di kepala kecilnya mendadak berubah menjadi rentetan pertanyaan tanpa jeda.
"Mommy, kenapa Kakek dan Nenek tidak ikut bersama kita? Kapan kita pulang ke rumah? Aku lapar sekali. Tadi Nenek berjanji akan membuatkan kentang tumbuk saus jamur untukku. Nenek juga berjanji membuat panekuk saus madu untukku dan Kakek. Tapi karena Daddy datang, aku tidak jadi memakan semuanya." Nate melingkarkan lengan kecilnya ke leherku. Netra kelabunya menatap wajahku lekat-lekat, menuntut jawaban.
"Nate, astaga... kau bisa memakannya nanti setelah kita sampai. Sekarang cobalah tidur dan tahan laparmu sebentar."
"Tapi kapan kita pulang ke rumah kita, Mom? Aku merindukan Nenek, terutama Kakek. Kapan kita kembali? Aku juga belum memberi makan Selly dan anak-anaknya. Mereka pasti kelaparan."
"Nate, ada Kakek dan Nenek di sana. Mereka tidak akan membiarkan kucing dan anjingmu itu kelaparan. Kakek pasti akan memberi mereka makan."
"Iya, tapi kapan kita pulang ke rumah?"
Aku menelan ludah yang mendadak terasa getir. Sudut mataku melirik ragu ke arah Dante yang duduk di samping kami. Lidahku kelu. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Nate bahwa kami tidak akan pernah kembali ke rumah itu lagi. Selamanya. Meratapi kenyataan itu membuatku sadar bahwa aku bahkan melupakan anjing kesayangan Nate.
Sialan! Semua ini gara-gara Dante!
Di tengah keheningan di dalam mobil, Dante akhirnya membuang napas berat. Pria itu membuka suara, memecah kecanggungan di antara kami.
"Hei... little boy," Panggil Dante. Nadanya terdengar begitu canggung dan ragu di telingaku.
Nate menolehkan wajah polosnya, membalas tatapan intens pria yang kini tengah mengamatinya dengan saksama.
"Kemarilah," Ucap Dante sembari menepuk pelan pahanya.
"Baru berniat menyapanya setelah sekian lama memilih bungkam?" Sindirku tajam tanpa sudi menoleh ke arahnya.
Dari sudut mata, aku bisa menangkap senyum tipis yang terukir di bibir Dante sebelum dia menyahut, "Aku hanya..." Dante membasahi bibir bawahnya sekilas. "Aku hanya tidak tahu bagaimana cara menyapa anak-anak. Dia anakku juga, bukan? Jadi biarkan dia duduk bersamaku sekarang. Kemarilah, Boy." Kalimat itu seketika memicu debar abnormal di dadaku. Jantungku berpacu cepat saat melihat Nate bergeser dari pangkuanku, berpindah tanpa ragu ke atas pangkuan Dante.
Skenario yang tak pernah berani kuimpikan kini nyata di depan mata. Benarkah pria tak berhati seperti Dante bisa bersikap selembut ini pada anak kecil? Bisakah bajingan egois ini bertransformasi menjadi ayah yang baik untuk Nate kelak?
Entahlah. Yang pasti, pemandangan itu membuat pertahananku runtuh. Kerongkonganku tercekat dan sepasang mataku mendadak berkaca-kaca dipenuhi letup haru yang membuncah. Karena pada akhirnya, Nate bisa merasakan kehangatan dari sang ayah biologisnya.
Aku buru-buru menyeka sudut mataku yang basah seraya menghela napas panjang, berusaha menyembunyikan getar emosi. Telapak tanganku mendadak dingin dan gemetar saat menyaksikan Dante menatap Nate dengan binar yang begitu dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
