🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dante mengetuk-ngetukan jari jemarinya di atas permukaan meja kaca yang berada di hadapannya, saat ini pria itu masih berada di Kolombia di salah satu rumah milk outfit peninggalan ayahnya. "Dimana Eldatan? Kenapa dia belum juga menyerahkan berkas yang ku minta?"
"Sebenarnya ada apa denganmu?" Evan bertanya kepada Dante, dengan menaikan satu alisnya.
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat, Evan." Dante menegakan duduknya dan kembali menatap Evan.
"Kenapa kau mempersulit pekerjaan yang sebenarnya mudah, Dante?" Evan mendengkus, pria itu seperti ingin menarik kerah kemeja Dante seandainya saja dia bukan Donoutfitnya.
Dante mengurungkan niatnya yang ingin membakar rokok, ketika mendengar suara ketukan pintu yang mengalihkan pandangannya saat ini. Eldatan, pria itu datang dengan sebuah map di tangan kanannya.
"Don, semua informasi telah tertulis didalam map ini." Eldatan segera menyerahkan map yang dia bawa kepada Dante.
Dante menyalakan rokoknya sebelum membuka map yang Eldatan serahkan kepadanya. "Vallen Cooper__ Jadi namanya adalah Vallen Cooper?" Gumamnya, Ekspresi wajah Dante kini berubah serius dengan seringaian di bibirnya sembari meneliti setiap catatan biodata tentang anak gadis dari professor Gabrielle itu.
"Apa dia baru lulus sekolah menengah atas?" Dante menutup berkas yang berada di hadapannya.
"Kau benar, Don. Professor Gabrielle mempunyai dua anak perempuan, Vallen Cooper adalah putri sulung dari pria itu, dan dia berumur sembilan belas tahun saat ini."
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan, Dante? " Evan menenggak wiski yang berada di hadapannya itu dengan sekali tenggak, pria itu di buat penasaran dengan apa yang dia dengar dan saksikan saat ini, kenapa Dante justru megurusi putri dari professor itu dari pada mengurusi ayahnya yang jelas-jelas sudah berkhianat pada outfit.
"Kupikir jika kau tahu dengan jelas Evan apa yang akan aku lakukan saat ini." Dante tersenyum sembari melihat Evan. "Bukannya kehilangan seorang putri jauh lebih menyakitkan dari pada sakit ketika ingin meregang nyawa?" Dante berdiri bangkit dari duduknya, pria itu lalu berjalan kearah jendela kaca yang berada di ruangan itu.
"Apa kau benar-benar yakin ingin melakukannya?" Dante berbalik dan kembali menatap wajah Evan.
Dante mengangguk.
" Tentu saja. Kita bersiap__ satu jam lagi kita akan segera berangkat." Dante menggulung lengan kemejanya, sebelum pria itu meraih sebuah pistol yang berada di dalam laci mejanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.