🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
(Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante Petterson...
Song : Nicholas Bonnin x Angelicca Shut Up And Listen
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'Vallen Pov'
Madre... Padre... Beristirahatlah dengan tenang di sana. Semoga nanti kita akan berjumpa kembali dalam kehidupan yang lebih baik di alam sana.
Aku menarik napas dalam-dalam, dan berusaha keras menahan tangis serta pilu yang masih saja belum mau pergi.
Bagaimana caranya mengusir perasaan sedih yang begitu mendalam ini? Ketika rasa kehilangan terus menghujam diriku sekarang?
Aku menoleh dan menatap Christopher. Di sisi lain, aku tetap bersyukur karena lagi-lagi Christopher membantuku menemukan letak makam keluargaku. Meskipun tidak bisa dipungkiri, luka mendalam atas kehilangan mereka masih sangat membekas di lubuk hati dan jiwaku. Namun semuanya telah terjadi, dan roda kehidupan harus tetap berputar dan berjalan sebagaimana mestinya.
Walau sering kali rasa putus asa itu datang. Terutama ketika aku merasa jika kebahagiaan tidak kunjung datang menghampiriku. Tapi aku sadar, bersedih berkepanjangan tidak baik untuk kesehatan mentalku. Karena itu, aku harus benar-benar memahami arti roda kehidupan. Dan mensyukuri setiap rahmat serta nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku saat ini.
Kini, aku dan Christopher berada di Kolombia.
Setelah kejadian pembunuhan yang menimpa Jules di kampus tempatku berkuliah, Christopher benar-benar melarangku pergi ke kampus atau ke tempat lain seorang diri sampai situasi kembali aman. Pria itu benar-benar menjagaku, hingga ia memutuskan mengambil cuti beberapa hari ke depan demi menjagaku dan menemaniku pergi ke makam keluargaku di Kolombia.
"Kau baik-baik saja?" Suara Christopher terdengar bergetar, seolah ia juga menahan isak. Aku menoleh padanya dan saat itu juga aku tidak bisa lagi menahan air mataku agar tidak membasahi kedua pipiku.
"Chris." Ia melingkarkan tangan kirinya yang kekar di bahuku, lalu menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya. "I miss them, Chris."
"I know... Aku harap kau bisa lebih kuat dari sebelumnya. Aku yakin mereka di sana juga sangat merindukanmu," Ujar Christopher dengan nada pelan. Aku lalu mendongak menatapnya dan berusaha tersenyum tipis di balik isak tangisku.
"Chris... Apakah kau tahu siapa yang membunuh Jules?" Tanyaku, tetapi Christopher hanya diam. Ia menatapku lama sambil menghela napas panjang.
"Apakah itu perbuatan Dante?" Tanganku gemetar, kedua mataku masih menatap wajah pria yang berdiri di sampingku. "Apa mungkin ia tahu tentang pil penggugur itu? Tentang kehamilanku? Dante yang membunuhnya, bukan?" Aku mengulangi pertanyaanku.
Christopher mengusap pipiku dengan tangannya sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Tepatnya, orang suruhan bajingan itu yang membunuh Jules" Jawab Christopher dengan nada pelan dan lelah.