🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
(Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante Petterson...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dante Petterson mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan gelisah di atas permukaan meja kaca yang dingin di hadapannya.
Saat ini, pria itu masih tertahan di Kolombia. Tepatnya, ia sedang mendekam di salah satu rumah aman milik outfit peninggalan mendiang ayahnya. Atmosfer di dalam ruangan itu terasa sunyi dan pekat.
"Di mana Eldatan? Kenapa dia belum juga menyerahkan berkas yang kuminta?" Tanya Dante, suaranya berat menahan sabar.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Dante?" Evan balik bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau justru mempersulit pekerjaan yang sebenarnya sangat mudah, hm?" Evan sedikit mendengus kasar. Pria itu terlihat seperti ingin sekali merenggut kerah kemeja Dante, seandainya saja pria di depannya ini bukan seorang Don tertinggi di dalam outfit mereka.
"Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat, Evan," Jawab Dante tenang. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu melemparkan tatapan datar pada Evan.
Dante baru saja hendak menyalakan sebatang rokok, namun ia mengurungkan niatnya. Saat kndra pendengarannya menangkap suara ketukan pintu yang seketika mengalihkan perhatiannya.
Eldatan masuk ke dalam ruangan. Pria itu datang membawa sebuah map di tangan kanannya. Langkah kakinya bergerak cepat dengan napas yang sedikit tertahan, membawa informasi krusial yang sudah lama dinantikan.
"Don, semua informasi yang Anda minta telah tertulis lengkap di dalam map ini," Ujar Eldatan patuh. Ia segera menyerahkan map tersebut ke atas meja di hadapan Dante.
Dante terlebih dahulu menyalakan rokoknya, membiarkan kabut asap pekat menguar sebelum akhirnya ia membuka map pemberian Eldatan. Matanya meneliti baris demi baris tulisan di sana.
"Vallen Cooper... jadi namanya adalah Vallen Cooper?" Gumam Dante.
Ekspresi wajah Dante seketika berubah menjadi sangat serius. Sebuah seringai sinis yang menyeramkan terukir di sudut bibirnya, sembari sepasang matanya meneliti setiap catatan biodata tentang anak gadis dari Profesor Gabrielle itu.
"Benarkah dia baru saja lulus dari sekolah menengah atas?" Tanya Dante tanpa mengalihkan pandangan. Ia kemudian menutup berkas di hadapannya dengan sentakan pelan.
"Informasi itu akurat, Don. Profesor Gabrielle mempunyai dua anak perempuan. Vallen Cooper adalah putri sulung dari pria tua itu. Dan dia baru menginjak umur sembilan belas tahun saat ini," Jelas Eldatan tegas.
"Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, Dante?" Evan berdecih sinis. Ia meraih gelas wiski di hadapannya, lalu menenggaknya hingga tandas dalam sekali tegukan. Pria itu benar-benar didera rasa penasaran dengan apa yang baru saja ia dengar dan saksikan. Ia tidak mengerti mengapa Dante justru sibuk mengurusi putri dari profesor itu, alih-alih langsung menghabisi ayahnya yang jelas-jelas sudah berkhianat pada outfit.
"Kupikir kau sudah tahu dengan sangat jelas, Evan, mengenai apa yang akan kulakukan saat ini," Dante tersenyum tipis, menatap Evan dengan kilat mata yang kejam. "Bukannya kehilangan seorang putri kesayangan jauh lebih menyakitkan, daripada rasa sakit fisik ketika seseorang sedang meregang nyawa, hm?"