Chapter 10

7.7K 124 13
                                        

Vallen Pov

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Vallen Pov

Note: Komentar yang baik2 ya, jika suka silahkan lanjut baca dengan bebas. Kalau tidak suka sama alur dan tokohnya kalian boleh skip tanpa harus berkata menyakitkan. Jika banyak typo atau salah pengetikan kata atau kalimat tandain saja. Kadang aku tidak sadar setelah nulis kata2 sampe 3000+ per Chapter.
"KARENA MENULIS TIDAK SEMUDAH MEMBACA."








Aku membencimu, Dante Petterson.

Kalimat kutukan itu seolah-olah sudah mendarah daging—terpatri sangat kuat di dalam otak dan juga lubuk hatiku yang terdalam.

Setiap hari yang kulewati di tempat ini, rasa kehilangan yang teramat besar seolah tidak pernah berhenti menggerogoti jiwaku secara pelan-pelan.

Kini tidak akan ada lagi sosok hangat seorang ibu di sisiku. Tidak akan ada lagi sosok ayah yang mendekapku penuh kasih sayang. Tidak ada akan ada lagi adik perempuan kecil yang cerewet dan selalu bersikap menyebalkan.

Dante Petterson. Dialah orangnya. Dialah bajingan sialan yang telah tega membantai dan membunuh mereka semua.

Aku benar-benar sudah sangat muak.

Setiap hari, sisa hidupku hanya habis untuk berdiam diri di dalam kamar suram ini. Aku dipaksa menuruti setiap jengkal perintah mutlaknya persis seperti sesosok boneka bodoh yang tidak memiliki kehendak bebas atas tubuhnya sendiri.

Kadang-kadang, rasanya mungkin akan jauh lebih baik jika aku segera mengakhiri hidupku sendiri saat ini juga, daripada aku harus terus-menerus terjebak kaku di dalam kubangan keterpurukan yang menyiksa ini.

Hampa. Hanya kehampaan pekat itu yang kini tersisa di dalam dadaku.

Satu-satunya hal yang paling kuinginkan di dunia sekarang hanyalah aku bisa kembali bertemu dengan Madre, Padre, dan juga Pellin. Kalau saja aku memiliki kekuatan magis untuk memutar kembali jarum waktu, apakah seluruh jalannya kehidupan kami akan baik-baik saja? Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bisa merasakan kembali dekapan pelukan hangat yang menenangkan dari Madre?

Namun, kenyataan sesungguhnya menamparku dengan kejam. Aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Waktu tidak akan pernah sudi berjalan mundur lagi. Dan mereka semua tidak akan pernah bisa kembali pulang ke pelukanku.

Rasanya sudah hampir gila. Jiwaku sakit parah, dan kondisi mentalku sudah hancur lebur tak berbentuk. Aku sungguh tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin logikaku bisa dengan mudah melupakan semua memori manis nan indah yang tercipta bersama dengan keluargaku dulu?

Brengsek! Seharusnya di usia sekarang, aku bisa hidup bebas layaknya gadis remaja normal lainnya—penuh dengan impian besar, sibuk dengan tumpukan pelajaran sekolah, dan fokus mengejar nilai tertinggi demi bisa menembus kampus impianku. Bukan malah terjebak mengenaskan di tempat terkutuk ini, menjadi wanita sandera dari seorang pria gila berdarah dingin seperti Dante.

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang