Chapter 42

1.4K 47 1
                                        

Dante Petterson

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dante Petterson

"Oke, baby... Sebelum kau pergi_ berikan aku ciuman manismu terlebih dahulu." Vallen lantas menyodorkan pipi kanannya di depan bibir Nate.

Bocah kecil itu pun menangkup pipi Vallen dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya yang lain kini berada di belakang punggungnya sambil menyembunyikan sesuatu yang dia pegang dari sang ibu. Bocah itu pun langsung mendaratkan sebuah ciuman manisnya pada pipi ibunya tersebut kemudian memberikan bunga yang telah dia petik dan dia sembunyikan di belakang punggung kecilnya kini pada Vallen sambil tersipu malu. "Selamat ulang tahun, mommy. Aku memetik bunga ini untukmu."

"Ouh... Nate, kau manis sekali, baby." Vallen pun tersenyum lebar dengan kedua mata mengkilat oleh air mata kemudian mengambil bunga yang Nate berikan padanya lalu menciumnya. "Thank you, baby."

"Yes... mommy." Nate tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang putih dan rapih. "Mommy, you cry?"

Vallen tersenyum sambil menahan isakannya. "You're tired?" Tanya Nate sambil mengusap air mata di pipi ibunya. "I'ts okay... you good mama. That's okay we fix later."

Vallen semakin terisak pelan dan menundukan kepalanya. Namun Nate mengangkat kembali wajah ibunya tersebut dengan menangkup kedua pipi wanita itu sambil kembali berkata. "I love you... you don't cry." Suara Nate terdengar begitu lembut dan tulus di pendengaran Vallen.

Vallen mencoba tersenyum lagi dalam isakannya sambil memperbaiki posisi topi rajut yang Nate pakai dan kembali mencium pipi serta bibir bocah itu. "Yes baby... I love you too, aku tidak akan menangis lagi. Baiklah kau bisa pergi sekarang, Nate."

"Hmm... aku pergi dulu, mom."

Vallen tersenyum mengangguk. Wanita itu lagi-lagi mengulas senyumnya ketika Nate kembali menangkup kedua pipinya dan mendaratkan sebuah ciuman manis di pipinya sebelum bocah itu benar-benar pergi.

"Hati-hati, nak." Wanita itu berteriak sambil menatapi Nate yang kini pergi berlari untuk menghampiri kakek dan nenek yang sudah menunggunya di luar sana.

Setelah kepergian mereka, kini Vallen pun menaruh bunga yang Nate berikan padanya ke dalam vas bunga yang sebelumnya sudah dia isi dengan air lalu meletakannya di dalam kamar mereka. Wanita itu lantas keluar dari dalam kamar dan berjalan ke dalam gudang penyimpanan makanan mereka dan mengambil beberapa kentang dan daun seledri serta acar kubis untuk dia masak sebagai bekal untuk dia bawa selama dia berdagang di pasar.

Tanpa terasa kini waktu sudah menunjukan waktu pukul sembilan pagi, Namun hingga saat ini Vallen belum juga selesai dengan pekerjaannya. Dan setelah beberapa menit berlalu... bekal untuk dia makan siang nanti kini telah siap. Wanita itu lantas mngehela napas lelah sembari melepaskan epron yang dia kenakan. Dia pun buru-buru berjalan ke dalam kamar mandi sembari melepaskan ikatan rambutnya untuk dia gerai.

OBSESSEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang