🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SONG: CHRISTINA AGUILERA- HURT
Kira-kira seperti inilah gaun yang di kenakan oleh Vallen Cooper😁
Kalian bisa votechapter yang sangat panjang ini. Maaf tuk typo.
Setelah sampai di pesta koktail yang Miguel selenggarakan di salah satu villa miliknya, Dante dan Vallen kini mereka berjalan memasuki Villa besar itu dengan Dante yang terus menggenggam posesif tangan Vallen. "Princessa, jangan pernah berpikir untuk kabur dan melarikan diri dariku. Kau dengar?" Sekilas Dante menolehkan pandangannya pada Vallen yang hanya memutar kedua bola matanya jengkel saat dia mendengar pernyataan penuh ancaman dari Dante padanya beberapa detik lalu.
Dengan melangkah sedikit tertatih karena sepatu hak tinggi yang dia kenakan, Vallen terus melangkah mengikuti Dante yang kini berjalan ke arah meja dimana para rekan bisnisnya kini berkumpul.
"Dante... My brother__" Sapa Miguel Dengan nada suaranya yang menyenangkan dan ramah. "Is she your wife?"
Dante hanya tersenyum sebelum dia menyapa rekan-rekannya yang lain tanpa melepaskan genggaman tangannya dari jemari Vallen. Vallen lantas mengangkat satu tangannya yang bebas saat beberapa rekan Dante ingin menjabat tangannya untuk berkenalan dengannya sambil tersenyum tipis.
"Siapa namamu wanita cantik?"
Vallen menolehkan pandangannya sebentar pada Dante yang kini memasang wajah datar padanya sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan pria tersebut.
"Vallen."
"Yeah kau terlihat masih sangat muda."
"You can continue your conversation, Miguel." Kata Dante.
"Oke aku akan melanjutkan pembicaraan kita yang sempat terpotong tadi." Miguel menyesap koktailnya dan kembali berbicara tentang bisnis-bisnis mereka yang sebenarnya Vallen tidak mengerti sama sekali tentang apa itu.
"Bolehkah aku mengambil minuman itu?" Vallen berbisik pelan pada Dante.
Dante menolehkan pandangannya pada meja berisi berbagai minuman beralkohol tinggi di tengah ruangan pesta tersebut seperti anggur, campagne, cocktails dengan garnish yang menarik dan minuman non-alkohol seperti moctail segar yang di kombinasi dengan buah segar, sirup dan air kelapa, serta infusedwaterelegan yang di perkaya dengan irisan lemon dan daun mint yang menyegarkan.
"Hm... hanya non-alkohol, kau mengerti?"
Dante pun meraih minuman dari seorang pelayan yang membawa nampan berisi sampanye ke arahnya dan membenturkan minumannya tersebut bersama dengan para rekannya kemudian menyesapnya perlahan.