🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vallen Pov
Aku membencimu, Dante! kata-kata itu bahkan seolah telah terpatri sempurna di dalam otak dan juga hatiku. Bahkan kegelisahan karena terus memikirkan kematian keluargaku semakin menggerogoti hatiku di setiap harinya.
There is no more warm mother figure, no more loving father figure and no more annoying younger sibling figure.
He had killed them, he was a fucking bastard.
Aku muak karena setiap harinya aku hanya menghabiskan waktuku untuk berdiam diri dengan menuruti segala perintah yang Dante ucapkan layaknya seorang wanita idiot.
Rasa-rasanya aku ingin sekali membunuh diriku sendiri untuk segala keterpurukan yang saat ini aku alami.
Hampa, hanya itulah yang aku rasakan setiap harinya dan satu-satunya hal yang aku inginkan saat ini hanyalah, aku bisa kembali bertemu dengan madre, padre dan juga adikku Pellin. Jika aku dapat memutar waktu apakah semuanya akan baik-baik saja seperti dulu? Apakah aku masih dapat merasakan kembali pelukan hangat dari madre saat ini? Tapi sayang, aku tidak bisa__ aku tidak bisa untuk memutar waktu dan mengembalikan hidup mereka lagi untuk kembali bersamaku.
Mungkin bisa di katakan, jika saat ini aku hampir gila, jiwaku sakit, mentalku berantakan. Aku tidak baik-baik saja. Dan bagaimana bisa aku bisa melupakan semua memori bahagiaku bersama keluargaku?
Brengsek! seharusnya saat ini aku sedang merasakan fase dimana aku kini menjadi sosok gadis remaja yang bahagia dan di penuhi oleh impian-impian indah, seorang gadis yang hanya akan memikirkan masalah pelajaran dan meraih nilai tertinggi dengan menjadi mahasiswi berprestasi di universitas impianku.
Tidak! aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Aku tidak ingin lagi Dante terus mengendalikan hidupku. Sudah cukup! dia memperlakukan diriku seperti boneka hidup seperti kemarin. Kali ini aku harus mencari cara untuk keluar dan pergi dari rumah terkutuk ini. Aku bahkan sudah tidak peduli jika pada akhirnya nyawaku sendirilah yang akan menjadi taruhannya ketika aku beelari nanti.
Setelah penuh pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kamar sembari membawa sebuah vas bunga berbahan keramik yang ku sembunyikan di balik punggungku. Mungkin aku sudah gila karena memang sebenarnya ide untuk kabur seperti ini sangatlah beresiko bagi diriku.
Ya Tuhan lindungi aku, aku bahkan tidak berhenti merapalkan kata-kata itu ketika aku ingin membuka tuas pintu kamar ini penuh ragu.
Sialan? jantungku bahkan seperti melesat jatuh ketika melangkahkan kedua kakiku untuk berjalan ke arah luar kamar ini. Dan seperti yang sudah ku duga bahwa ada seorang penjaga yang kini berdiri di depan pintu kamar ini.
"Ada apa, nona?"
Pria bertubuh kekar penuh tato di lehernya itu melihatku, aku mencoba menyambutnya dengan berpura-pura tersenyum kepada pria berbadan seperti hulk itu lalu berkata. "Aku haus, bisakah kau mengambilkanku satu kaleng soda dingin?"