Dante Petterson melumat sisa puntung rokoknya ke atas asbak hingga padam total. Tangannya bergerak taktis memeriksa sisa peluru pada selongsong pistol miliknya satu per satu dengan teliti.
Gesturnya terlihat tenang, seolah kini ia sedang menghitung jumlah nyawa manusia yang siap kapan saja ia cabut. Setelah selesai, Dante menaruh kembali senjata api itu ke dalam laci meja, lalu menguncinya dengan kode rahasia.
"Aku akan memberi tahu gadis itu jika waktunya sudah tepat, Evan," Ujar Dante dingin.
Evan Escobar menggelengkan kepalanya kasar, ia benar-benar tak habis pikir dengan keputusan Dante. "Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu, Dante. Profesor Gabrielle dan agen federal Ted Bundy bahkan sudah mati. Lalu untuk apa kau masih menawan gadis kecil itu di tempat ini?"
Dante mendengus kasar. Ia mengambil gelas kristal berisi wiski di atas meja di hadapannya, lalu menenggaknya hingga tandas dalam sekali hentakan. Cairan keras itu membasahi tenggorokannya dengan rasa panas, persis seperti bensin yang sengaja ia siramkan tepat pada kobaran api amarahnya.
"Ini adalah rumahku." Sepasang mata kelabu milik Dante menatap sekilas ke arah sang consigliere yang tengah menimbang-nimbang gelas alkoholnya. Sebuah tatapan penuh peringatan dingin yang mematikan. "Gadis itu adalah urusan pribadiku, bukan urusanmu, Evan. Terlebih jika mengingat apa yang telah dilakukan oleh ayahnya terhadap organisasi outfit kita—nekat menjadikan dirinya mata-mata para agen FBI hanya demi menjebloskanku ke dalam penjara."
Dante terkekeh pelan, suara tawanya terdengar kering dan mengerikan. "Aku tidak akan pernah membiarkan wanita itu lepas begitu saja dari genggamanku, Evan. Tidak akan pernah terjadi."
"Tapi kenapa kau justru membawanya masuk ke dalam mansion ini? Kenapa bukan diseret ke ruang penjara, seperti yang selalu kita lakukan pada para tawanan atau musuh besar kita, Dante?" Cecar Evan tak puas.
Kedua mata kelabu Dante kembali melayangkan tatapan tajam sekilas ke arah consigliere-nya itu. Sorot mata itu sudah cukup untuk membuat Evan Escobar menyesal karena telah berani menggertak dan memperingatkan sang Don. Hingga atmosfer udara di dalam ruangan tersebut seketika mengental, terasa sangat berat oleh ancaman fisik yang meremang.
"Benar apa yang dikatakan oleh anakku, Nak," Aryan Escobar yang sedari tadi memilih diam akhirnya membuka suara.
Ia juga tak habis pikir kepada Dante yang telah membawa anak dari seorang pengkhianat outfit masuk ke dalam mansion utama keluarga Petterson. Dante bahkan meletakkan gadis itu di salah satu kamar utama mansion mewah tersebut tanpa meminta persetujuan para anggotanya terlebih dahulu.
Aryan Escobar adalah mantan consigliere dari mendiang Pablo Petterson yang kini telah terlebih dahulu meninggal dunia. Saat ini, tugas besarnya sebagai consigliere telah diganti alihkan oleh putra tunggalnya, Evan Escobar.
Aryan Escobar dan Pablo Petterson. Dua nama besar yang dulu pernah menggetarkan seluruh penjuru Amerika Serikat. Nama mereka bahkan telah tercatat masuk ke dalam daftar majalah FORBES sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia kejahatan lintas negara. Kelicikan rapi merekalah yang membuat mereka selalu berhasil melarikan diri dari penjara paling aman sekalipun.
Dan kini, seluruh warisan dinasti berdarah itu jatuh ke tangan keturunan mereka. Dante Petterson dan Evan Escobar. Dua pria muda yang kini memegang kendali penuh atas peredaran obat-obatan terlarang dan jaringan kejahatan lintas negara. Mereka berdua yang bertanggung jawab penuh atas semua kasus pembunuhan, semua pembantaian, dan semua kehancuran yang mereka lakukan demi mempertahankan kerajaan darah mereka hingga hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romansa🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
